Reckless

Reckless
MELIBATKAN ALBERT



Mariana menempati ruangan Albert, menunggu teman kampusnya itu setelah membuat janji bertemu di kantor milik pria itu.


Albert yang meminta Mariana untuk menunggunya di dalam ruangannya, jika Mariana sudah sampai lebih dulu darinya.


Mariana merebahkan kepalanya di sandaran sofa lalu memijit pelipisnya untuk meredakan rasa sakit di bagian kepalanya dengan mata terpejam. Setelah terbongkarnya perselingkuhan, dan kejahatan yang telah dilakukan Chalk membuat Mariana kesulitan untuk tidur. Jiwanya sangat tertekan.


"Mariana... " hingga suara barinton milik Albert terdengar, mengharuskan ia membuka matanya.


Albert pun masuk dengan hembusan napas yang kasar. Tiga puluh menit yang lalu, ia menerima panggilan dari Mariana. Wanita itu mengatakan ada hal penting yang ingin dibicarakan kepadanya. Albert langsung bergegas untuk kembali ke tempatnya bekerja setelah makan siang bersama kliennya. Beruntung lokasi pertemuannya tidak jauh dari kantornya.


Mariana pun menoleh ke sumber suara itu. "Cepat sekali kau kembali Albert. Apa masalah klienmu sudah selesai? "


Albert tersenyum melenggang masuk ke dalam ruangannya setelah menutup pintu. "Masalah yang dihadapi klienku sudah selesai dari beberpa hari yang lalu, Mariana. Dia hanya menjamu ku, dengan mengajakku makan siang bersama. " Jawabnya seraya menggapai telepon di atas meja kerjanya. "Kau ingin minum apa Mari? "


"Apa saja Albert asal jangan dicampurkan dengan sianida. " Albert terkekeh mendengar gurauan Mariana.


"Tolong bawakan dua gelas lemon tea ke ruangan ku. " Perintah Albert begitu sambungannya di terima oleh staffnya. "Tanpa sianida, oke. " lanjutnya seraya melirik temannya itu, ia tersenyum.


Mariana turut tertawa kali ini, namun tawanya tidak bisa menutupi kekacauan pada dirinya atau mengurangi kesedihannya.


Albert menatap Mariana dari posisinya sebentar sebelum Ia mendekati dan duduk di samping Mariana.


Hembusan napas Mariana terdengar berat, ia membuka tasnya, dan mengeluarkan hasil DNA milik Jessy.


Albert menatap Mariana, dengan tatapan tanda tanya setelah melihat amplop yang dikeluarkan Mariana dari dalam tas dan memberikan kepadanya. Apakah Mariana sakit. Itulah pertanyaan yang terbesit dalam fikirannya.


"Banyak hal yang ingin aku ceritakan padamu Al," suara Mariana terdengar sendu, tatapannya nampak nanar. "Ini mengenai Chalk lagi, " bertepatan itu Mariana tertunduk. Ia menelan salivanya dengan susah payah, dan mengusap air matanya yang tiba-tiba saja bergulir. Hanya menyebut nama Chalk membuat ia mengingat apa yang dilakukan pria itu di belakangnya, sehingga membuat dadaanya terasa sesak, dan terhimpit.


Albert merasa mengiba. Diraihnya tangan Mariana yang bergetar, ia menggenggam sekedar memberi ketenangan. Lalu, ia mengusap perlahan punggung tangan Mariana.


Kembali Mariana memfokuskan pada tujuannya, ia tidak ingin berlalut dengan kesedihan, ia harus berusaha tegar. Ada hal yang lebih penting, yang harus ia lakukan selain perasaanya.


"Ceritakan apa masalahmu, Mariana? aku akan mendengarkannya. " Albert membenarkan posisinya, ia bersiap untuk menjadi pendengar yang baik untuk temannya itu.


Mariana membuka suaranya lagi, ia menceritakan sebuah fakta baru tentang Chalk, tentang Eilaria, dan tentang siapa Jessy. Mariana juga menceritakan keterlibatan Aisley.


Albert tercengang mendengarkannya. Ia murka dengan apa yang dilakukan Chalk, sudah mengkhianati temannya, lalu sekarang fakta terbarunya pria itu pernah melecehkan seseorang, dan dari hasil perbuatan hinanya, dia mendapatkan seorang putri yang tidak dapat pengakuan.


"Berengsek!!" umpat Albert untuk suami dari temannya itu. Ia mengepalkan satu tangannya. Mengeram kesal. "Dia benar-benar keterlaluan, Mariana."


"Ya, kau benar Al. "Lirih Mariana menundukkan kepalanya lagi yang semakin terasa sakit.


"Dengarkan aku baik-baik" Albert menjeda ucapannya, ia menghembuskan napas dengan pelan.


Mariana kembali menengadahkan wajahnya, membalas tatapan Albert. "Kau harus bisa mencari jalan keluar untuk hidup dan kebahagiaan mu, Mariana. Perbuatan Chalk sudah melewati batas. Kau fikirkan, dan ambil keputusan sebaik mungkin."


Mariana setuju dengan ucapan Albert. Ia tidak bisa lagi mempertahankan hubungannya bersama Chalk. Ia harus mengakhiri semua.


"Al-- Mau kah kau menolongku untuk menangani kasus yang dialami Eilaria? " tanya Mariana kemudian. Albert sosok yang ia harapkan untuk membantunya dalam menangani kasus yang dialami Eilaria. Terlebih, Emily istri Albert bekerja di National Organization for Woman. Hanya dengan cara melaporkan ke pihak perlindungan wanita, kasus Eilaria bisa di usut. Chalk, dan juga Aisley harus bertanggungjawab atas perbuatan mereka.


"Tentu aku akan membantu mu menangani kasus ini, Mariana. " Jawab pria itu langsung, tanpa berfikir panjang. Untuknya, keadilan harus diperjuangkan. "Apakah Petter sudah mengetahuinya? "


"Aku belum bisa menceritakan apa yang terjadi kepadanya, Al. Terlebih, putraku kerap bertikai dengan Chalk. "


"Kau sungguh sudah siap dengan apa yang akan terjadi kedepannya, Mariana? ini bukan hanya nama baikmu saja, tapi kondisi putramu. " Tanya pria itu lagi untuk memastikan.


Maria mengangguk. "Tentu Al... Aku benar-benar siap. " Jawab Mariana, yakin. Ia sudah memikirkan semua dengan baik.


"Nanti malam, aku akan membicarakan kepada Emily, dan mencari bukti lain untuk memberatkan dua pria brengsek itu. "


"Terimakasih Al.... Tolong tangani kasus ini sampai selesai. " Mohonnya, dan ucapan Albert membuat Mariana tenang. Ia tidak berjuang sendirian, ada Albert yang mendukung, dan membantunya.


Suara dering ponsel Mariana pun terdengar, ia melihat layar ponselnya menyala. "Sebentar Al, pengacaraku menghubungi ku. " Mariana mengambil ponselnya di atas nakas, lalu bangun seraya mengangkat panggilan tersebut.


"Anda sudah menyelesaikan semua? Baiklah, aku akan mengunjungi kantormu esok hari. "


Mariana tersenyum samar. Baru saja pengacara itu memberi kabar jika saham miliknya sudah berpindah tangan atas nama putranya, dan sebagian lagi sahammya, ia berikan kepada Jessy. Niatnya sudah ia tuntaskan. Tinggal menunggu kasus Eilaria terungkap.


Mariana kembali menepati tempatnya tadi, dan melanjutkan perbincangan bersama Albert yang tadi tertunda.


"Kau sangat hebat Mariana, kau bisa melewati semuanya dengan baik. " puji Albert memberi semangat. Mariana berusaha kuat menghadapi masalah besar dalam hidupnya, dia berjuang sangat keras. Dan harapan Albert, kelak temannya itu bisa merasakan kebahagiaan.


Lantas apakah harapan Albert akan di wujudkan otor yang keseringan somplak?? stay stune ya.... 😏 jangan lupa komentnya...