Reckless

Reckless
KEJUTAN




"Sudah lama kita tidak menikmati waktu seperti, Hana." Lvy melompat ke atas kasurnya menyusul Hana yang sedang berbaring.


"Kau terlalu sibuk dengan dosenmu, Lvy. Dan mengabaikan aku." Hana tersenyum, memutar bola matanya asal.


"Ck... Aku tidak bermaksud untuk mengabaikan mu Hana ku sayang. Hanya saja, pria ku sering mengunjungiku akhir-akhir ini. Kau jangan cemburu. Oke. " Lvy merapat, lalu. "Muacch." kekeh Lvy, menggoda Hana. Baru saja ia melayangkan kecupan di sisi wajah sahabatnya itu.


"Euihh, menggelikan!" Hana mencibik, mengusap pipi untuk menghapus jejak bibir sahabatnya.


Lvy pun mengulum bibirnya. "Jika Cloud yang melakukannya, pasti kau sangat menikmati, dan meminta lagi. Aku berkata benar bukan?" kelakarnya seraya menyikut tangan Hana berkali-kali.


Hana mendesis pelan. "Kau sangat mesyum, Lvy. " hardik Hana melayangkan tatapan tajam. "Ah aku lupa jika sahabatku yang lugu ini sudah tidak lugu lagi."


"Kau juga demikian Hana," keduanya pun tertawa bersamaan seraya melempar pandang ke arah langit-langit kamar.


"Hana..." panggil Lvy dengan suaranya yang terdengar serius. "Ada hal aku ingin ceritakan kepadamu." Lvy pun bangun di ikuti Hana kemudian.


"Ada apa Lvy?" tanya Hana menyambar bantal di dekatnya, dan meletakkan benda empuk itu di atas pangkuannya.


Lvy mengeluarkan kalung yang terpasang di lehernya dari balik pakaian. Ada sebuah cincin yang terpasang di sana. "Seminggu yang lalu, mr Aron melamar ku, Hana."


Ya, lamaran itu terjadi pada saat Hana menemani Clara untuk menghadiri pesta ulang tahun dari sepupu Clara. Lvy tidak bisa menemani karena mr. Aron datang berkunjung ke rumahnya, dan melamar Lvy di depan ke dua orang tuanya secara tiba-tiba.


Hana membulatkan matanya, dengan dua tangan menutup mulutnya yang terbuka. "Kau dilamar??" pekiknya, menatap Lvy tidak percaya. Ini sebuah kabar yang mengejutkan.


"Iya Hana," jawab Lvy disertai anggukan. Gadis itu tersenyum samar.


"Aaaa... Congrats sahabat ku tersayang!" jerit Hana seraya memeluk tubuh Lvy sangat erat. "Aku turut bahagia mendengarnya." Hana melonggarkan pelukannya kemudian, lalu ia mengusap air mata seraya tersenyum. "Kau maju selangkah Lvy," ucap Hana lagi dengan hembusan napasnya yang terdengar.


"Lalu, kapan kalian berancana akan menikah?" tanya Hana yang diliputi rasa penasaran.


"Kami belum membicarakan kelanjutannya. Tapi, Hana--" Lvy terdiam sejenak, memikirkan ucapan mr. Aron saat itu yang memintanya untuk ikut ke New York setelah mereka resmi menikah, dan menetap disana. Lvy, mengugis bibir bawahnya, air wajahnya berubah sendu. Dia akan jauh dengan keluarganya, dan juga Hana.


"Ada apa, Lvy?" Hana meraih, dan mengenggam tangan Lvy. "Kenapa kau bersedih?"


"Ada yang hal aku fikirkan, Hana. Setelah menikah nanti, aku diajak tinggal bersamanya di New York." Jelasnya, tentu membuat Hana mengerti.


Hana mengulum bibir ranumnya. "Sudah kewajiban seorang istri ikut dengan suaminya. Dan kau harus siap akan hal itu, Lvy. "


"Tapi, kita akan berpisah Hana," suasana mendadak melow, dan sedikit dramatis.


"Ayolah Lvy... Jangan bersedih seperti itu." Hana semakin mengeratkan genggamannya, memberi semangat. "Perjalanan Philadelphia ke New York hanya dua jam. Jika kau merindukan ku, kau masih bisa mendatangiku ataupun sebaliknya."


"Ya yang kau katakan benar, Hana. Oh ya, bay the way pukul berapa Cloud akan menjemputmu?"


"Pukul dua nanti, " ucapnya seraya melirik jam yang menempel di dinding kamar sahabatnya. "Oh my God, sudah pukul satu lewat. Aku harus segera bersiap-siap. "


🍂🍂🍂


Hana keluar dari pintu gerbang setelah mendapatkan kabar dari Cloud. Lvy mengantarnya.


"Eghm, maaf telah membuat anda menunggu lama tuan." Suara Hana mengalihkan tatapan Cloud dari layar ponselnya, dan memandang Hana yang sudah berdiri di dekatnya.


"Hana," seulas senyuman menawan pun terbit dari bibirnya. Cloud turun dari motornya lalu memeluk kekasihnya itu. "Tidak apa-apa, masih ada dua jam sebelum konser dimulai."


Cloud melepaskan pelukannya. Memandang lagi wajah Hana sejenak sebelum ia memiringkan tubuhnya untuk menyapa Lvy. "Hai Lvy, bagaimana kabarmu?" Hana mengeser tubuhnya, berpindah ke samping Cloud.


"Aku sangat baik Cloud," jawab Lvy membuat Cloud mengangguk. "Syukurlah. Apakah kekasihku merepotkanmu?" tanya Cloud seraya melingkarkan satu tangannya di belakang pinggang Hana.


"Tidak Cloud, kekasih mu hanya memintaku untuk memakaikan masker di wajahnya, memakaikan


kutek di kukunya, dan meluruskan rambutnya."


Hana melototkan matanya, melayangkan protes dari tatapannya itu. "Jangan memutar balikkan fakta Lvy!" ujar Hana. "Kau yang menawarkan diri dengan suka rela."


Yang dikatakan Hana benar, Lvy lah yang menawarkan diri. Lvy pun cekikikan, wajah Hana terlihat lucu jika sedang marah. Cloud pun mengakui demikian.


"Aku hanya bergurau sayang, mau aku ciyum lagi agar marahmu mereda?" Lvy bergerilya jenaka. Tidak akan puas untuknya menggoda Hana jika hanya sebentar.


"Jangan coba-coba, kekasihku akan cemburu, dan marah." Tolak Hana dengan lantang seolah-olah Lvy akan merusak hubungannya dengan Cloud.


Cloud memandang kedua sahabat itu, hanya cengengsan seraya menggarukkan kepalanya. Obrolan yang sangat absurd.


"Jadi kau mengabaikan aku sekarang! kau balas dendam? humm.." Hana mengangguk pasti.


"Pergilah kalian! aku marah!"


"Kau mengusir kami?? baiklah! ayok sayang kita pergi." Cloud tersenyum kemudian ia memasangkan helm di kepala Hana.


"Kami pergi dulu, Lvy. "pamit Cloud kemudian, ia menaiki motornya terlebih dahulu, disusul Hana.


" Berhati-hatilah kalian. "


🍂🍂🍂


Di tempat berbeda. Mariana memindahkan pakaian Chalk ke dalam mini koper yang akan di bawa suaminya itu untuk pergi ke Mexico selama tiga hari kedepan.


Mariana memandang pintu toilet sejenak. Tidak lama kemudian Chalk keluar dari sana menuju langsung ke walk in closet. Mariana menyusulnya.


"Aku pasti akan merindukanmu, Chalk." Mariana memeluk tubuh Chalk dari belakang ketika Chalk sedang memasang kancing kemeja.


Chalk tersenyum smirk, tangannya bergerak melepaskan pelukan Mariana. Kemudian ia berbalik. "Aku pergi hanya tiga hari, sweety. " Chalk mengangkat dagu Mariana, dan mencium bibirnya. "Setelahnya kita akan menghabiskan waktu bersama di New Zealand."


Hanya beberapa hari lagi mereka akan terbang ke sana untuk merayakan anniversary mereka. "Kau persiapkanlah semua, sweety. Dan jangan lupa membawa gaun tidur yang seksih dengan warna favorit ku." Bisik Chalk, dengan napasnya yang berhembus kasar mengenai wajah Mariana.


Mariana mencengkeram, dan menarik kerah kemeja Chalk sehingga hidung mereka saling bersentuhan. "Tentu aku akan melakukannya, kau harus bersiap untuk menerima kejutan dari ku, honey."


Nah loh kejutan apa yang diberikan Mariana untuk. Chalk?? 🤭 Yuk lah komentarnya...