
"Tunggulah disini, sweety. Ada hal yang aku harus kerjakan. Kau tidak keberatan jika aku tinggal sebentar?" tanya Chalk saat ia dan Mariana sudah berada di dalam ballroom.
"Pergilah, aku akan menunggumu disini Chalk." Jawab Mariana seraya tersenyum simpul.
Chalk mengusap tangan Marina perlahan, dan melepas genggamannya. "Aku akan segera kembali." pamit Chalk. Pria itu terburu-buru untuk menemui Cloud yang sudah berada di ruang bawah tanah. Sebelum ia berangkat menuju hotelnya, Chalk menghubungi Ace untuk datang membawakan Charlie yang akan diberikan kepada Cloud.
Sepeninggalnya Chalk, Mariana berjalan. Ia melihat masih ada beberapa pekerja masih sibuk menata meja, dan juga kursi. Sebagian meja-meja sudah ditutupi dengan linen berwarna biru tua, dengan cutlery set diatasnya. Bahkan, disisi kanan dan kiri terdapat meja persegi panjang yang sudah diletakkan beragam jenis cake, buah-buahan dan juga aneka minuman.
Chalk, ya dia begitu pandai mengatur segala hal dengan sebaik mungkin untuk menjamu tamu undangan, tepatnya rekan bisnisnya. Kenyamanan tamunya menjadi prioritas untuk seorang Chalk Palker.
Mariana masih menarik langkah, mengedarkan tatapan keseluruhan ruangan bernuansa klasik yang di dominasi warna gading. Tidak ada yang berubah sejak bangunan hotel ini dibangun. 25 tahun lalu, bangunan kokoh yang berdiri dengan 20 lantai resmi pada hari pernikahan mereka. Mariana mengingat kembali ke masa lalunya. Ballroom yang di pijaknya kini adalah tempat dimana Chalk membuat pesta pernikahan mereka dengan konsep yang Mariana inginkan. Moment bahagia, namun ingatan itu telah membuat Mariana terluka. Ia tersenyum getir dengan air mata yang menggenang di kedua pelupuk mata, siap untuk tumpah.
Mariana pun mempercepat langkah kakinya ke bilik ballroom untuk menyindiri. Ia tidak menyadari jika ada sosok pria memperhatikannya sejak tadi, dan mengikuti langkahnya. Roland.
Roland berhenti di ambang pintu, ia memperhatikan punggung Mariana yang bergerak narik turun. "Apa yang telah terjadi?" Instingnya begitu kuat. Ia merasakan ada sebuah masalah besar yang dihadapi Mariana.
Roland memberanikan diri, membawa kakinya untuk mendekati Mariana. Istri dari atasannya itu.
"Mariana... "
Mendengar suara khas Roland, Mariana menyeka air matanya. Ia berbalik, matanya bersirobok dengan netra milik Roland. "Roland." Mariana tersenyum samar, menyembunyikan perasaannya.
"Apakah kau baik-baik saja?" tanya Roland merasa khawatir.
"Ya aku baik-baik saja, Roland. " Mariana menundukkan kepalanya. Tidak ingin berlama-lama menatap sosok pria yang pernah menjadi kekasihnya.
"Kau tidak bisa berbohong kepadaku, Mariana."
Mariana membenarkan ucapan Roland. Ia tidak bisa menyembunyikan sesuatu apapun dari Roland. Roland sangat mengerti dirinya.
Mariana membuang napasnya perlahan, kemudian ia mengangkat kepala. Lagi, manik mereka bertemu.
"Kau bisa menyembunyikan sesuatu dari orang lain, tapi tidak dengan ku." Lanjut Roland.
Mariana tersenyum samar. "Kau tidak perlu mengkhawatirkan ku Roland. Kau urusi saja hidupmu, dan carilah kebahagiaanmu."
Roland tertunduk sesaat, dan kembali menatap manik indah Mariana. "Kemana lagi aku harus mencari kebahagiaanku, disaat perasaanku masih sama untukmu, Mariana?" Roland membuang napasnya yang memberat. "Aku belum bisa melupakanmu," jujurnya. " Ini terdengar menggelikan, bukan? tapi faktanya seperti itu. Selama bertahun-tahun aku mencari kebahagiaan dari wanita lain, namun tidak membuahkan hasil."
"Hentikan Roland," sargah Mariana menatap Roland dengan nanar. Hatinya sudah terluka karena perselingkuhan Chalk, dan kalimat Roland barusan membuatnya kembali merasa bersalah. Hatinya terusik.
Kandasnya hubungannya dengan Roland, karena status sosial mereka yang berbeda. Ayahnya tidak memberi restu untuknya bersama Roland, dan mengikatnya pada perjodohan yang sudah direncanakan. Mariana terpaksa menerima perjodohannya dengan Chalk, karena tidak ingin terjadi sesuatu pada Roland. Ayahnya telah mengancam akan menghancurkan kehidupan pria itu. Dengan berat hati, Mariana memutuskan hubungan mereka secara sepihak.
Beberapa kali Mariana sengaja menujukkan kemesraannya dengan Chalk, agar Roland membencinya. Tapi usahanya sia-sia.
"Aku tau apa yang kau lakukan hanya untuk membuatku membenci dan melupakanmu, Mariana. Tapi, ketahuilah, usahamu tidak akan pernah berhasil."
Dan ucapan Roland kala itu, terbukti. Roland masih menyimpan perasaan untuknya. Bahkan sampai saat ini.
"Hentikan ucapanmu!" Permintaan Mariana lagi yang disanggupi Roland. Keduanya pun terdiam beberapa menit, hingga suara Roland kembali mengudara.
"Beritahu aku apa yang terjadi padamu?" lagi, Roland melayangkan pertanyaan yang sama.
"Jika aku memberitahumu, lantas apa yang akan kau lakukan Roland? Memelukku untuk memberikan ketenangan...hmm atau kau akan menertawakan penderitaanku?"
Roland mengerutkan dahinya, tidak mengerti. "Apa maksudmu, Mariana? aku tidak mengerti."
Mariana tertawa pilu." Benarkah kau tidak mengerti?" Roland terdiam nampak berfikir.
"Suamiku, memiliki seorang kekasih!!" bertepatan kalimat itu, air mata Mariana bergulir. "Kau mengetahuinya bukan??"
Roland terkejut bahwa Mariana sudah mengetahui jika Chalk berselingkuh. Ia pun tertuduk, ikut terluka melihat Mariana seperti ini.
"Kenapa kau hanya diam? apakah benar? jika, suamiku telah menjadikan seorang budak menjadi kekasih gelapnya?"
Roland mendongakkan wajahnya untuk menatap Mariana, demgan masih menguci bibirnya. Roland diselimuti rasa bersalah terhadap Mariana, karena telah menutupi perbuatan Chalk dari Mariana. Bahkan ia seperti mendukung apa yang di lakukan Chalk dengan mematuhi permintaan atasannya itu. Ia merasa seperti seorang pecundang yang tidak bisa berbuat apa-apa.
Mariana menyeka air matanya dengan kasar. "Rupanya, kau tidak bisa menjawab pertanyaan ku. Baiklah.. " Mariana pun melangkah pelan guna kembali ke dalam ballroom.
"Kembalilah bersamaku Mariana jika kau tidak bahagia bersamanya. "
Deg...
Langkah Mariana tiba-tiba berhenti mendengar ucapan Roland barusan. Namun Mariana tetap Mariana, menjunjung kesetiaan meski ia disakiti. Wanita itu pun melanjutkan langkahnya, menghiraukan ucapan Roland yang nyatanya membuat jantung Mariana berdetak kuat.
Eaa..... Pertanyaanya, apakah Mariana masih ada perasaan pada Roland?? 🤣 silahkan menerka-nerka ya dan bersiaplah ada banyak kejutannya. 🤤🤤 ngebakso enak ini... Aku Baperr... eee laper.