Reckless

Reckless
PILIHAN



Cloud melihat ke arah jam di dinding dengan jarum pendek yang mengarah ke angka 5.30. Cloud menyingkap selimut tebal yang menutupi sebagian tubuhnya. Pria itu bergegas bangun, untuk memulai rutinitasnya di pagi hari, mengantarkan koran dan juga susu.


"Cloud," panggil Ariana muncul dibalik pintu kamar Cloud "Kau tidak berangkat bekerja hari ini, Nak?"


"Sebentar lagi aku akan bersiap Ibu," balas Cloud


Ariana masuk ke dalam dan melangkah mendekati Cloud yang sedang duduk di tepian tempat tidurnya. Ariana berdiri di depan Cloud dan memandang lekat putranya. "Kau baru bangun?" tanya Ariana mengambil keranjang yang terbuat rotan berisi pakaian Cloud yang terletak di samping meja, dan mengangkatnya.


"Ya Ibu... " Cloud berdiri, berniat mengambil alih keranjang tersebut. Namun, Ariana melarangnya. "Tidak perlu Nak, Ibu bisa mengerjakannya. Semalam, kau tidur pukul berapa? Saat Ibu keluar kamar untuk mengambil minum, Ibu tidak sengaja mendengar suaramu. Apakah kau sedang menghubungi putriku?"


Yang dimaksud Ariana adalah Hana, ya siapa lagi. Sejak pertama bertemu dengan Hana, Ariana begitu menyukai gadis itu. Hidup berdua dengan seorang putra, Ariana masih merasa kesepian. Dan kehadiran Hana, menjadi kekasih putranya adalah seperti hadiah untuknya.


Dahulu, saat Cloud berusia 8 tahun Ariana menginginkan seorang putri. Namun, keinginannya itu pupus setelah dokter menyatakan ia tidak bisa hamil lagi karena di dalam rahimnya tumbuh leiomyoma yang mengharuskan ia menjalalin oprasi pengangkatan rahim.


Cloud pun mengangguk. "Iya Ibu... " Jawabnya.


"Kapan kau akan mengajaknya kesini lagi? Ibu berencana ingin memperkenalkannya dengan Nyonya Maria, dan juga Jessy. Kau mau tau, Nyonya Maria sangat terkejut saat ibu menceritakan jika kau mempunyai seorang kekasih dan dia sangat penasaran."


"Jadi, Ibu membicarakan kekasihku dengan Nyonya Maria, seperti itu?"


"Iya Nak," sahut Ariana dengan senyuman terbaiknya. "Tapi kau tidak perlu khawatir, Cloud. Aku tidak membicarakan putri ku yang tidak-tidak." Lanjut Ariana. "Kau tidak berencana menghubunginya, pagi ini?"


Cloud tersenyum."Putrimu masih terlelap, Ibu." Jawab Cloud, yang memang mengetahui kebiasaan Hana yang bangun siang saat hari libur. Terlebih, setelah semalaman mereka berkomunikasi lewat ponsel hingga larut.


Ah membicarakan gadis itu membuat Cloud merindukannya.


" Ooh seperti itu, baiklah. Segeralah mandi, Ibu akan membuat pancake untuk sarapanmu atau kau ingin sandwich?" tawar Ariana.


"Sandwich isi daging asap, jika kau tidak repot Ibu. " Ini kali pertama Cloud memilih menu sarapannya. Biasanya, ia menikmati sarapan yang sudah Ibunya siapkan.


"Baiklah aku akan membuatkannya untukmu, Ibu keluar dulu. " Cloud mengangguk.


Bertepatan pintu tertutup, Cloud mendapatkan sebuah notif pesan dari ponselnya. Segera, ia mengambil benda pipih itu terlebih dahulu yang berada diatas meja, dan memeriksa pesan yang baru saja masuk. "Tuan Barnes." Cloud lekas membuka dan membaca pesan dari pemilik restoran tempatnya bekerja. "Tanggal 28 Oktober 2017"


Deg.....


" Tidak, hal ini tidak boleh terjadi kembali," ucap Cloud bibirnya sedikit bergetar. Cloud membisu, dengan keringat mulai muncul di sekujur tubuhnya. "Aku harus menghindar dari pria itu. "


Cloud mengembalikan ponselnya diatas meja. Sejurus kemudian, ia melangkah dengan cepat, masuk ke dalam toilet dan menanggalkan pakaiannya. Segera ia menyalakan pancuran air, dan air dingin pun mengucur dengan deras.


Cloud berdiri dibawah pancuran tersebut. Kedua tangannya terulur ke atas, mengusap rambutnya yang mulai basah.


Kedua matanya tertutup. Menikmati air yang sudah membelai seluruh tubuhnya, Cloud pun tenggelam dengan peristiwa yang pernah dialaminya selama ia bekerja dengan Chalk di dunia hitam. Kepingan demi kepingan ingatanya muncul, membaur dengan tetesan air yang masih membasahi tubuhnya.


"Masukkan sebungkus Charlie ke dalam botol wine, sebelum kau menyajikan kepada tamu undangan. Kau mengerti Cloud?" (Chalk)


"Kerja yang sangat bagus Dude, aku akan menepati janjiku untuk memberikan sebuah mobil sport untuk kau gunakan. " (Chalk)


"Berangkatlah malam ini ke pasar gelap untuk menggantikan Ace , Cloud. Jack akan membayar tiga kali lipat dari harga sebenarnya dan kau akan mendapatkan bonusmu." (Chalk)


"Berhentilah bekerja dengan pria itu Cloud, Ibu mohon turuti perintah Ibu. " (Ariana)


"Darimana kau mendapatkan luka ini, Cloud ? Katakan? " (Hana)


"Bagaimana setelah mendapatkan hasil akhir pemeriksaan rehabilitasi, kita menjemput ibu? hmm, kau mau??" (Hana)


"Sebaiknya kita pergi dari sini Cloud!! Aku tidak ingin kau tertangkap!" (Hana)


"Hhhee.." Cloud membuang napas dengan berat ,dengan mengepalkan kedua tangan yang berada di sisi tubuhnya.


"Lakukan Cloud, bukankah kau mencintaiku dan kau tau aku juga mencintaimu! "


Dorrrr.....


"Hahhh... Haahhh... Hahhhh." Cloud mengatur deru napasnya tersengal-sengal, dan ia membuka kedua matanya. Bayangan itu muncul lagi ditengah emosinya. Cloud berdeham, kemudian ia mengusap wajahnya dengan kasar.


"Aku bersumpah demi Ibu dan Hana, aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama di masa lalu dan aku akan menghancurkan bisnis ilegal itu."


Disisi lain...


"Tolong letakkan sup krim ini di atas meja, Lily."


"Baik Nyonya... "


Mariana melanjutkan aktifitasnya menyiapkan sarapan untuk suami, dan juga putranya. "Aku tinggal membuatkan kopi untuk Chalk."


"Biar saya saja yang membuatkan kopi untuk Tuan, Nyonya. " Amora mendahului pergerakan Mariana. Tubuhnya yang lebih tinggi, ia begitu mudah mengambil cangkir yang terletak lemari atas.


Mariana tertegun, dan memandangi wanita yang bekerja di kediamannya selama setahun terakhir ini. Maniknya menyelusuri dari rambut, tubuh molek wanita itu, hingga kedua kaki jenjangnya yang terlihat mulus. Kembali Mariana melihat rambut bergelombang yang dimiliki Amora, dan memperhatikan warna rambutnya.


Fikiran Mariana melayang pada saat ia kembali dari Perancis, dan menemukan helaian rambut di atas sofa yang berada di ruang kerja suaminya.


"Nyonya, Tuan Chalk dan Tuan Muda sudah berada di ruang makan."


Suara Lily menyadarkan lamunannya. "Terimakasih Lily."


"Tinggalkan Amora, ini adalah tugas dan kewajiban ku sebagai istri untuk melayani suaminya." Kedua manik yang berbeda warna itu saling menatap. Mariana tersenyum.


"Maaf Nyonya... " Jawab Amora, seraya menggeser tubuhnya. Cih, apa yang dia katakan barusan, kewajiban seorang istri. Ya, kau memang istrinya . Tapi untuk memuaskannya, kau tidak sebanding dengan diriku Nyonya. Amora membantin.


Setelah membuat kopi, Mariana segera keluar dari dapur. Ia melihat Chalk dan Petter sudah menepati kursi disana. Amora pun mengikutinya dari belakang membawa buah-buahan yang seharusnya Lily yang menyiapkannya.


Petter tersenyum smirk, lalu ia sedikit mencondongkan tubuh ke arah Ayahnya. "Lihatlah dua wanita milikmu Ayah, dan pandangilah mereka. Bukankah Mom terlihat berkelas, dan wanitamu terlihat murahan." Bisik Petter.


"Aku berkata dengan benar bukan?"


👉 Charlie : Hanya nama samaran dari barang haram. Biasanya di ucapkan untuk pengedar / pemakai untuk mengelabui aparat kepolisian.


Yang kepo Amora.. Ni Amora.