
Aku bonusin bab lagi buat kalian 😏 pemanis di malam minggu. Jangan lupa komentarnya ya..
Tererengkyu..
...****************...
Nick apa kau bersama Ayden? jika iya... Katakan padanya, Alana bersamaku. Datanglah ke Renaissance Atlanta Waverly Hotel no kamar 120.
Nick membaca pesan dari Paula yang baru saja masuk. "Berbalik arah kawan, kita ke Renaissance Atlanta Waverly Hotel."
Ayden yang duduk di belakang kemudi, mengernyit keningnya. "Apa?? jangan katakan kau memintaku untuk mengantarmu menemui teman kencan mu. "
"Kau asal menuduh, " responnya tidak terima dengan ucapan sahabatnya. Ia memang sering berkencan, tapi di situasi genting seperti ini, ia tidak memikirkan berkencan. "Alana mu berada disana."
"Really?? kau tidak berbohong kan Nick? " tanya Ayden tetap fokus pada kemudinya.
"Jika aku berbohong, potong saja gajiku. " Ungkap kekesalan kepada sahabatnya itu beruntung Ayden sosok sahabat dan atasan yang sangat baik jika tidak sudah ia layangkan tinjunya di wajah Ayden.
Ayden memutar arah, ia menaikan sedikit kecepatannya menuju hotel, tempat Alana menginap.
Tibalah ia, dan Nick di hotel berbintang lima, saat ini mereka sudah di depan kamar sambil menunggu Paula membuka pintu. Akhirnya pintu pun terbuka.
"Hai Ayden, hai Nick! " sapa Paula dengan tampilannya sudah rapi. Ia harus meninggalkan hotel membiarkan sepasang kekasih menyelesaikan masalah. Dan ia tidak ingin menjadi obat nyamuk disana. Cukup otor somplak yang suka gentayang, karena nasib hubungan asmara Alana dengan Ayden, berada di kedua jempolnya.
"Hai Paula, " sapa balik mereka bersamaan. "Kau ingin pergi kemana? " tanya Nick mendahului niat Ayden yang hendak menanyakan hal serupa.
"Entahlah Nick, setidaknya aku harus keluar dari sini, dan tidak ingin menjadi penganggu. " tuturnya, melirik Ayden yang terkekeh.
"Ah kebetulan aku menganggur, bagaimana kita jalan bersama Paula. Mungkin ke Georgia Aquarium, pilihan yang tepat. "
"Cemerlang, sebaiknya kita jalan sekarang Nick. Sepertinya ada yang tidak sabar untuk menemui kekasihnya. "
"Oke, " singkatnya seraya menyikukan tangannya. Paula yang cepat tanggap, langsung memeluk tangan kokoh Nick seraya tersenyum.
"Selsaikan semua dude, " Nick menepuk pundak sahabatnya itu. "Dan semoga berhasil. "
Ayden tersenyum tipis. "Thanks, Paula... Kau sudah mau memberitahu keberadaannya. "
"Yeah, semangat berjuang untuk membujuknya. Sahabatku sedikit keras kepala. " Ayden terkekeh lagi, ia membenarkan ucapan Paula.
"Sekarang masuklah, ia masih berada di dalam toilet. "
Ayden pun mengangguk, ia masuk ke dalam setelah ia menyaksikan Paula dan Nick berlalu. Ia menghela napasnya, merasa lega dan tenang. Di tutupi pintu kamar, ia melewati ruang kecil menuju ruangan lain yang terdapat tempat tidur dan toilet berada di sudut ruangan tersebut.
Garis miring terukir di bibirnya. Ayden menaiki tempat tidur, lalu merebahkan tubuhnya, seraya menarik selimut tebal untuk menutupi tubuh tingginya terbungkus hampir sempurna. Hanya ada celah sedikit untuk dia bernapas, dan mengintip. Eh....
"Astaga, dia tidur lagi. " Alana menatap tempat tidur, yang difikirnya Paula yang berada disana. Ia pun kembali membuka kopernya, mengambil pakaian lain karena pakaian yang di bawanya tadi terjatuh dan basah.
Alana membelakangi tempat tidur, ia melepas tali badrobe yang tersimpul, dan begitu saja baju terbuat dari handuk itu terlepas dari tubuhnya menyisakan segitiga berenda berwarna hitam yang melekat di bagian bawah tubuhnya membuat seseorang yang berada di dalam selimut membulatkan matanya, udara yang masuk dari cela tidak bisa membuat ia bernapas justru semakin ia kehilangan napas, dan bagian dari bawah perutnya merespon cepat.
Ayden ingin memejamkan matanya, untuk tidak mengintip. Tapi nasi sudah jadi bubur, ia sudah liat maka ia melanjutkan mengintip kekasihnya itu yang sedang memakai kaos santai bergambar teddy bear.
Alana menyemprotkan sedikit parfum di bagian lehernya. Wangi parfum yang disukai Ayden, mendadak wajahnya murung mengingat pria itu. Biasanya pada siang hari, pria itu akan menghubunginya dan memintanya untuk menemani makan siang. Kali ini, tidak... Ia membiarkan ponselnya mati sejak tadi untuk menghindari Ayden.
Ia mengakhiri lamunannya, dan menunaikan niatnya. Matanya sudah terlalu lelah, ia ingin tidur.
Dibalik selimut Ayden masih memperhatikan gerak gerik Alana. Alana mengambil posisi di samping, kini ke duanya saling membelakangi.
Kedua mata Alana mengerjap, lambat laun terpejam. Dirasanya ada tangan yang memeluk pinggannya, dan ia menghidu wangi parfum yang sangat dikenali. Alana membuka mata, di liriknya lengan bertato yang berada diatas tubuhnya. Apakah ini mimpi? gumam dalam hati.
Ayden bisa menebak jika Alana belum tidur, ia pun semakin mengeratkan pelukannya. "Kenapa kau tidak mendengar penjelasanku, dan pergi begitu saja, hmm? "
Alana tidak menjawab, tubuhnya membeku ketika jemari Ayden bermain di area gunungnya dari luar pakaiannya, meremas perlahan. "Aku berani bersumpah, aku tidak melakukannya Alana. Tidak sama sekali. Dia hanya masa lalu ku, dan tidak ada perasaan yang tersisa untuknya. "
Alana menelan salivanya. "Lalu kenapa dia bisa berada di apartemenmu? " akhirnya Alana membuka suaranya.
"Dia meminta resepsionis untuk membuka pintu unitku. Aku mempunyai buktinya. " Ayden mengeluarkan ponsel dan memberikan kepada Alana. Menunjukkan vidio CCTV yang terletak di lorong persis di depan unitnya. Alana mengamati vidio tersebut, Pukul sebelas. Selisih lima menit dengan kedatangannya tadi. Dan wanita resepsionis yang berada di vidio sempat selisih jalan dengannya.
Alana memutar tubuhnya, hingga kedua mata mereka saling bertemu. "Lalu bagaimana kau mendapatkan noda lipstik di lehermu? "
"Dia yang melakukannya setelah ia melihat mu di luar dari lubang pintu, sayang. Dia mencium leherku saat ku tidur, dan merubah penampilannya. "
Ah ia mengingat setelah menekankan bel, wanita itu tidak langsung membukanya.
"Ketika , dia mencium lehermu, apa kau tidak terusik Ayden?"
Ayden menggeleng kepala. " Tidak Alana, hanya sentuhan darimu yang membuat ku terusik. " Bisik Ayden, seraya tersenyum sangat lembut.
"Lalu, ruam merah di lehernya? " telisik Alana menunggu jawaban. Ayden membuka akun sosmednya, menunjukkan story Laurent bersama seorang pria tengah bercumbyu di bar yang diambil wanita itu semalam.
Kini Alana benar-benar bisa bernafas dengan benar.
"Sekarang bagaimana, kau percaya padaku? "
"Hum... " gumam Alana seraya memegang kedua telinganya. "Maafkan aku telah salah paham padamu Ayden. Harusnya aku mendengarkanmu, dan mencari bukti lain. Bukan meninggalkanmu. "
"Tidak apa sayang, " Ayden mencium singkat bibir Alana kemudian ia mengeluarkan cincin dari saku kemejanya. "Kemarikan tanganmu, " Alana mengulurkan tangannya. "Jangan sampai kau melaspaskannya lagi. Jika sampai itu terjadi, aku akan membawamu ke gereja lalu menikahimu. " Ancaman yang menarik, justru Alana menunggu moment itu terjadi.
"Aku akan melepaskannya sekarang kalau begitu. "
"Oh sayang... Kau sangat menggemaskan. Kau sungguh tidak sabar untuk menghabiskan waktu bersamaku?"
"Iya sayang.... "
Sayang, hei Alana baru saja memanggilnya dengan sebutan sayang. Ini sebuah kejutan. "Coba kau ulangi lagi. "
Alana mengulum bibirnya. "Iya sayang, sungguh aku tidak sabar ingin menghabiskan hari-hari bersamu." Alana membawa tangannya, menahan sisi wajah Ayden dan memulai menciuum, dan memanguut bibir seksi dari kekasihnya.
"Aku sangat mencintaimu Ayden. "
"Aku juga Alana, aku juga sangat mencintaimu. " Kembali bibir mereka bertemu, bergumul dengan mesrah menciptakan suara lengguhan, dan cecapan yang bersautan.
Keduanya pun larut dalam euforia, menuangkan cinta dari setiap pergerakan bibir mereka. Tanpa sadar, Alana sudah berada diatas tubuh kokoh Ayden. Masih saling merasai kelembutan dari tekstur bibir.
Alana membuka matanya, tersentak. Ia ingin beranjak, namun lengan kokoh Ayden menahan pinggangnya. "Biarkan seperti ini Alana, " bisik Ayden parau nyaris tidak terdengar. Tatapannya sayu sukses mengusik sekujur tubuh Alana.
"A-apakah kau sudah makan? "
"Belum sayang... "
"Bagaimana jika aku memesan makanan? kau ingin makan apa? "
"Aku mau memakan dirimu, Alana. "
Selanjutnya ngarang dewe ya.. Karena aku ga sanggup menghalu keuwuaan mereka. Tak bonusin visual AyLa (Ayden Alana) biar halu kalian semakin syahdu. 😏