
"Ayah, " lirihnya dengan bibir bergetar bahkan tubuhnya terasa lemah karena terkejut jika seseorang yang berada diruang bawah tanah adalah ayahnya. Netra coklat yang dilapisi cairan bening menelusuri keseluruhan tubuh yang pernah memberikan kehangatan.
Cairan yang melapisi maniknya, mengkristal. Cloud menatap kembali wajah yang setiap kali ia melihat wajah itu, Cloud merasakan kedamaian. Tubuhnya semakin bergetar hebat, melemas, pijakannya terasa lumpuh.
Apa yang telah mereka lakukan pada ayah...
Cloud mengulurkan tangannya memegang besi yang menjadi pemisah diantara mereka, untuk menopang tubuhnya. Ia tidak sanggup melihat kondisi ayahnya yang sangat memperhatikan.
"Ayah.... " lirih nya lagi memanggil ayahnya. Dadanya terasa sesak, seolah pasokan oksigen habis tidak tersisa. Buliran yang mengkristal akhirnya terjatuh bersamaan tubuhnya meluruh ke lantai yang berdebu.
Ayah, aku terjatuh dari sepeda. Lihatlah kakiku terluka.
Samar-samar Justin mendengar suara seseorang yang memanggilnya dengan sebutan ayah, ia pun terbangun namun pencahayaan yang menyorotinya tidak mampu membuatnya melihat ke sumber suara yang jelas ia mengenalnya.
"Clo-ud, apa itu kau? " rintihannya. Dengan keadaan kaki yang terpasung, Justin berusaha bangkit mencari keberadaan sang putra yang ia rindukan. Usahanya untuk berdiri gagal, Justin terjatuh. Namun tidak memudarkan tekadnya. Ia menyeret tubuhnya menggunakan kedua tangannya dan bokongnya.
Melihat ayahnya yang kesulitan. Cloud pun berusaha bangkit Ia mencengkram kuat sel, mendorong berkali-kali agar pintu jeruji itu terbuka. "Argh," teriaknya mewakili rasa sedih dan marahnya.
"Ber-berhentilah nak, " suara Justin bergetar. Suara yang Cloud rindu, kini ia bisa mendengarnya lagi. Oh Tuhan
"Ayah... " Cloud terisak, kembali ia meluruh di depan ayahnya, air mata masih bergulir membasahi sisi wajahnya. Ia bisa melihat jelas wajah ayahnya yang rusak karena luka bakar, bahkan kedua matanya tertutup karena kebutaan.
"Putraku, " Justin meraba wajah Cloud seraya membayangkan wajah putranya yang sangat mirip dengannya.
"Aku sangat merindukanmu ayah."
"Ayah juga nak... Ayah juga sangat merindukanmu, dan juga ibumu. "
Isak tangis mereka pecah, mendominasi ruangan dingin yang mencengkram. Mereka berpelukan, melampiaskan kerinduan yang menyiksa, dan meluapkan rasa pedih yang sulit disembuhkan.
Selama dua tahun lebih mereka terpisah. Bahkan Cloud dan ibunya beranggapan jika ayahnya sudah tiada.
Lihatlah bagaimana semesta mempertemukan kembali ia dengan ayahnya. Rasa bahagia, dan sedih menyatu. Cloud bahagia mengetahui jika ayahnya masih hidup, dan yang membuatnya sedih, melihat fisik ayah saat ini.
"Apa yang mereka lakukan padamu ayah? " Cloud melayangkan pertanyaan seraya menyeka air mata dengan kasar, ia menggenggam erat tangan ayahnya yang bergetar, dan terasa dingin.
Ya Tuhan, ia tidak bisa membayangkan ayahnya selama ini mendapatkan siksaan disini. Tidur di ruang bawah tanah tanpa alas, dengan kedua kaki dipasung.
Lantas, bagaimana ayahnya menjalani semua.....
Apakah ayahnya makan dengan benar....
"Ceritakan ayah, apa yang mereka lakukan? " tanya Cloud menuntut, seraya mengusap punggung tangan ayahnya.
Justin menceritakan semua dari awal ia bisa berada disini. Saat itu, ia sedang mengendarai mobil dalam perjalanan pulang. Ada seorang wanita yang memberhentikan mobilnya dan meminta tolong untuk membenarkan mobil yang di kendarai wanita itu. Namun, ketika ia membantu, ada yang menyekapnya.
"Ayah tau, nak. "
"Lalu katakan bagaimana ayah mendapatkan luka bakar ini?" tanya Cloud meraba wajah ayahnya.
Bayangan mengerikan waktu itu memenuhi pikirannya. Ia merasakan bagaimana rasa panas membakar wajahnya. Tiap detik, ia berteriak menahan rasa panas dan perih sampai-sampai ia ingin mati saja saat itu. Justin mulai bercerita.
"Ya Tuhan, " lirih Cloud, sedih mendengar apa yang dialami ayahnya. "Aku bersumpah, aku akan menghancurkan mereka semua. "
"Berhati-hatilah nak, mereka bukan orang sembarangan. " Justin mengingatkan. Ia sangat mengenal ke dua sosok ketua kartel yang bisa melakukan apa saja. Membunuh, sudah seperti kebiasaan mereka.
" Bagaimana kabar ibu, nak? " Justin menyeka air matanya yang masih bergulir, menahan sesak yang menyiksa, karena merindukan istrinya.
" Kabar ibu, baik ayah. " Jawab Cloud lirih. "Ibu juga sangat merindukanmu. "
"Syukurlah." Itulah doa dan harapannya selama ini, keselamatan istri dan putranya. Sejak ia di tahan, Justin sangat mengkhawatirkan keduanya. "Tidak terjadi apa-apa dengan kalian. "
Mereka saling bertukar cerita, dengan tangan yang masih saling menggenggam. Tak terasa, waktu bergulir dengan begitu cepat.
"Kau sudah lama disini Cloud, sekarang kau pergilah, ayah khawatir jika ada seseorang yang mengetahui keberadaan mu disini. "
Cloud menggelengkan kepalanya. "Tidak ayah, aku tidak akan meninggalkanmu disini. "
"Turuti perintah ayah." Cloud meneteskan air matanya lagi. "Ibu mu masih membutuhkanmu. Dia tidak punya siapa-siapa lagi disini. Jika sampai kau tertangkap, bagaimana dengan nasibnya."
Cloud terdiam, ia mengerti maksud ucapan ayahnya. Ibunya tinggal jauh dari keluarganya karena memilih hidup bersama ayahnya.
"Dan... Ayah minta, kau rahasiakan keberadaan ayah dari ibumu. Kau mengerti maksud ayah bukan? " Cloud mengangguk, dan memeluk lagi tubuh ayahnya.
"Aku akan kesini lagi ayah. "
"Berhati-hatilah, " ucap Justin dengan harap anaknya tidak bernasib sama dengannya.
Dengan berat hati, Cloud berdiri dan membawa kakinya untuk keluar dari ruangan yang mencengkam, meninggalkan ayahnya. Kembali ia menaikan satu persatu anak tangga dengan langka gontai sampai tangga teratas, Cloud memasukkan lagi senter ke dalam sakunya. Ia pun keluar, lalu menutup pintu sebelum ia melanjutkan langkahnya.
Ia bergerak menelusuri lorong. Sampai batas penghubung, Cloud berhenti. Ia meninjau ke sekitar ruangan, masih aman atau tidak. Tidak ada lagi anggota kartel yang berjudi tadi, membuat ia semakin waspada.
Cloud mengendap-endap menuju susunan dus yang tadi di lewati. Ia kembali merangkak menuju pintu mansion. Kali ini ia bisa bernapas lega, semua misinya berjalan dengan mulus. Ditariknya tungkai pintu utama, ia pun keluar dari mansion dan tidak menyadari jika ada seseorang yang mengetahui keberadaannya.
Pria itu tersenyum smirk. Ia menekan angka pada layar ponselnya, dan menghubungi seseorang.
"Halo Ace, kau benar... Pemuda itu datang ke mansion. Sekarang apa yang harus aku lakukan. "
"Baiklah, aku akan melakukannya malam ini. "