
"Mus naaskanlaah aku Ace." Permintaan Justin.
Sejak terkurung diruang bawah tanah, keematian adalah akhir penderitaan hidupnya. Sekarang ia menawarkan diri lagi, atau tepatnya mengorbankan diri untuk membebaskan putra satu-satunya.
Ace, si manusia bedabah itu lagi- lagi tergelak. "Astaga. kalian dengar, dia mengorbankan nyawa untuk putranya." Pekiknya sambil menoleh ke arah dua anggota yang masih duduk manis, menyaksikan adegan nyata di depan mata dengan menikmati perpaduan asam, manis and creamy dari wine.
Ace kembali menatap Justin, dengan tatapan ketidaksukaan.
"Mari, kita mulai drama menyedihkan tentang pengorbanan seorang ayah."
Cloud pun bangkit. "Kau ingin kemana, bung? kita belum bermain-main." Jay tiba-tiba muncul di depan mencoba menghalangi langkahnya.
"Menyingkirlah!!" ucap Cloud tidak takut dengan perangai pria itu.
Cloud membalas tatapan Jay. Kedua tangan yang berada di sisi tubuhnya, mengepal menahan amarah. Rahangnya ikut mengeras melihat wajah Jay.
Jay masih berdiri di tempatnya, tidak ingin memenuhi permintaan Cloud.
Memanfaatkan situasi Cloud yang terhimpit, ia menggerakkan bola matanya memberi kode kepada Louis yang mucul di belakang tubuh Cloud. Pria itu memegangi tubuh Cloud dari belakang dengan tangannya melingkar di tangan Cloud. Cloud terperangkap, tangannya terkunci.
"Kita bisa memulai dengan menghaajar anaknya terlebih dahulu!"
Jay menarik satu sudut bibirnya. "Dengan senang hati, aku akan melakukannya." Jay mengepalkan tangannya, ia memulai mengudarakan tiinjunya mengenai atas perut Cloud telebih dahulu.
Haah.... Cloud melepas napas panjang yang memberat.
"Kenapa kalian nenyiksa putraku, hah! "
"Diamlah Justin... " Ace sengaja mencengkram rambut Justin, mendorong tubuh Justin. Justin terjatuh, keningnya membentur lantai dengan keras.
Menyaksikan ayahnya diperlakukan seperti itu, Cloud murka. Ditendangnya perut Jay sehingga pria berambut godrong itu mundur.
Geraman terdengar, bersamaan gestur tubuhnya memberontak. Cloud menyikut perut Louis. Akhirnya ia terlepas, lalu berputar dengan satu tendangan mengenai sisi tubuh Louis.
Louis tidak tinggal diam, ia pun maju, membalas serangan Cloud dengan melambungkan tinjunya. Cloud segera menangkis, lalu bergerak cepat ia menghantamkan kepalan tangannya tepat di bawah rahang Louis. Louis terpelanting ke belakang.
Jay terbangun. Cloud beralih menatap tajam pria itu. "Seraang aku lagi, pemuda!" tantang Jay, meremehkan.
Cloud mendekat penuh kewaspaadan. Membaca gerak-gerik Jay yang melangkah. Cloud mundur, menghindar, membuat Jay kini yang maju. Cloud mengayunkan kepalan tanganya ke wajah Jay, tanpa. ada perlawanan.
Jay sedikit meringis, diakhiri gelak tawanya.
Cloud mengatur napasnya. Kemudian kembali ia menghantamkan wajah Jay, tangannya mendarat di hidung Jay hingga mengeluarkan darah. Jay mulai terpancing, ia membalas dengan teendangannya yang melayang. Cloud bisa menghindar lalu terjadi baku hantam diantara mereka.
Cloud berbalik lagi, ia menangkis serangan kedua Loius, menghantam tangan yang memegang kayu hingga kayu terlepas dari genggaman Lois. Cloud menghajar pria itu tanpa ampun.
Dengan wajah penuh lebam, Jay dan Louis terkapar.
Ace menyaksikan semua, ia bertepuk tangan. "Hahahhaha... Akhirnya sisi liarmu keluar Cloud, kau sangat hebat."
Cloud memutar tubuhnya, ia bergerak menyerang Ace dengan satu tinjunya mengenai pipi pria itu.
"Ayo lakukan lagi," tantang Ace seraya mengusap darah yang keluar dari hidungnya. Dia mendapatkan lagi hantaman dari kepalan tangan Cloud. Cloud mengatur napasnya sebentar, kemudian ia menerjang Ace hingga tubuh pria itu roboh.
Cloud menduduki tubuh Ace, meraih baju pria itu. Kembali ia melayangkan tinjunya di wajah Ace. Menghajar pria itu membabi buta.
"Hahaha, ini tidak sakit sama sekali," kekehnya dengan bibirnya dipenuhi darah.
Satu pukulan keras di bagian bibir, mengakhirinya. Lalu Cloud berdiri, berjalan mendekati ayahnya. "Ayah...." lirihnya menatap ayahnya mendapatkan lebam lagi di kening akibat benturan keras. Cloud meluruh, mengusap kening ayahnya.
Melihat sebuah besi panjang di dekatnya. Jay menyeringai. Segera ia mengambilnya, berniat untuk memukul Cloud.
Pria itu melangkah seraya menarik besi panjang. Brugh...
Cloud tersungkur dan memekik kesakitan di bagian punggungnya. "Cloud... " mendengar suara ayahnya, Cloud berusaha bangkit.
Sekali lagi Jay memukul punggung Cloud membuat Cloud kembali tersungkur dan darah segar keluar dari mulutnya. Jay menarik kaki Cloud, menyeret tubuh Cloud agar menjauh, dan menahan dengan menduduki punggung Cloud.
"Sekarang giliranku, " Ace pun berdiri, ia mengeluarkan pistolnya dari dalam sakunya. "Kau ingin mengorbankan nyawamu untuk putramu bukan? " senjata api itu diarahkan ke tubuh Justin.
"Jangan lakukan Ace... " teriak Cloud pilu, air matanya pun meluruh. Dengan tubuhnya masih terperangkap, Cloud mencoba melepaskan diri dari tubuh Jay yang mendudukinya.
"Lakukanlah, dan wujudkan niatmu saat itu. "
Percayalah tidak ada ketakutan dari nada suaranya. Justin semakin tertantang. Inilah yang diharapkannya.
Ace menyeringai. Perlahan-lahan ia mulai menekan pelatuk dari senjatanya. Sorot matanya semakin menajam menatap Justin seolah buruannya.
"Ucapkan selamat tinggal untuk putramu, Justin. "
"Jangan Ace...Jangan..."
Door.....