Reckless

Reckless
ARABELLA



Dua puluh menit sebelumnya. Aldric menutup pintu kamar Cloud, menarik langkah panjangnya ke meja makan. Hampir saja ia mendaratkan bookongnya di kursi. Pergerakannya terhenti ketika mendengar suara notifikasi ponselnya berbunyi, ia mendahului membaca pesan yang baru saja masuk ke dalam ponselnya.


Paman apakah kau berada di apartemenmu? aku di depan unit mu membawakan makan malam untukmu.


Senyuman terbit di tepian bibirnya menatap layar pesan yang dikirim Arabella. Ia hendak mengetik membalas tersebut, namun pesan berikutnya dari gadis itu kembali masuk.


Kenapa pesanku hanya dibaca?? 🙄 jika paman tidak berada di apartemen, aku akan menitipkannya di pos penjaga.



"Menyebalkan lagi-lagi dia hanya membaca pesan ku! lihat saja nanti, " gerutu Arabella.


Arabella pun segera beranjak, ia menggiring kakinya dengan cepat seraya memperhatikan layar pada ponselnya.


Ting, pintu lift terbuka. Aldric keluar dengan tergesa memijakan kedua kakinya di lantai marmer menuju unit apartemennya. Bella, senyumannya terbit lagi, ketika melihat sosok gadis kecil yang ia sukai.


Arabella masih fokus pada layar benda pipihnya, memainkan ibu jari dengan lincah, mengetik, membalas pesan dari sang ayah. Ia tidak menyadari jika ada pria dengan gagahnya berdiri menunggu ia mendekat.


Drug...


"Oh astaga," Keluh Arabella, kepalanya baru saja terbentur benda keras. Ia mengerutkan dahinya, melihat tubuh gagah berbalutkan jas di depannya. Ia pun mundur sedikit, lalu mendongakkan wajahnya. Dalam hitungan detik, bibir ranumnya membentuk huruf A.


Ia langsung berbalik arah, dipegangi dadaanya yang berdetak dengan cepat. Kenapa dia muncul seperti jin. Arabella berjalan, baru maju lima langkah, badannya terasa tertarik.


"Kau ingin kemana gadis kecil? " Aldric menarik ransel Arabella, membuat gadis itu mundur. Terjadilah yang diharapkan netizen, punggung Arabella menabrak badan keras, kokoh, berotot milik Aldric. Gadis itu nampak kecil, tingginya yang hanya sebatas dadaa Aldric, mempermudah pria itu merangkul kedua bahunya. Terasa pas.. hemm..


Deg deg deg.... Degupan jantungnya berdetak semakin tidak karuan. Ia masih memegang dadaanya agar jantungnya aman diposisinya.


Aldric memutar tubuh kecil Arabella. Kini keduanya saling berhadapan, saling menatap.


"Aku ingin pulang paman, " jawab Arabella cepat seperti dikejar debkolektor.


Aldric terkekeh. "Kau ingin pulang, apa kembali ke unit ku? "


Arabella memperhatikan senyuman mempesona milik Aldric yang membuatnya salah tingkah.


Arabella memukul dahinya. "Ah ya... Aku salah arah. Jadi tolong bawa aku ke arah kebahagiaan, paman."


Haiss aku berkata apa barusan. Arabella menggerutu tentang dirinya.


Aldric semakin melebarkan tawanya. "Jadi kau ingin aku membawamu menuju kebahagiaan, seperti itu?"


"Bu-Bukan seperti itu maksudnya... Aku hanya salah berbicara. Maksudku aku ingin pulang, dan memintamu untuk mengantarku sampai lobi, paman. Ya.. Ya seperti itu. "


Aldric segera mengambil tangan Arabella. "Aku akan mengantarkan mu, tapi ikutlah denganku terlebih dahulu. Ada yang ingin aku tunjukan kepadamu. "


Tangan kecilnya begitu saja tertarik. Aldric menggenggam tangan Arabella. Tindakan pria matang itu sukses membuat Arabella mati gaya, nervous, perutnya melilit, namun ada ledakan-ledakan di dalam tubuhnya membuat perasaannya bahagia, sangat.


Ia memandang jemarinya saling bertaut di antara ruas jari Aldric, membiarkan pria itu menuntunnya. Kemana dia akan mengajakku? kini tatapannya, memperhatikan punggung lebar Aldric.


Setelah menaiki lift, dan melalui anak tangga, sampailah keduanya di sebuah pintu menuju rootpof. Aldric membuka pintu tersebut.


Angin malam menyambut kedatangan mereka, Arabella melepaskan tangannya dari dalam genggaman Aldric. Ia berjalan lebih dahulu.


"Wah," kagumnya ketika manik hazelnya melihat langit yang terbentang luas dengan banyaknya bintang di sana.


Ia pun berbalik. "Ini sangat indah paman," senyumannya merekah, membingkai di wajah cantiknya.


Tapi tidak seindah dirimu Arabella. Manik hazel Arabella terlihat jelas keindahannya, berkilau, Aldric terpaku melihatnya.


Arabella kembali berbalik, ia pun berhenti, memegangi pembatas di ikuti Aldric berdiri di sisinya.


"Hah," Arabella membuang napas, tidak memudarkan senyumannya. "Ini benar-benar luar biasa indah, paman."


Aldric menatap wajah cantik Arabella, tidak fokus dengan apa yang diutarakan gadis itu. "Pasti paman sering mengunjungi tempat ini? " tanyanya seraya menoleh.


"Paman, hei! "


"Paman tidak mendengarkan ucapanku? "


"I'm sorry, apakah kau bisa mengulanginya lagi, Bella?"


"Apakah paman sering mengunjungi tempat ini?" ulang Arabella. Kali ini Arabella yang terpaku menatap wajah Aldric.


Aldric memfokuskan maniknya, memandang lurus ke depan. "Iya disaat jenuh, dan mempunyai masalah, aku mengambil waktu istirahat ku untuk menyendiri disini. "


Arabella merasa jika ada sesuatu yang di pendam pria itu. "Bagaimana perasaanmu saat ini paman? apakah kau masih bersedih? "


"Ya, Bella." Aldric menghela napas, menjeda kalimatnya."Seandainya semalam tidak datang terlambat, mungkin saja ayah Cloud ... "


Arabella reflek merangkup tangannya, kalimatnya terhenti. Dirasakannya kehangatan dan kelembutan telapak tangan Arabella.


"Kenapa paman berkata demikian? paman sudah berusaha melakukan yang terbaik. Meskipun tidak sesuai dengan harapan, tapi percayalah, Tuhan sedang merencanakan yang terbaik, yang terindah dibalik musibah yang telah terjadi. Jadi, buanglah rasa bersalah mu, paman. "


Aldric menatap ke arah pijakannya menelaah kalimat yang Arabella katakan. Tiba... Tiba...


Cup...


Satu kecupan mengenai sisi wajahnya. Aldric menoleh, melihat Arabella tersenyum manis untuknya.


Wajahnya memanas, Aldric gugup dibuat gadis itu. Astaga kecupan manis itu sanggup mengembalikan semangatnya.


"Sekarang tersenyumlah lagi, paman."


Aldric tersenyum, seraya menarik Arabella ke dalam pelukannya membuat Arabella terkejut, namun gadis itu menikmati semua dengan mata tertutup, ini indah, ia bisa menghirup kuat aroma maskulin tubuh Aldric.


Arabella menggerakkan kedua tangannya, membalas pelukan Aldric yang sangat hangat.


Aldric mengangkat wajah Arabella, hingga ujung hidung mereka saling bersentuhan. Aldric maupun Arabella merasakan hembusan napas mereka yang saling memburu.


Arabella membuka maniknya. Keduanya sama-sama terdiam, saling mengunci tatapan masing-masing. Aldric memajukan lagi wajah, kembali Arabella terpejam ketika bibiir Aldric menyentuh bibiirnya, melumaat pelan.


Aldric menyelesaikan panguutannya. Arabella membuka mata, lalu ia tersenyum malu. "Kau telah mencuri ciuuman pertamaku, paman. " bisiknya.


"Benarkah?? " Aldric menarik kedua sudut bibirnya. Arabella mengangguk, menjawab pertanyaan pria matang itu.


"Arabella, mau kah engkau ikut bersamaku ke arah kebahagiaan? "


Arabella tertawa kecil. "Berikan dulu alasannya terlebih dahulu paman, sebelum aku menjawab pertanyaanmu."


"Karena aku menyukaimu, Bella. " bisiknya parau mengusik diri Arabella.


"Jika itu, alasannya. Jawabannya aku mau." Arabella berjinjit lalu berbisik. "Karena aku juga menyukaimu paman."


Keduanya saling lempar senyuman. Aldric kembali membungkam bibiir Arabella. Gadis itu berusaha mengimbangi lumataannya, pergerakan kaku, tapi sukses menciptakan rasa bahagia di hatinya.


Ha, terimakasih Arabella..


🍂🍂🍂


"Kemana perginya Aldric?? " Richard mendapati pesan. Segera ia mengeluarkan ponselnya dari saku jasnya. "Aldric, " kemudian ibu jarinya bergulir, membuka pesan dari anak buahnya itu.



Restui hubungan kami berdua ayah mertua. 😎♥︎


.


.


.


Selesai, kapal Aldric sudah berlabuh 😅. Sebenarnya bab tentang Aldric tidak masuk dalam rencana. Tapi tak apalah biar pada relax dulu, g semosian terus-terusan. 🤭🤭 Tinggalkan like n komentnya ya.. Terimakasih ❤