
"Kemana perginya Alana?" Paula merotasi pandangannya mencari keberadaan sahabatnya, begitupun juga Anne.
Sudah 10 menit mereka mencari Alana di dalam gedung Fakultas, tetapi mereka tidak menemukan keberadaan sahabatnya itu.
"Hei Dominic, apakah kau melihat Alana?" tanya Paula begitu melihat teman sekelasnya yang baru saja keluar dari perpustakaan.
"Beberapa menit yang lalu, aku melihatnya ke arah sana. " Ucap pria itu, menunjukkan jari telunjuknya ke arah kanan. "Dia seperti sedang bersedih. Apa yang sedang terjadi? Apakah kalian bertengkar?"
"Jangan berbicara yang tidak-tidak jika kau tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Lebih baik kau diam dan tahan penasaranmu Dominic. Terimakasih."
Kembali Paula dan Anne melangkah, mengarahkan kedua kaki mereka ke arah yang ditunjukkan Dominic tadi. "Mungkin dia berada di taman." tebak Anne.
Dan benar saja, langkah mereka pun berhenti saat mereka menemukan Alana dengan posisi membelakangi mereka dan bersama dengan seorang pria.
"Siapa pria itu?" Anne cukup terkejut dengan apa yang ia lihat di depannya. Segera, Anne menatap Paula yang sedang cengegesan.
"Perhatikanlah, masa kau tidak mengenalinya?" Anne meluruskan pandangan untuk kembali melihat pria yang memeluk sahabatnya itu. "Ayden Pastone!" pekik Anne dengan kedua tangan menutup mulutnya.
Seperti halnya Paula, Anne adalah salah satu fans fanatik dari pria bermata legam itu.
"Pelankan suaramu," perintah Paula berbisik.
"Bagaimana bisa Alana mengenalnya?" tanya Anne yang masih specless. Kapan tepatnya sahabatnya itu berkenalan dengan sosok Ayden, mendadak ia ingin mengetahui semua. "Nanti aku ceritakan."
Paula dan Anne hendak mendekati sahabatnya itu, namun pergerakan tangan Ayden memberi kode agar mereka pergi dari sana. Sedikit kejam, tapi Paula dan Anne tidak mempermasalahkan. Justru sebaliknya.
Sudah saatnya sahabatnya itu move on dari cintanya yang bertepuk sebelah tangan dengan membuka hati untuk pria yang ingin mendekatinya, salah satunya seorang Ayden Pastone.
Paula pun meletakkan tas Alana di kursi yang tidak jauh dari mereka. Lalu mereka pun berlalu dari sana.
Beberapa menit kemudian....
"Bisakah kau melepaskan pelukanmu?" pinta Alana, setelah ia cukup merasa tenang.
"Hei, kau tidak mendengarkanku!" Alana sedikit meninggikan suaranya, namun Ayden masih tidak melepaskan dekapannya. Rupanya, menit-menit yang sudah berlalu membuat Ayden kerasan memeluk tubuh Alana. Menghirup dalam-dalam harum dari surai gadis itu, Ayden menikmati moment ini.
Berpelukan, di tengah taman dan di bawah lagit yang nampak cerah. Banyak pasang mata yang menatap ke arah mereka.
"Aku masih ingin memelukmu," jawabnya santai.
Apa-apaan dia? sebenarnya yang bersedih aku apa dia sih. Gerutu Alana dalam hati.
Ia berdecak kesal. "Lepaskan tubuhku, berengsek!" bentak Alana, kembali ia ke sifat aslinya. Galak dan angkuh. Tapi kedua sikap itulah yang membuat seorang Ayden Pastone tergila-gila kepada Alana dan semakin memuja gadis bermata bulat itu. Dia sudah bucin akut.
Rahang bergaris tegas milik Alana tampak makin mengetat, ia mulai memberontak. Memukul dadaa Ayden berkali-kali, namun pria itu tidak memperdulikannya. Justru sebaliknya, Ayden semakin mengeratkan tubuhnya. Ingat, dimana ada kesempatan Ayden tidak akan menyia-nyiakan.
Tiba-tiba...
"Auwh." Ayden meringis kesakitan di bagian lengan atasnya hingga akhirnya pelukannya pun terlepas.
"Rasakan!!" Pekik Alana, menatap Ayden dengan mata yang menyala. Alana terlihat sangat puas telah menggigit pria itu dan tidak memikirkan, apakah gigitannya meninggalkan bekas memar di bagian lengan yang berotot itu.
"Gigitanmu sangat luar biasa Alana," ucap Ayden masih meringis. Perlahan Ayden memajukan wajahnya ke depan. "Aku sangat menyukainya," bisik Ayden tepat di depan daun telinga gadis itu.
"Lain kali gigitlah tepat di leherku dan tinggal jejak manismu." Desaah Ayden serak. Nafasnya yang berat berhembus mengenai pipi Alana.
Mendegar bisikan Ayden serta merasakan hembusan napas pria itu, seketika suhu tubuh Alana memanas.
Alana mendengus kasar, segera ia memalingkan wajah degan angkuh. Namun, Ayden mengakui jika itu sangat cocok sekali dilakukan oleh Alana.
Kembali tatapan Alana tertuju padanya dan untuk beberapa saat keduanya saling menatap dalam diam hingga Ayden berdeham dan kembali Alana mengedipkan matanya berkali-kali.
"Tampaknya sekarang kau jauh lebih baik, Nona." Tebak Ayden yang tidak melesat. "Bagaimana rasa pelukanku? Kau merasa nyaman, bukan?" Ayden mengedipkan mata kirinya.
Alana berkacak pinggang seraya mengangkat dagunya sedikit. "Tidak sama sekali." Alana berkilah, ucapannya tidak sesuai keadaannya saat ini.
Pelukan Ayden sangat nyaman, bahkan feromon yang menguar dari tubuh pria itu sangat maskulin. Alana menyukai itu.
"Oh, " Ayden mengulum bibirnya dan mengangguk mengerti.
Aku harus kembali ke kelas, mungkin Paula dan Anne masih menungguku disana.
Baru saja Alana membalikkan tubuhnya, ia tersentak saat pergelangan tangannya diraih Ayden. "Setelah kau membasahi sweater ku, kau mau pergi begitu saja."
Alana memutar bola matanya, "Terimakasih... " ucap Alana seraya membalikan tubuhnya.
Kembali Ayden meraih tangan Alana, menarik hingga tubuh gadis itu mendekat kearahnya. "Aku sudah mengucapkan terimakasih, lalu kau mau apa sekarang?" geram Alana di dekat wajah Ayden.
Ayden mendesahkan napas pelan."Ikutlah bersamaku sebagai bentuk ucapan terimakasih mu. "
Alana terdiam. Mata indahnya membelalak. "What??"
Tidak mengindakan perkataan gadis itu, Ayden menarik langkah dengan tangan Alana yang masih berada di genggamannya. "Lepaskan!"
"Aku tidak akan melepaskanmu."