
"Bolehkah aku duduk disini," tidak mendapat Jawaban dari teman satu sekolahnya, Hana langsung mendaratkan bokong di kursi taman yang berada di belakang sekolah. Gadis berkacamata itu pun menoleh, melihat Hana sekilah. Wajah cantiknya, telihat sendu. Hana bisa menebak jika kondisi gadis itu dalam keadaan yang tidak baik. "Ambilah.. " Hana menyodorkan sapu tangan miliknya.
Gadis itu menatap Hana sedikit meragu, dia mengetahui siapa sosok yang duduk disampingnya. Hana Pastone gadis bermata coklat adalah gadis terpopuler di sekolah. "Ambilah, ini perintah!" ketus Hana namun nampak tulus. Tidak terlihat dibuat-buat.
"Thanks," singkatnya membuat Hana tersenyum samar, lalu mengangguk cepat. Gadis berambut pirang itu melepas kaca matanya, lalu mengusap pipi menggunakan sapu tangan milik Hana.
"Kau terlihat tidak baik, apa ada masalah?" tanya Hana memecah keheningan. Gadis itu kembali menatap Hana, lalu detik berikutnya ia tertunduk. "Aku dicampakkan kekasihku, dia menjadikan aku kekasihnya hanya karena sebuah taruhan."
Hana mendesis, geram. "Oh astaga, siapa kekasihmu itu?"
"Aland," singkatnya. "Aland Asher." Hana membuka mulutnya. Ternyata pelakunya, teman sekelasnya yang kerap menggodanya. "Dasar pria sok kegantengan! awas saja." Ancaman Hana bukan sekedar ancaman, keesokan harinya pria bernama Aland itu masuk ke rumah sakit karena alergi udang, dan itu hasil perbuatan Hana. Hana memberikan bekal makan siang berbahan udang itu kepada Aland.
Hana menatap tidak bersahabat ke arah sosok yang berdiri di depannya yang baru saja sampai di kediamannya. Gadis berkacamata yang pernah ia tolong.
"Bagaimana keadaanmu, Hana?"
"Aku baik-baik saja Lvy," jawab Hana dengan ekspresi datar.
"Ah syukurlah, aku begitu mengkhawatirkanmu." Lvy duduk di sisi Hana, dan memeluk sahabat kecilnya dari samping.
"Bagaimana denganmu, Clara? apakah kau juga mengkhawatirkanku?" tanya Hana, bibirnya bergetar, dengan tatapan tajam namum tersirat kekecewaan. Lvy melepaskan pelukan menatap kedua sahabatnya secara bergantian.
"Te-tentu, aku mengkhawatirkanmu Hana." Jawab Clara terbata-bata.
"Haha," Hana tertawa sumbang. "Benarkah?? lalu kemana dirimu saat dipesta semalam?" tanya Hana lagi, mengintimidasi. Terlihat guratan halus diwajahnya, rahang Hana pun ikut mengerat.
"Setelah dari lantai dansa, a-aku mencarimu Hana. Aku ingin menghubungimu, namun ponselku kehabisan daya." Kilahnya, tidak membuat seorang Hana percaya. Ayden sudah menceritakan semua tadi pagi.
"Oh astaga," geram Hana. Ia sudah benar-benar muak menatap Clara.
"Sebenarnya, ada apa Hana?" Lvy membuka suara, ia masih tidak mengerti dengan apa yang terjadi sebenarnya. Lagipula, Hana tidak biasanya bersikap dingin seperti ini selama ia mengenalnya.
"Semalam aku hampir saja di lecehkan." Hana terdiam sesaat, mengamati perubahan expresi wajah Clara. "Pria itu bernama Arthur Jashon. Apakah Athur Jashon adalah sepupu mu, Clara? jawab aku??" Clara hanya bergeming membalas tatapan Hana.
Diamnya Clara, semakin membuat Hana geram. "Kenapa kau tidak menjawab pertanyaanku?" Hana menelisik wajah sahabatnya itu lalu ia berdiri. Begitupun Lvy, gadis itu berdiri disamping Hana
"Kau tau pria itu melakukan apa? dia memasukan obat perangsaang ke dalam minumanku, dan minuman itu membuat ku bertingkah seperti gadis jalaang. Aku kehilangan kewarasanku, aku bertingkah menjijikan mencium pria itu, bahkan--- aku hampir saja melucuti pakaian ku sediri."
"Beruntung kekasihku datang tepat waktu, jika tidak..." Hana meneteskan air mata, lalu dengan cepat ia menyekanya. "Jika dia tidak datang atau pun terlambat, aku tidak tau nasibku seperti apa." Lirih Hana kemudian.
"Cloud ku yang telah menyelamatkan ku," ucap Hana menegaskan jika Cloud adalah miliknya. "Ia menghajar pria brengsek itu, hingga babak belur." Hana tertawa getir. "Dia sangat hebat, bukan?" tanya Hana membungkam bibir Clara lagi, gadis itupun tertunduk.
"Kenapa kau hanya terdiam, Clara? kau cemburu? kau tidak suka aku diperlakukan istimewa??"
Lvy tersentak, mendengar kalimat Hana. Clara terlibat...
Clara mengepal kedua tangan disisi tubuhnya, lalu ia membalas tatapan Hana. "Iya aku cemburu!! aku cemburu pada hidupmu yang sempurna Hana!! kau mempunyai kehidupan yang bahagia dengan keluarga yang utuh,dan sangat menyanyangimu. Lalu--- lalu kau berhasil merebut hati Cloud, pria yang aku sukai."
Hana tersenyum pilu, meskipun ia sudah mengetahui semua dari Ayden jika Clara terlibat atas insiden yang ia alami semalam karena Clara menyukai kekasihnya, pengakuan Clara barusan membuat Hana tersentak lagi. Ia masih tidak habis pikir kenapa Clara melakukan hal hinaa kepadanya karena seorang pria.
"Selama ini aku sudah berusaha membuang jauh perasaanku untuk Cloud! namun--- namun semua itu tidak berhasil karena kau kerap menceritakan tentangnya kepadaku!"
"Pernahkah kau memikirkan perasaanku Hana? heh... " Kata Clara seraya memegang tubuhnya, ia pun membuang napas dengan kasar. "Pasti kau tidak bisa, benarkan? kau hanya memikirkan kebahagiaan untuk dirimu sendiri!!" tuding Clara membuat Hana terluka. Sungguh ia tidak mengetahui jika Clara menyukai Cloud.
"Kau sahabat yang egois Hana, dan kau yang telah membuatku seperti ini! kau adalah penyebabnya!"
PLAK!! satu tamparan mengenai pipi kanan Clara, sontak membuat Hana membulatkan matanya, lalu ia manatap Lvy kemudian. Lvy terlihat marah, dan tubuh gadis itu menegang bahkan rahangnya mengetat.
"Tutup mulut sebelum aku menjambak rambutmu, dan menyeret mu keluar!!" bentak Lvy, ia tidak menerima atas tudingan Clara tentang Hana.
Clara tertunduk meringis kesakitan seraya memegang pipinya yang terasa perih, panas, dan memerah.
"Kau fikir dengan kau melakukan hal hinaa seperti itu, Cloud akan menyukaimu? hah!!" Clara meluruskan pandangannya, menatap Lvy dengan tatapan nanar. "Jawaban tidak akan pernah!! bahkan untuk menoleh ke arahmu, ku rasa dia juga enggan!"
Lvy menghembuskan napas pelan untuk meredakan emosinya. "Bersikaplah sebagai gadis baik-baik, Clara. Jangan menjadi gadis yang mengerikan. Terlebih kepada seseorang yang telah banyak membantumu disaat kau mengalami kesulitan." Clara menundukan wajahnya, ucapan Lvy menyentil hatinya. Yang dikatakan gadis itu benar, Hana sudah banyak membantunya.
Lvy mengusap air mata Hana yang tidak berhenti mengalir, lalu ia merangkul pundak sahabat kecilnya. "Sebaiknya kita ke kamarmu Hana, kau terlihat sangat buruk." ucapnya untuk menghibur Hana, seraya melangkah. Mereka pun meninggalkan Clara.
Clara hanya tertuduk, tidak bergerak."Maafkan aku Hana, aku menyesal," bisik Clara lirih.
Tarik napas.. hembuskan... Tarik napas... hembuskan. 😅 Awas ngelepes. Bagaimana part kali ini? udah menguras semosi??Sok tinggalkan jejak koment kalian ya.. Micxuuui ❤