Reckless

Reckless
AKU AKAN MENUNGGUMU



"Mereka benar-benar gila! " gumam Richard mengeram, setelah ia menyaksikan vidio berdurasi 20 menit yang dikirim Cloud melalui email. Vidio berisi pengiriman charlie ke Mexico melalui terowongan bawah tanah.


Richard menyikukan kedua tangannya, seraya memijat pelipisnya. Dua anak buahnya yang diperintahkan waktu itu untuk mengunjungi pabrik suplemen, sudah mendapatkan informasi.


Dari hasil penyelidikan tersebut, pabrik itu memproduksi barang original tidak ada campuran kokain di dalamnya, dan produk suplemen tersebut di expor ke berbagai negara. Dalam artian produk tersebut murni di sabotase, dan di seludupkan.


Ia ingin bergerak cepat untuk menangkap Chalk, namun satu sosok lagi pimpinan kartel yang belum diketahui, membuat Richard menahan keinginannya. Sosok itu menjalankan bisnis haram di balik layar, yang mungkin saja bisa menjadi ancaman untuk Cloud kedepannya


Leon ya... Sebutan pria itu, yang pernah di informasikan oleh Cloud. Harry Blade masuk daftar orang dicurigai karena dari informasi, pria yang mempunyai pabrik perkayuan itu mempunyai hubungan baik dengan Chalk. Tapi hal tersebut tidak memungkinkan jika Harry Blade terlibat. Bisa jadi bukan dia.


Dering ponselnya terdengar, Richard menerima sambungan tersebut. Cloud yang menghubunginya.


"Bagaimana son? " Richard nampak menegang mendengar informasi yang dibicarakan Cloud kepadanya.


"Berhati-hatilah son, aku akan mengirimkan anak buahku untuk menjagamu. "


Setelah sambungan telepon dari Cloud selesai, Richard mengapai telepon dan menghubungi anggotanya. "Aldric datanglah ke ruangku bersama Jack, dan Vicktor. Ada tugas yang harus kalian kerjakan."


Tidak lama kemudian Aldric, dan dua rekannya masuk. Richard pun membuka lemarinya, ia mengeluarkan alat pelacak berupa jam tangan dan sebuah koper kecil berisi revolver yang sudah dipersiapkan untuk Cloud.


Ia pernah melatih Cloud menggunakan senjata itu, tepat dua hari setelah Cloud menghubungi menginformasikan tentang charlie. Di luar dugaannya, pemuda itu cepat belajar, hingga latihan menembak tidak memerlukan waktu yang lama.


"Aku menugaskan kalian untuk menjaga Cloud. Malam ini pemuda itu akan mendantangi mansion black eagle. Persiapkan semua dengan baik."


"Baik sir, " jawab mereka serempak.


"Dan ini, berikan kepada Cloud. " Aldric mengambil jam tangan itu, dan koper yang diberikan Richard. "Pastikan pemuda itu aman. "


🍂🍂🍂


Malam harinya, Cloud mempersiapkan yang ia butuhkan sebelum ia pergi. "Ah aku memerlukan senter kecil. " Cloud mengambil senter kecil, dan memasukan ke dalam saku celananya. Kembali ia memeriksa barang bawaanya.


Cloud meraih ponselnya, berencana menghubungi Hana. Bersamaan itu, layar ponselnya hidup dan tertera nama Mi Alma Gamela. Hana menghubunginya.


"Heiii.. Sayang. " Cloud melebarkan senyuman saat layar ponselnya menampilkan keseluruhan wajah cantik dari kekasihnya.


"Malam Cloud, " sapa Hana sembari merebahkan kepalanya diatas bantal. "Kau terlihat rapi, apakah kau ingin bekerja? " tanya Hana memainkan liontin kalungnya.


"Iya Hana, " jawabnya melangkah lalu mengambil jaket kulit yang digantung di balik pintu kamarnya.


"Bukannya tadi kau mengatakan jika malam ini kau libur?"


"Ada teman kerjaku yang izin tidak masuk Hana, dan aku ditugaskan untuk menggantikannya. " Jelas Cloud. Di letakkan ponselnya diatas meja, lalu ia menyemprotkan parfume ke pakaiannya.


Hana memperhatikan ketegasan dari rahang Cloud, dan maniknya bertemu dengan hasil karyanya di bawah rahang itu. Ia tersipu sendiri fikirannya melambung ke malam dimana Cloud memasuki dirinya, tiba-tiba aliran darahnya berdesir cepat di setiap tubuhnya. Buru-buru Hana menepisnya, sebelum ia benar-benar menginginkan Cloud saat ini untuk membawanya masuk ke dalam surga dunia itu lagi.


"Hmm.. Hmm... " Hana menghidu dengan kasar. "Wangi parfum mu sampai kesini Cloud, " celoteh Hana membuat Cloud tersenyum lebar. Ia pun tertunduk, menatap layar ponselnya lagi.


"Bagaimana itu bisa terjadi Hana? rumah kita memiliki jarak yang cukup jauh. "


"Meski rumah kita jauh, tapi hati kita saling menyatu Cloud." Hana cekikikan dengan ucapan spontannya.


Cloud pun semakin melebarkan tawanya, bahkan kedua matanya menyipit, dan mengeluarkan air mata. "Kekasih ku sudah pandai merayu rupanya. "


"Aku kan berguru denganmu, Ayden, dan juga daddy." jelasnya semakin membuat Cloud tertawa.


"Jadi ada tiga guru yang mengajarimu?" tanya Cloud seraya memakai jaketnya kulitnya.


"Ya kau benar, Cloud. Dan aku harus membayar ketiganya dengan banyaknya cinta. "


"Tentu dengan senang hati aku akan melakukannya Cloud. "


Cloud menarik zipper, merapikan sedikit bagian kerah dari jaketnya.


"Apakah kau ingin berangkat sekarang?" tanya Hana lagi.


"Sebentar lagi sayang."


Hana menghela napas berat, air mukanya memelas.


"Kenapa kau memasang wajah, seperti itu hmm? "


"Aku masih ingin melihatmu Cloud."


"Tinggallah bersama ku kalau begitu."


Hana tersipu, dan tersenyum kembali. "Tidak semudah itu Cloud, kau harus meminta izin terlebih dahulu kepada daddy, and mom. "


"Suatu saat aku akan meminta izin dari mereka, sayang. Meminta izin agar aku bisa membawa mu ke suatu hubungan yang lebih serius lagi. "


Hana terdiam sepersekian detik. "Cloud, yang barusan aku dengar tidak salah kan? Kau berencana ingin menikahi ku, begitu? "


"Iya Hana, itulah impianku. " jawab Cloud berhasil mengunggah hatinya. Hana tersentuh, jelas ia sangat bahagia mendengar impian sang kekasih.


"Kita memiliki impian yang sama Cloud." Manik Hana berkaca- kaca, sekali mengedip buliran kristal itu pun runtuh bersamaan itu senyumannya terbit.


Melihat Hana, ingin rasanya Cloud mendatangi Hana, dan memeluk tubuh kekasihnya itu. Samar-samar ia mendengar suara motor berhenti di depan rumah. Cloud meyakini jika yang datang adalah agen DEA yang bertugas menjaganya. "Hana... Aku harus segara berangkat. Doakan aku ya. "


"Tentu Cloud, tanpa kau meminta... Aku selalu mendoakanmu. "


"Terimakasih sayang. Nanti aku akan menghubungi kembali. "


"Aku akan menunggumu. "


Kalimat terakhir Hana membuat Cloud bersemangat. Ia merapikan lagi penampilannya, lalu memasukan ponselnya ke dalam tas setelah sambungan berakhir.


Ia pun bergegas keluar dari kamar, untuk membuka pintu rumahnya. Benar saja tiga agen DEA sudah berdiri di depan. Salah satunya sudah Cloud kenal baik, Aldric.


"Malam sir, silahkan masuk." sapa Cloud kepada ketiganya. Mereka pun melangkah masuk ke dalam.


"Kau terlihat berbeda sir. " Ujar Cloud memperhatikan Aldric yang kali ini memakai pakaian casual, begitu juga dua rekannya yang duduk disofa.


"Ini termaksud penyamaran, sudah oke bukan?" Aldric menaik turunkan alisnya berulang-ulang.


"Sudah sir, anda terlihat sangat berbeda dari biasanya, dan menawan. "


"Kau bisa saja memujiku." Aldric tertawa, lalu ia memberikan dua benda yang di titipkan atasannya untuk Cloud. "Simpanlah alat pelacak ini di saku jaket mu, dan bawalah ini. "


Cloud mengambil keduanya, ia pun membuka koper kecil berwarna hitam itu. "Revolver. "


"Ya, gunakanlah senjata saat situasi terdesak." Cloud mengangguk mengerti. Dimasukkan senjata itu dari balik pakaiannya. "Kau sudah memakai baju pengaman? "


"Sudah."


" Sebaiknya kita pergi sekarang. "