
"Surprise!!" Suara khas Ayden begitu saja mengudara, bersamaan dengan senyumannya yang merekah. Satu alis sedikit terangkat, dengan irisnya yang memperhatikan expresi terkejut dari wajah sang adik.
Hana bergeming, ia tercengang akan kehadiran Ayden di dekatnya. Namun bukan hanya itu saja, hubungan asmaranya dengan Cloud yang Hana tutup-tutupi dari Ayden, kini terkuak. Tidak mungkin, jika ia harus berbohong lagi. Mungkin sudah waktunya saudaranya mengetahuinya.
Sebenarnya, Ayden merupakan sosok saudara yang pengertian, dan bisa dijadikan teman berbicara, namun sikap Ayden yang menyebalkan karena kerap menggoda Hana membuat Hana berfikir dua kali untuk terbuka dengan saudara laki-lakinya itu.
Hana menelan salivanya dengan kasar, dan berusaha setenang mungkin untuk menghadapi Ayden yang terlihat santai, akan tetapi manik legam dimiliki abangnya seolah menuntut penjelasan darinya.
Ayden yang terus memusatkan perhatiannya kepada adiknya, ia pun tergelak. Wajah cantik adiknya begitu lucu, sangat lucu. "Oh Astaga, Hana. "
Ada suara tawa yang menggema disana, ada juga kepiluan yang dirasakan gadis yang berada dibalik punggung Ayden. Alana tidak berani menujukkan wajahnya di hadapan Cloud. Sungguh upaya untuk menyiapkan diri berhadapan langsung, begitu sia-sia.
Alana tertunduk. Napasnya memberat saat ia mengingat ketika ia masuk ke dalam cafe dan menyaksikan kedekatan Cloud dengan Hana. Alana bisa menangkap jika hubungan Cloud dengan Hana lebih dari sebatas teman.
Ya Tuhan. Lirih Alana, sekarang ia dihadapi situasi yang membuat hatinya semakin terluka. Ingin rasanya Alana pergi menjauh, tetapi hal itu sangat mustahil.
"Berhentilah untuk tertawa Ayden!"
"Baiklah, tapi bolehkan kami bergabung disini?" tanya Ayden, maniknya melirik Cloud seolah minta izin kepada Cloud bukan kepada adiknya. Karena ia punya firasat, jika adiknya akan menolak permintaanya.
"Silahkan..." Cloud terseyum simpul menyambut baik permintaan dari saudara kekasihnya. Berbanding balik dengan Hana yang berdecak kesal.
"Terimakasih." Ayden menarik tangan Alana kemudian. Alana pun tersentak. Tubuhnya yang terasa lemas, ikut tertarik sesuai dengan pergerakan dari tangan Ayden.
"Alana?" sebut Cloud, yang didengar oleh kakak beradik itu.
"Ha-i Cloud." Alana semakin gugup, dan jantungnya berdetum dengan keras.
"Kalian saling mengenal?" tanya Ayden, begitu Hana yang langsung menoleh ke arah Cloud.
"Bagaimana kami tidak saling mengenal, Alana teman sekelasku," jawab Cloud lugas.
"Oh God, ternyata dunia ini begitu sempit." Ayden tersenyum, seraya menarik kursi dari bawah meja. "Duduklah Alana."
Alana pun mendaratkan bokongnya, begitupun Ayden setelah ia menarik kursi persis di samping Alana.
"Kenapa kau bisa berada disini?" tanya Hana.
"Aku melihat mu di Amc Dine, lalu aku menghubungi mu untuk memastikan lagi keberadaanmu. Oh ya dimana kedua sahabatmu, bukannya tadi kau mengakatan kau bersama Lvy, dan Clara."
"Kau sudah tau jawabannya, kenapa kau bertanya lagi!" sarkas Hana, berhasil membuat Ayden tertawa.
"Bersabarlah jika saudara ku ini kerap menjengkelkan. Perkenalkan namaku Hana." Hana mengulurkan tangannya.
"Alana, " pun Alana membalas uluran tangan Hana.
"Kau berhati-hatilah Alana, jika berhadapan dengannya, dia ahli membual dengan kata-kata manis." Hana mengerling jenaka.
"Apa maksudmu?" tanya Ayden tidak terima. "Jangan memulai memprovokasi." Hana pun cekikikan. Sekarang skor mereka satu sama.
"Well, siapa pria yang bersama mu ini? kau tidak berniat untuk memperkenalkan dia kepada ku."
"Dia kekasihku, namanya Cloud."
Alana menarik napas panjang, dan memaksakan dirinya untuk menyunggingkan senyumannya. "Congrats, untuk kalian berdua." ucap Alana terdengar tulus.
"Hah, ternyata adikku sudah maju selangkah dari ku, " gurau Ayden. "Salam kenal untukmu Cloud." Ayden menepuk pelan punggung Cloud. "Maaf jika adikku akan merepotkanmu."
Hana menatap malas ke arah saudaranya itu. Kali ini ia tidak ingin berdebat, terlebih di depan kekasihnya.
"Kau mau es krim rasa apa Alana?"
Alana pun menoleh. "Strawberry," singkatnya. Ayden tersenyum lembut, dan meninggalkan mereka.
Sepeninggalnya Ayden, Hana memandang Alana yang duduk di hadapannya. "Alana, apakah Ayden kerap memaksamu?" tanya Hana terlebih dahulu.
"Ya, seperti itulah." Alana tersenyum canggung.
"Dia memang seperti itu dan tidak berniat berubah. Akan tetapi, dia memiliki sifat yang hangat, perhatian, dan bertanggungjawab meski gayanya terlihat nakal." Tutur Hana mengenai saudaranya itu.
"Apakah kau sedang mempromosikannya di hadapanku, Hana?"
"Ya, anggap saja seperti itu." Alana tersenyum kemudian. Lalu, netranya melihat Cloud selintas. Pria itu, pujaan hatinya tersenyum lembut memandang Hana. Pemandangan indah, namun berhasil membuat jantung Alana bergejolak, dan ia sungguh sangat tersiksa.
"Jangan mulai-mulai lagi Cloud, sudah aku katakan tatapan mu membuatku salah tingkah."
Hana yang tidak mengetahui tentang perasaan Alana kepada Cloud, begitu saja menyandarkan kepalanya di atas bahu kekasihnya.
Alana memandang sepasang kekasih di depannya. Kelopak matanya pun bergetar, seiring dengan remasan tangannya pada dressnya. Ia tidak akan membiarkan air matanya tumpah, tidak, tidak untuk saat ini. Namun sial, gejolak yang terasa di daadanya semakin menyesakkan.
"Aku ingin pergi ke toilet." Alana menyematkan tali tasnya, kemudian ia berdiri.
Ya, dirasa ini cara yang tepat. Alana harus pergi dari sini, untuk kebaikan dirinya. Bukan, karena ingin lari dari sebuah kenyataan, bukan. Alana sudah menerima apa yang sudah di takdirkan untuknya. Namun untuk menyembuhkan luka dihatinya, ia membutuhkan waktu.
"Aku akan mengantarmu, " tawar Hana.
"Tidak, tidak perlu Hana. Tunjukkan saja dimana toiletnya berada."
"Dari sini kau tinggal lurus saja Alana."
"Baiklah, terimakasih." Alana melangkah cepat menuju toilet.
Sesampainya, Alana segera memasuki salah satu bilik di dalam sana. Begitu pintu tertutup, Alana menyandarkan tubuhnya. Heh, kenapa aku begitu lemah!! Oh ayolah go move on, Alana!!
Alana mendongak kemudian, masih mencoba menahan air matanya. Namun semuanya percuma, kali ini cairan bening itu mengkristal semakin banyak di kedua matanya. "Kenapa ini terasa sakit." Suara Alana parau dan bibirnya bergetar.
Isakan pun mulai terdengar, Alana menumpahkan semua sesak di dada. Menyendiri, ia menikmati rasa sakit yang berkali-kali menghantam dirinya.
Beberapa menit berlalu, diluar nampak Ayden menyandarkan tubuhnya di dinding dengan tangan kekarnya bersidekap di depan daadanya. Ayden berada di depan pintu toilet wanita, menunggu Alana sejak tadi.
"Kenapa kau berada disini?" tanya Alana begitu ia keluar, dan di dapati Ayden di hadapannya.
"Aku menunggumu." Ayden langsung menerbitkan senyuman terbaiknya. "Kenapa kau lama sekali, apa yang telah terjadi?" Tatapan Ayden menelisik wajah Alana terlihat sembab.
"Aku hanya sakit perut." Jawab Alana, seraya mengalihkan wajahnya untuk menghindari tatapan Ayden. "Sebaiknya kita kembali, Ayden."
"Adikku sudah pergi Alana. Sebentar lagi, film dimulai. Kita pesan lagi es krim untukmu terlebih dahulu, sebelum kita kesana. Bagaimana?"
"Kita langsung saja.. "