
Kensington Avenue.
Kendaraan pemadam kebakaran, serta ambulans menempati ruas jalan di depan mansion black eagle. Petugas pemadam berjuang memadamkan api yang melahap bangunan bertingkat tiga itu.
Richard setelah mendapat telepon dari Abigail, bersama anak buahnya bertolak belakang ke kawasan mewah Kensington Avenue. Begitu sampai, mereka bergegas turun, dan melihat langsung kebakaran tersebut.
Ya Tuhan...
Informasi yang Abigail dapat dari saksi yang tinggal di kawasan itu, mereka mendengar suara ledakan yang sangat keras lalu disusul kobaran api yang besar membakar bangunan secara menyeluruh.
Richard mengepal kuat tangannya menatap api yang masih memporak-porandakan bangunan yang menjadi markas gembong narkoba, tidak ada seseorang yang tahu tentang markas itu. Richard sudah mengatur akan mengeledah mansion black eagle setelah kepergian Cloud ke Itali, dan rencananya tidak terwujud.
Para pemadam masih berusaha memadamkan kobaran api. Tidak lama kemudian, helikopter pun datang membawa kantung air dengan kapasitas 5000 liter air. Menggunakan tehnik water bombing, air dijatuhkan ke arah titik api.
Akhirnya setelah hampir 2 jam lamanya, kobaran api padam meninggalkan puing-puing yang runtuh. Para petugas mulai berpencar, untuk melanjutkan mencari korban yang mungkin saja berada di bawah reruntuhan.
"Di sini ada seseorang," pekik salah satu petugas pemadam. Richard, dan anak buahnya bergegas mendekati sumber suara itu. Mereka membantu para petugas pemadam mulai mengangkat puing yang menutupi tubuh korban.
"Dia masih hidup." Ucap petugas melihat kondisi korban yang memprihatinkan dengan banyak luka di sekujur tubuh pria itu.
Petugas medis pun berlari seraya mendorong brankar. Mereka bergerak cepat memindahkan korban keatas brankar. Richard memperhatikan para perawat memasangkan alat medis sebelum korban dimasukkan ke dalam ambulans.
Korban yang terselamatkan itu adalah Benz...
Benz sedikit membuka matanya, ia memandang keseluruhan yang bisa di jangkau. "Teman-teman ku berada di dalam," lirih pria itu setengah sadar, ia merasakan sakit yang luar biasa di sekujur tubuhnya. "To- tolonglah mereka."
"Dorong brankar ke dalam." Instruksi dari perawat yang baru selesai memasangkan alat medis ke tubuh korban. Para perawat berjumlah empat orang masuk ke dalam ambulan.
"Kalian bertiga ikutilah ambulans itu." tunjuk Richard kepada tiga anak buahnya.
"Baik Komandan, " jawab mereka serempak, lalu ketiganya bergegas masuk ke mobil, dan melaju mengikuti ambulans.
Richard kembali membantu petugas , sampai langit menggelap sudah lima belas korban yang sudah tidak bernyawa ditemukan.
Richard menghela napas tidak beraturan. Terlihat raut wajahnya nampak kelelahan, frustasi. Sejak mengetahui keberadaan black eagle dari Cloud, ia tambah bersemangat untuk menuntaskan kasus narkooba sampai ke akarnya. Ia memiliki target untuk menyelesaikan misi sebelum masa kepemimpinannya berakhir. Dan hancurnya mansion black eagle menghambat misinya untuk menemukan sosok Leon.
Richard pun mendekati anak buahnya. "Sebaiknya kita balik ke markas."
🍂🍂🍂
Richard melangkah bolak-balik di depan meja. Lalu, ia memberhentikan pergerakannya, berdiri tegap, seraya memegangi pinggiran meja.
"Pengeboman yang terjadi di mansion black eagle, dilakukan dengan sengaja." Itulah yang disimpulkan dari sudut pandangannya. "Dan bisa ku tebak pelakunya adalah Leon. Pria itu melakukan pengeboman karena dia sudah mengetahui jika anak buahnya tertangkap. Dan kemungkinan dia mengetahui jika Cloud bekerjasama dengan kita."
Richard memandang Aldric yang terlihat berfikir. "Apa yang kau dapati saat meninjau lokasi, Aldric?"
"Hmm... Kerusakan fatal berada di belakang mansion. Apa mungkin bom diletakkan di terowongan bawah tanah, komandan?"
Richard mengangguk pelan. "Ya, tujuan lainnya untuk merusak jalur yang terhubung langsung ke markas mereka yang terletak di Mexico. Memungkinkan dia akan melanjutkan memproduksi charlie di sana."
"Astaga, dia mengorbankan anak buahnya untuk ambisinya. Lantas apa yang harus kita lakukan sekarang komandan? "
"Seperti biasanya, kita harus menindaklanjuti kasus ini lebih hati-hati lagi. Menangkap sosok Leon bukan hal yang mudah. Dia bisa saja membahayakan orang lain."
Richard berpikir keras untuk mengatur langkah selanjutnya. Ia menarik kursi di bawah meja, lalu ia pun duduk dengan kedua tangan menyiku diatas meja. Ia tertunduk, memijat dahinya terasa berkedut.
"Komandan," Abigail masuk dengan langkah yang tergesa-gesa. Panggilan Abigail sontak membuat Richard menatap anak buahnya itu.
"Ada apa, Abigail? " kerutan halus muncul di dahinya. Kedua alisnya ditekuk, dengan maniknya memicing.
" Sheriff Aisley, ditemukan tidak bernyawa di kediamannya."
"Apa??" reflek Richard berdiri, manik legamnya membelalak. Terkejut. Begitu juga dengan anak buahnya.
"Itu benar komandan."
"Ya Tuhan," Richard mengeram kesal. Tangannya terkepal dengan erat. Ia pun berbalik, di usap wajahnya dengan kasar.
Semakin sulit untuk membongkar siapa sosok yang menggunakan nama Leon. Kemarin Abigail diperintahkannya untuk melacak nomor ponsel yang terdapat di ponsel Ace. Namun, hasilnya tidak membawa titik terang, data yang di dapati Abigail bahwa nomor yang gunakan Leon, nomor ponsel seorang pemuda yang dinyatakan menghilang empat tahun lalu.
Richard menatap anak buahnya kembali. " Kita harus menjaga ketat keamanan pria yang selamat dari ledakan kemarin, mungkin dia bisa membantu kita nantinya."
"Siap komandan! "
"Aldric, ikutlah bersamaku ke kediaman Aisley."