Reckless

Reckless
APA RENCANA LEON ?



"Berita apa yang kau dapatkan Bruno? mengapa Ace, Jay, dan Louis tidak bisa dihubungi? " tanya Alston begitu Bruno datang ke ruangannya. Ia tidak memberi jeda untuk Bruno bernapas dengan benar, meskipun ia melihat anak buahnya sedang terengah.


Bruno menatap atasannya yang berdiri di dekat meja itu. Lisannya terasa kelu, sulit untuknya menjelaskan apa yang ia lihat semalam di Old Wood House, tepatnya tempat mereka menyembunyikan Cloud.


"Katakan?? kenapa kau hanya diam!! " bentak Alston menuntut, tidak bersabar. Ia merasa diabaikan oleh anak buahnya.


Bruno berusaha melepas napasnya. "Semalam setibanya saya di sana, ada beberapa kendaraan berlambangkan DEA berada di luar hutan tuan."


"APA? " mata hitam itu menyala dengan murka. Ia membelalak lalu menukik garis tebal diatas kedua matanya.


" Oh...Astaga... Para keparaat itu merusak semua. Argh!! " Alston mengeram kesal, ia meremas gelas kaki berisi wine yang berada di dalam genggamannya.


Prank!!


Gelas itu dilempar, membentur dinding menghasilkan pecahan gelas berserakan menyatu dengan sisa cairan merah dari wine yang mengotori lantai.


Bruno tersentak, dengan tabiat yang ditujukan ketuanya. Alston terlihat sangat marah dengan rahang tegas mengerat.


"Lalu apa yang kau lihat disana??" emosinya semakin memuncak tidak terkendali, terdengar sangat jelas dari nada suaranya, seiring napasnya berhembus dengan panjang, dan kasar.


"Saya melihat dari kejauhan Jay, dan Louis tertangkap, tuan. Dan saya melihat anggota DEA keluar dari rumah tua itu membawa dua kantung jenazah, disusul Cloud. "


Apakah jenazah itu Ace, dan juga Justin? apa yang terjadi sebenarnya? gumamnya.


Alston berkacak pinggang, seraya berjalan mondar-mandir. Ia terlihat berfikir. Pergerakan DEA begitu cepat, kemungkinan keberadaan black eagle sudah diketahui mereka. Sebentar, Cloud? apa pemuda itu terlibat dengan aksi mereka??


Siyal, seharusnya pada saat itu, aku membunuuhnya. Dia sama seperti dengan ayahnya. Pengacau!!


Alston mengusap wajahnya dengan kasar. Napasnya kian memburu memikirkan cara yang dapat ia lakukan untuk melindungi dirinya sendiri. Ia harus bertindak cepat, tidak boleh gegabah.


Bruno masih di posisinya, berdiri menunggu perintah atasannya. Ia melihat seringai tipis muncul di wajah tuannya, membuatnya bergidik ngeri.


Alston kembali menatap Bruno. "Kau tidak lelah berdiri di sana? duduklah!"


Tidak mengeluarkan satu kata apapun, Bruno duduk sesuai perintah dengan perasaan yang cemas.


Alston pun menyusul Bruno. "Aku ingin memberikanmu tugas."


Bruno semakin cemas, tugas apa yang akan di berikan ketuanya kali ini.


Beberapa hari yang lalu, Bruno diperintahkan untuk membuunuh Aisley namun disaat Bruno ingin menjalankan perintah Alston, Alston meminta Bruno untuk menunda setelah mendapatkan berita kemaatian Chalk. Penghapusan sebagian barang bukti yang dilakukan Aisley, Alston yang mempunyai idenya. Hingga terciptanya berita bahwa Mariana membunuuh Chalk karena perselingkuhan yang dilakukan sahabatnya itu. Padahal Mariana meracunii Chalk karena Chalk adalah seorang mafia narkooba.


Berbeda di kehidupan mereka terlebih dahulu, Mariana memutuskan untuk berpisah setelah ia mengetahui perselingkuhan Chalk. Tentang pelecehaan yang dilakukan Chalk, dan keterlibatan Chalk di dunia hitam, Mariana tidak mengetahuinya.


"Tu- tugas apa itu tuan? " dengan gugup, Bruno melayangkan pertanyaan.


"Dengarkan aku baik-baik.... " Alston nampak serius menjelaskan apa yang harus dilakukan anak buahnya, Bruno.


Mendengar perintah ketuanya, Bruno terdiam membeku. "Ta-tapi tuan.... "


"Kau ingin melakukannya atau kau ingin melihat keluarga maati? " ancam Alston tidak main-main.


Bruno menelan ludahnya dengan kasar, ia ketakutan dengan ancaman ketuanya itu. " Ba- baik tuan. Saya akan melakukannya. "


"Bagus, kau hanya melakukan sekali dan semuanya akan selesai. Kerjakan secepatnya , aku menunggu sampai lusa. Ingat tidak ada seorang yang boleh mengetahui ini semua, hanya kau dan aku. "


"Bisa kita berbicara sebentar, son? "


Tanya Richard, ketika mereka sudah sampai di unit apartemen yang di sewanya untuk Cloud setelah mereka mengikuti prosesi pemakaman Justin.


"Tentu bisa sir, " singkat Cloud. Richard menoleh kearah Aldric meminta Aldric meninggalkan mereka berdua. Aldric pun mengangguk, lalu keluar dari kamar yang di tempati Cloud.


"Bagaimana keadaanmu saat ini, apa luka mu masih terasa sakit? " Richard menelisik wajah Cloud yang penuh dengan memar.


"Sedikit sir, " jawab Cloud tersenyum samar. Luka yang di dapatinya, tidak seberapa sakitnya dengan luka dihatinya atas kematian ayahnya. Terlebih, ia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri, ayahnya dibunuuh.


Cloud tertunduk, cairan bening hadir lagi melapisi kedua matanya. Richard tertegun, tangannya pun bergerak merangkul bahu Cloud.


"Setelah ini apa yang ingin kau lakukan, son? "


Pertanyaan Richard berhasil mencuri atensinya. Cloud kembali menatap pria itu. Kembali ia mengingat pesan mendiang ayahnya.


Setelah ini tinggalkan Philadelphia nak, ajaklah ibumu untuk kembali bersama keluarganya. Kau dan juga ibumu akan aman di sana.


"Ayahku memintaku untuk meninggalkan Philadelphia, sir. "


"Lalu kau akan pergi kemana? "


"Italy sir, di sana negara ibuku berasal."


Richard mengangguk mengerti. "Aku akan mempersiapkan semua untuk keberangkatanmu, dan juga ibumu." Richard menepuk pelan pundak Cloud.


"Terimakasih sir. "


"Harusnya aku yang berterimakasih padamu, son. Kau sudah banyak membantu kami untuk menjalankan tugas. Kau pemuda yang sangat berani. " Cloud hanya tersenyum menanggapi kalimat pujian untuknya.


Richard mengambil tas yang ditinggalkan Aldric di atas sofa, dan memberikan pada Cloud. "Aku kembalikan barang milikmu, son. Abigail sudah membersihkan barang bukti yang berada di laptop dan ponselmu."


Cloud membuka tas miliknya, lalu ia mengeluarkan ponselnya.


" Kau ingin menghubungi ibumu? "


"Iya sir, " jawab Cloud pelan.


"Oke, aku akan menunggumu di meja makan."


Richard melangkah keluar dari kamar Cloud, dan tidak mendapati Aldric disana. "Kemana perginya Aldric?? "


Hayoo kira-kira si paman menawan kemana 🤣 ada yang tau??


.


.


.


Bonus visual papa Richard, gimana readers?? 😏