Reckless

Reckless
ADA APA DENGAN AYDEN??



"Hana, kenapa kau berdiam disana? Kemarilah sayang." Panggil Kyle seraya bangun dari pangkuan Alston, sang suami.


Hana yang sedang menyaksikan keintiman kedua orangtuanya di dekat pintu terhubung, ia pun membawa kakinya menuju gazebo untuk menghampiri kedua orangtuanya.


"Daadd," Hana menyapa Ayahnya . "Aku merindukanmu." ucap Hana lagi sembari memeluk tubuh Ayahnya dari samping.


Alston tersenyum lembut. Membalas memeluk Hana, ia membelai rambut putrinya penuh kasih. "Dad, juga merindukanmu Nak." Jawab Alston, mengecup puncak kepala Hana setelahnya.


Hana memundurkan tubuhnya, untuk memandang lekat wajah Ayahnya yang tidak menua meski usianya tidak lagi muda. "Tapi sepertinya kau lebih merindukan Mom, Dad." Kelakar Hana dengan jenaka.


Dasar anak nakal.


Alston pun hanya bisa tertawa, ucapan putri satu-satunya memang seperti itu faktanya. Perjalanan bisnis ke negara Singapore sepuluh hari lamanya, membuat Alston sangat merindukan istrinya.


"Katakan, apa yang membuat dirimu, tergila-gila pada Momy, Dad?" tanya Hana.


Sebelum menjawab pertanyaan putrinya, Alston menyempatkan diri untuk melirik istrinya, seraya tersenyum menggoda. Kyle yang sedang memotong cake, tersipu malu begitu manik mereka saling bertemu.


Sungguh perilaku mereka layaknya sejoli yang baru menjadi sepasang kekasih. Hana cuma bisa menggelengkan kepalanya melihat adegan lirik-lirikan antara kedua orangtuanya itu.


"Sudahi adegan lirik-lirikannya Dad." Alston terkekeh pelan. "Cepat beritahu aku." Hana mulai tidak sabaran.


"Sentuhan dari jemari Momy mu, sayang." Jawab Alston asal di iringi gelak tawanya. Hana terkesiap, begitu juga Kyle.


"Hentikan bicara yang tidak-tidak di depan putri kita, Alston!!" perintah Kyle yang tidak dihiraukan. Alston semakin mengeraskan gelak tawanya. Hana mengerjapkan matanya, sejurus kemudian ia pun ikut tertawa. "Oh daddy, this is so funny. Jadi, itu yang membuat Dad bertekuk lutut pada Momy?"


"Ya seperti itu, sayang." Lagi, Alston menggerakan jarinya membelai rambut Hana. Alston mengulum senyuman, melihat wajah geram istrinya menahan rasa kesal.


"Jangan dilanjutkan lagi Alston, kau bisa membuat putri kita berfikir yang tidak-tidak."


"Putri kita sudah dewasa sayang, jangan lupakan itu."


Kyle berdecak. "Jangan kau dengar kalimat Dady mu yang barusan,sayang. Kau ingin cake?" Kyle mengalihkan pembicaraan mereka. Jika tidak dilakukan, pembahasan antara Ayah dengan putrinya tidak akan selesai.


"No Mom, aku sangat kenyang." Tolak Hana, kembali ia memeluk Ayahnya, dan menghidu aroma parfume dari tubuh Ayahnya.


"Baiklah." Kyle mengangkat teko terbuat keramik yang berada di meja, dan menuangkan teh herbal ke dalam cangkir Alston yang sudah kosong. 


"Jelaskan kepada Dad, kenapa kau baru pulang?" Hana mendongakkan wajahnya, dan lagi ia menatap Ayahnya. "Tadi aku bersama Lvy, ke apartemen Clara untuk melihat kondisinya."


"Apa dia sakit?" tanya Kyle sambil meletakkan cangkir di depan Alston. "Tehmu... "


"Terimakasih sayang." Kyle pun mengangguk, dan ia pun duduk di samping kiri putrinya.


"Tidak Mom, dia baik-baik saja," Hana mendesah pelan, wajahnya sedikit murung memikirkan sahabatnya itu. "Clara sedang dihadapi sebuah masalah."


"Apa masalanya serius?"


"Ya Dad, Paman Abigail dan Bibi Agatha akan segera bercerai."


"Oh...Ya Tuhan..." Kyle turut mengiba, dan sedikit tidak percaya. Beberapa kali bertemu dengan pasangan suami istri itu, mereka terlihat akur dan mesra.


"Ya, posisi Clara pasti sangat sulit. Kau sebagai sahabatnya harus memberikan perhatian lebih." Hana mengangguk setuju dengan ucapan Ayahnya.


"Aku akan selalu bersyukur memiliki kalian. Meski kalian kerap mempertontonkan kemesraan, dan membuat mataku tercemari, aku berharap Mom and Dad selalu seperti ini."


Alston memandagi putrinya, dan tersenyum lembut.


"Oh ya Mom, apakah putramu sudah berangkat ke Atlanta?"


"Ayden membatalkan penerbangannya hari ini."


Dahi Hana mengernyit. Bukannya saudaranya kemarin mengatakan sudah memesan tiket penerbangan ke Ibu Kota Georgia sore ini. Ada apa dengannya?? Hana membantin.


"Sejak tadi, Ayden berada dikamarnya dan tidak keluar sama sekali. Momy sangat khawatir. Cobalah kau temui kakakmu sayang, dan tanyakan. Mungkin saja dia masalah dan mau tebuka kepadamu."


"Baiklah, aku akan menemuinya."


Hana menuruti permintaan ibunya untuk menemui Ayden. Kini, ia sudah berada di depan kamar saudara laki-lakinya itu.


Tok... Tok...


"Ayden, bolehkah aku masuk?" tidak ada jawaban dari Ayden, Hana menarik tungkai dan mendorong pintu kamar hingga terbuka sempurna.



Hana segera menyapu pandangannya, memeriksa keberadaan Ayden."Kemana dia??" Hana tidak menemukan keberadaan Ayden di sana. Hana melangkah semakin ke dalam, dan kedua kakinya berhenti di depan pintu kamar mandi.


"Ayden apa kau berada di dalam??" Hana mengetuk pintu tersebut dan lagi-lagi tidak ada sautan dari sang kakak.


"Dimana si bujangan itu?"


Hana pun keluar, dan menuju kamarnya yang bersebelahan dengan kamar Ayden. Suara dengkuran menyambut, begitu Hana membuka pintu kamarnya. "Astaga dia tidur disini."


Ya, Ayden sedang tidur di tempat tidur Hana.


"Ish.. " Hana memperhatikan Ayden yang masih terpejam dengan posisi tengkurap. Manik Hana bergerak, menyelusuri lengan saudaranya yang di penuhi dengan ukiran-ukiran itu. "Dia menambahkan lagi tatto di lengannya. Ck. "


"Hei, bujang lapuk..." Hana mencolek-colek lengan Ayden. "Bangunlah!!"


Ayden sedikit membuka matanya, "Pergilah, jangan menggangguku. Aku masih mengantuk," jawabnya, kembali ia menutup matanya.


"Astaga..." Hana geram, melihat kelakuan saudaranya yang seenak jidatnya tidur di kamarnya. Apa-apaan dia, mengusir ku dari kamarku.


Hana berjalan mondar-mandir, seraya menggigit kukunya. Gadis itu sedang memikirkan apa yang akan ia perbuat kepada saudaranya. Ia tidak bisa membiarkan Ayden berlama-lama menikmati kasur empuknya.


"Aha... "


Kira-kira apa yang akan di lakukan Hana kepada Ayden? 🤭