
Richard memasuki markas dengan langkah tergesa. "Dimana titik lokasi keberadaan, Cloud saat ini?" pertanyaan pertama dari Richard seraya menepati salah satu kursi yang mengelilingi meja. Sesuai intrusipnya, para anggota yang bertugas sudah berkumpul disana dan menempati kursi.
Aldric menatap sang ketua. "Virginia, tepatnya di Old House Woods, sir. " Jawab Aldric. Dari semalam pria itu tidak tidur memantau keberadaan Cloud hingga pagi, dan siang ini titik lokasi Cloud tidak berubah.
"Virginia, " gumam Richard. "Lalu, pukul berapa Chalk akan terbang ke New Zealand?"
"Penerbangannya pukul satu siang, sir. " Kali ini Abigail yang menjawab pertanyaannya. Richard mempertunjukkan wajah seriusnya. Ia memikirkan kelanjutan misi besar yang dihadapi kali ini, begitu pun juga anggotanya. Sebelum menyerang lokasi mansion black eagle, ia harus menyelamatkan Cloud dan Justin terlebih dahulu.
"Buatlah berita untuk mengalihkan perhatian mereka," tepat kalimat itu meluncur para agen menatap ke arahnya.
"Bagaimana caranya, sir? "
🍂🍂🍂
New Zealand...
Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama ,dari satu penginapan untuk beristirahat kini Chalk dan Mariana sudah berada di tempat yang menjadi tujuan mereka, danau Wakatipu. Danau pedalaman di pulau Selatan, yang memamerkan keindahan pemandangannya karena dikelilingi oleh pegunungan. Dua barisan pegunungan, Remarkables dan Pegunungan Tapuae-o-Uenuku / Hector yang terletak di sepanjang tepi tenggaranya. Selain itu terdapat pohon cemara yang semakin memperindah pemandangan disana.
Mariana, dan Chalk memandangi pemandangan itu semua seraya menikmati makan malam mereka. Dengan tempat hotel yang berada di tepian danau, memberi kesan keromantisan. Tapi keromantis itu hanya diperuntukkan pasangan yang saling mencintai, tidak untuk hubungannya dengan Chalk.
Pembuktian, dan sikap romantis yang ditunjukkan Chalk untuk Mariana tidak sama sekali membuat Mariana tersanjung. Rasa sayang berubah menjadi ketidaksukaan, bahkan sentuhan Chalk tidak memberikan sensasi apapun pada tubuhnya. Terlepas apa yang ia jalani, dan apa yang ia berikan kepada Chalk hanya kewajibannya saja.
Ting.. Suara pertemuan gelas kaki berisikan wine terbaik yang berada di genggam mereka setelah keduanya menyelesaikan makan malam. "Happy anniversary sweety. " Ucapnya lagi yang tidak mendapatkan jawaban dari Mariana. Sepertinya ya... Hanya Chalk yang menikmati moment ini.
Mariana menyesap minumannya, begitupun juga Chalk.
"Kau menyukai tempatnya, dan dekorasinya? "
"Iya Chalk, aku sangat menyukainya. Inilah tempat yang aku impikan."
Namun sayangnya, aku harus menikmati keindahan ini semua dengan hati terluka.
"Maafkan aku, baru mewujudkannya." Chalk menyambar tangan Mariana, mengenggam erat.
"Tidak apa Chalk, aku mengerti kau sangat sibuk."
"Lebih privacy," kata Mariana. Biasanya mereka kerap makan malam di sebuah restoran mewah. Tapi kali ini Chalk membuat suasana berbeda. Mereka makan malam di beranda kamar hotel, dengan banyaknya lilin yang mengelilingi mereka serta kelopak mawar merah bertaburan dari arah dalam kamar. "Romantis, dan kau paling ahlinya Chalk. "
Ahli segalanya, mengelabuhiku, berselingkuh, pemerkoosa, dan....
Chalk tersenyum, melihat air mata meluncur di pipi Mariana, ia menggeser kursinya berpindah posisi di samping istrinya. Kemudian tangannya bergerak mengusap air mata itu. Dipikirnya Mariana tersanjung dengan romansa yang ia ciptakan. "Jangan menangis sweety," tuturnya lembut.
Dipikirnya aku menangis karena tersanjung, astaga.... Mari kita melanjutkan drama sepasang suami istri yang bahagia Chalk.
Mariana mendadak tertawa, menutupi rasa sakit hatinya. "Aku menangis karena bahagia honey. Bahagia menjadi istrimu. " Dibelai rahang Chalk, Mariana mengecup singkat bibir suaminya.
"Aku juga bahagia bisa memiliki mu sweety. Kau seorang istri, dan ibu yang sangat baik. "
Lalu kenapa kau berselingkuh, brengsek...
"Dan aku juga penyabar. " Mariana menimpali kalimat Chalk. Kemudian ia meraih gelasnya, dan menyesap lagi minumannya hingga tandas. Ia menengadahkan wajahnya menahan air matanya agar tidak jatuh. Lalu ia pun tersenyum, menatap Chalk dengan sayu.
"Chalk, " bisiknya "Aku ingin pergi ke toilet. Kau tunggulah aku diatas ranjang. Sekarang giliranku yang memberimu kejutan." Bisik Mariana, memberikan sentuhan di area privasi Chalk, sukses membuat suaminya itu bergaiyrah, dan geramaan kenikmatan bersamaan hembusan napasnya tidak beraturan terdengar. Mariana semakin menyungingkan senyumannya, kembali ia mencium Chalk lebih dulu, hingga bibir mereka saling berbalas.
"Tunggulah, " bisiknya lagi setelah pangutan mereka terlepas. Ia bangun dan melangkah, berlalu dari sana. Ia mengambil gaun tidur yang sudah dipersiapkan sebelum keberangkatannya. Sebelum ia melangkah masuk ke dalam toilet, Mariana menoleh ke arah Chalk yang masih berada di beranda. Dengan cepat , Mariana mengeluarkan beberapa kapsul dari botol obat dan meraih gelas berisi air, kemudian ia meminumnya. Obat penenang, yang dikonsumsinya sejak perselingkuhan Chalk terbongkar. Kembali Mariana menyembunyikan botol tersebut di bawah tumpukan pakaiannya yang masih berada di dalam koper.
Chalk menutup pintu penghubung. Ia membuka jasnya, dan meletakkannya diatas sofa. Sengaja ia membiarkan kemeja terpasang di tubuhnya, ingin melihat pergerakan ketidaksabaran istrinya untuk memulai penyatuan mereka.
Pria itu duduk di sofa, sejajar dengan home teater. Ia memeriksa arloji di pergerlangan tangannya kemudian ia menatap pintu toilet. Sudah lima belas menit istrinya di dalam sana. Chalk berdiri, hendak menyusul Mariana, dan langkahnya terhenti ketika istrinya keluar dengan tampilan memukau, seksih dengan gaun tidur berwarna hitam terawang menampilkan lekukan tubuh Mariana. Rambutnya yang panjang tergerai, wajah cantiknya terpoles, serta warna merah menjadi pewarna bibirnya semakin menyempurnakan penampilannya.
Chalk menelan ludahnya keras-keras. Benar-benar ia pangling melihat penampilan istrinya di malam ini, di malam anniversary mereka. Mariana sukses membuat Chalk Parker menganguminya.
Mariana melenggang kaki jenjangnya. Aroma parfume vanila, dan musk yang menguar dari tubuh Mariana terhidu semakin terasa membuat hormon testosteronnya meledak. Chalk masih berdiri di tempatnya, menatap Mariana yang semakin dekat, dengan tatapan lapar.
"Bagaimana penampilanku, honey?" Mariana sudah sampai, dan berdiri dihadapan Chalk.
Chalk menyoroti tubuh istrinya dari atas, sampai bawah lalu kembali ia menatap wajah Mariana. "Kau sangat luar biasa sweety, seksih, dan menggaairahkan." Bisik Chalk meraih pinggang Mariana, agar semakin dekat.
"Benarkah?" Mariana mengalungkan kedua tangannya di belakang leher Chalk. Pria itu mengangguk. "Kau menyukainya?"
"Of course..."