
Pagi datang menyingsing. Matahari pun nampak hadir setelah hujan mengguyur semalam tadi. Cloud terbangun dari tidurnya yang hanya tiga jam, dan didapati Hana bersandar di tubuhnya.
Cloud melihat ke arah Hana yang masih menutup mata. Ia pun menjauh sedikit, demi dapat melihat keseluruhan wajah dari kekasihnya itu. Spontan Cloud mengembangkan senyuman. Ia menompang kepalanya, dan memandang Hana yang masih terlelap.
Dirapikan helaian rambut yang menutupi sedikit wajah Hana. Cloud menelisik setiap detail wajah Hana, dan tidak ada yang terlewati barang sedikit pun. Ia menikmati pemandangan yang di ciptakan semesta begitu indah di hadapannya.
Apa dikehidupan sebelumnya, insiden semalam pernah terjadi padamu Hana? pertanyaan begitu saja hadir di benaknya.
Cloud mencium pipi Hana, kemudian ia bergerak pelan segera membawa kakinya menuju toilet. Beberapa menit telah berlalu, Cloud sudah keluar dengan wajah yang terlihat segar.
Dilihatnya Hana masih begitu terlelap. Cloud kembali menelusuri kakinya. Ia menyibak tirai, dan membuka pintu penghubung ke arah balkon hingga cahaya matahari benar-benar masuk menyoroti sebagian tubuhnya yang masih polos.
Cloud menuju pantry kecil di dalam kamar. Ia berencana membuat secangkir kopi, dan coklat panas untuk Hana. Selanjutnya ia akan membuat sarapan untuk mereka berdua.
Hana mengerjap, kelopak mata yang terbingkai bulu mata tebal itu bergerak naik hingga manik coklat indah nampak berkilau. Ia menghidu aroma kopi, dan coklat panas menguar mengusik indra penciumannya. Hana mengerjap, lantas ia pun bangun menatap Cloud yang membelakanginya. "Cloud," panggil Hana, suaranya merdu mendayu-dayu. Terdengar manja.
Mendegar suara khas Hana memanggilnya, Cloud berbalik."Good morning, Hana. " sapa Cloud sambil melempar senyum terbaiknya. Ia melihat wajah bantal Hana, dengan rambut yang tergerai acak-acakan. Terlihat menggemaskan.
"Good morning too Cloud," balas Hana seraya mepijakkan kedua kakinya di atas lantai marmer yang dingin. Hana mengarahkan kakinya menuju toilet. Ia perlu menyikat gigi, dan mencuci wajah.
Kembali Cloud membalikan tubuhnya melanjutkan aktivitasnya, mengaduk coklat hangat yang baru ia seduh dan membuatkan sarapan.
"Kenapa kau tidak membangunkan ku, Cloud?" tanyanya seraya memeluk tubuh Cloud dari belakang, dan menghidu wangi sabun yang melekat ditubuh polos kekasihnya itu.
"Kau tidur sangat lelap Hana, dan aku tidak ingin membangunkanmu." Sepintas Cloud menatap lengan Hana yang melingkar indah di perutnya, dan ia merasakan tubuh Hana bersandar dipunggungnya. Untuk kesekian kalinya ia tersenyum. Sungguh, apa yang dilakukan Hana saat ini mempengaruhi jantungannya, mengantarkan sebuah ketenangan. Cloud menyukainya.
Hana ikut tersenyum dibalik punggung Cloud yang ia sandari. "Begitu kah?" tanya Hana kemudian. Cloud melepaskan lingkaran tangan Hana, lalu ia berbalik.
"Um..Ya," kedua alis Cloud terangkat, bibirnya tersenyum melihati Hana lalu mengusap pipi lembut itu dengan sayang. Cloud maju, mendekati bibir, dan memberikan Hana kecupan. "Kecupan yanga sangat manis dipagi hari."
Hana tertawa pelan. "Dan kau paling pandai mengawali hari dengan baik Cloud." Kini Hana membalas kecupan Cloud tadi.
"Aku ingin membuatkan sarapan untukmu. Kau duduklah," Cloud mengangkat tubuh Hana, dan menduduki Hana diatas meja pantry kemudian, lalu ia mempersiapkan bahan-bahan untuk membuat sandwich.
"Kapan kau pergi berbelanja, Cloud?" tanya Hana, ia mengayunkan kedua kakinya di sisi meja.
"Semalam. Aku membeli melalui jasa layanan antar sayang," Cloud memulai mencuci daun selada, dan juga tomat.
"Nanti Ayden akan menjemputmu, setelah dia berkunjung ke kantor kepolisian." Kata Cloud, tanganya bergerak mengambil pisau, lalu ia memotong tomat.
"Aku masih ingin bersama denganmu Cloud," jujur Hana seraya mengambil potongan tomat, dan memasukkan ke dalam mulutnya.
Cloud tersenyum lagi mendengar kejujuran dari kekasihnya yang masih duduk manis di atas meja pantry.
Cloud meletakkan pisau di meja, merubah posisinya di depan Hana kini. "Maafkan aku," Cloud memegang lembut dagu Hana lalu sedikit membungkuk, lantas ia mengecup lagi bibir Hana. "Tapi kau tenanglah, masa training ku tidak akan lama lagi."
Mendengar penjelasan Cloud, mengembalikan senyumannya. "Kau tidak lagi bergurau kan Cloud?" Mata Hana membulat, tubuhnya yang masih ditutup badrobe, ditahannya dan mencondongkan ke arah Cloud.
"Ya tentu saja Hana," bisiknya di dekat bibir Hana. Beberapa detik mereka saling menatap, menimbulkan sensasi yang menggetarkan seantero tubuh mereka.
Segera Cloud meraih pinggang Hana, detik berikutnya bibir mereka kembali bersatu. Keduanya terhanyut terlebih dahulu, lalu berikutnya tenggelam dalam lautan hasraat. Hana mencengkram rambut Cloud, sementara Cloud menahan tubuh Hana dengan rangkulan posesif.
Keduanya masih tenggelam. Bahkan dentingan bel tidak membuat mereka merubah posisi. Cloud menuruni mulutnya. Membuat Hana mendongak, memberi izin Cloud mengekspor setiap jengkal leher jenjangnya. Satu lengguhan melesat dari mulutnya yang terbuka, ketika Cloud memberikan jejak.
Dentingan bel berbunyi lagi. "Cloud," pekik Hana mendesaah seraya mendorong tubuh Cloud, sukses membuat Cloud tersadar. Cloud meneguk salivanya dan mengeram pelan frustasi melihat tampilan Hana dengan kerah badrobe menyibak, sehingga bahu mulus Hana nampak, bahkan belahan daada gadis itu...
Hana membenarkan kerah badrobenya. "Sepertinya Ayden sudah datang Cloud." Hana tertunduk, malu. "Aku ingin ke toilet." Hana turun, dan melangkah cepat meninggalkan Cloud.
Ujian lagi.....
Sedangkan diluar, Ayden masih berdiri berencana menekan bel lagi. Pintu pun akhirnya terbuka. "Kenapa lama sekali!" protes Ayden menatap Cloud penuh selidik dan curiga.
"Aku baru saja menerima panggilan di bilik," bohong Cloud dengan baik. Ayden mengangguk, ia pun masuk yang disusul Cloud setelah cloud menutup pintu. "Kau ingin kopi?"
"Iya, apakah Hana berada di dalam toilet?" tanya Ayden tidak melihat siluet adiknya. "Iya..." singkat Cloud.
"Hana... "
Tokk.. Tok....
Hana membuka pintu, dan bersembunyi di balik pintu. "Aku membawa pakaian untukmu." Ayden menyerahkan paper bag ke tangan Hana.
"Terimakasih."
🍂🍂🍂
Ketiganya duduk bersama di bilik setelah menyantap sarapan mereka. "Aku sudah ke kantor kepolisian membuat laporan."
"Lalu, bagaimana dengan hasilnya? apa pria itu bisa terjerat hukum?" tanya Cloud masih mengkhawatirkan Hana.
"Iya Cloud, ditambah lagi adanya dugaan pencucian dana saham yang dilakukan Arthur. Dan---" Ayden melihat adiknya.
"Dan apa? kenapa kau menatap ku seperti itu?" Hana melototkan matanya.
Ayden menggigit bibir bawahnya, lalu berdeham. " Sahabatmu terlibat insiden yang kau alami semalam, Hana."