Reckless

Reckless
I MISS U, ALANA



Bab special mengandung nano-nano, so ramaikan komentar kalian dan tinggalkan like. Terimakasih ❤


......................


Alana menumpukan separuh tubuhnya bersandar di pintu mobil. Posisinya setengah miring dengan satu tangan yang mengganjal di bawah kepalanya. Gadis itu memandang langit kota Philadelphia yang sudah menjadi gelap, dan membiarkan angin berhembus menerpa dirinya hingga helaian demi helaian rambutnya bergerak. Namun hal itu, tidak membuat Alana terusik sama sekali.


Ayden yang duduk di belakang kemudi berkali-kali melirik ke arah Alana. Gadis itu nampak tenang, tidak ada suara ketusnya yang Ayden sangat sukai.


"Kau tidak merasa kedinginan Alana?" suara tenor pelan milik Ayden memecah keheningan.


Alana pun menoleh sekilas ke arah Ayden. "Tidak, " jawab Alana singkat, kembali ia menatap luar dengan matanya yang sudah terasa lelah.


Alana menghela napas panjang, dan dalam diamnya ia berharap semoga tidak ada lagi tangisan karena kerapuhannya. Ia harus tegar, menatap hari ke depannya.


Deru angin mengisi keheningan. Ayden memfokuskan kemudinya, dan berberat hati membiarkan Alana membisu. Menurutnya, lebih baik Alana memaki dirinya, dibanding gadis itu berdiam seperti ini. Sungguh, ia turut tersiksa.


"Alana, bolehkah aku mengetahui penyebab yang membuat mu menangis?" akhirnya Ayden menyeruakan rasa penasaran yang memenuhi fikirannya sejak tadi.


Tidak ada jawaban dari Alana, Ayden menoleh dan menatap Alana yang sudah terpejam. "Astaga dia tertidur," gumamnya.


Ayden menepikan mobilnya di bahu jalan, kemudian ia melepaskan sweaternya dan menutupi bagian tubuh atas Alana. Sembari menikmati pemandangan yang indah yang berada di dekatnya, Ayden tersenyum.


Kembali Ayden mengendalikan kendaraan roda empat miliknya. Membelah jalan, yang tampak longgar. Hingga kendaraannya sengaja ia berhentikan di depan sebuah taman yang tidak jauh dari rumah Alana.


Ayden membuka seat bealt yang terpasang di tubuhnya. Memandang lagi wajah Alana dalam tamaram, Ayden memuji kecantikan Alana yang masih tetap terlihat.


Alana nampak gelisah dalam tidurnya. Tanpa ia sadari, air mata begitu saja bergulir dari sudut matanya.


Ayden yang melihat pun mencondongkan tubuhnya ke samping. Dengan jantungnya yang berdebar cepat, serta perasaan yang tulus kepada Alana, Ayden mengulurkan tangannya, jemarinya bergulir, mengusap buliran kristal tersebut.


Dirasakan sesuatu yang hangat menyentuh pipinya, Alana mengerjap. Maniknya terbuka, dan bertemu langsung dengan manik legam milik Ayden yang nampak sayu dan mendamba.


Keduanya saling menatap dalam diam, hanya suara musik klasik yang terdengar beriringan dengan hembusan napas mereka yang saling beradu, dan tidak beraturan.


Ayden masih menggerakkan jemarinya, dan tidak melepaskan pandangannya untuk terus menatap Alana. "Katakan, apa yang membuatmu menangis, Alana?" suara Ayden yang terdengar parau, sangat memikat.


Alana termenung, bibirnya seakan tidak mampu bergerak untuk menjawab. Sorot mata Ayden semakin dalam, melumpuhkan yang ada pada dirinya. Bahkan, sentuhan lembut dari pria itu benar-benar mengusik alam bawah sadarnya.


Beberapa menit terdiam, selama itu pula air matanya menetes, dan tidak hentinya Ayden mengusapnya.


Ayden memberanikan diri untuk mendekat, dan semakin mendekat hingga ujung hidung mereka saling bertemu.


Segera dipegangi dagu Alana, dan mencium bibirnya.


Alana memejamkan matanya, menikmati sentuhan lembut di atas bibirnya. Dengan naluri yang sudah mengambil alih dirinya, Alana melingkarkan kedua tanganya di belakang leher Ayden, dan membuka sedikit bibir ranumnya membuat Ayden leluasa meluumat lembut dari tekstur bibirnya.


"I Miss you, Alana. " Gumam Ayden disela-sela ciuumannya. Alana masih bisa mendengarkannya dalam keadaan dirinya yang sudah terlena.


Ayden menarik bibir bawah Alana hingga pangutannya terlepas. Napas mereka terengah bahkan Alana belum sepenuhnya sadar jika ia kembali ke alam nyata.


Dengan kening yang saling menempel, Ayden mengusap bibir Alana yang berkilat dan sedikit membengkak. Lalu mengecupnya singkat


Alana mengedip pelan, napasnya masih memburu menatap iris legam yang menghangatkan


Kembali bibir mereka bersatu, saling memangut, saling menginginkan. Hingga suara cecepan dari penyatuan biibir mereka mendominasi.


Ayden semakin mempercepat gerakan bibirnya, dan melesakkan bagian tidak bertulang ke dalam mulut Alana dan menjelajahi mulutnya. Mengabsen satu persatu bagian yang ada disana. Sungguh, ini terasa nikmat. Wangi musk yang maskulin dan elegan menyeruak semakin membuat hormon endorfinnya meledak.


Tubuh kokohnya terdorong semakin ke depan, dan semakin merapat. Ayden memindahkan tangannya, menyelipkan jemarinya di sela-sela rambut Alana. Membelai ke arah bawah, perlahan dan behenti di tengkuk leher Alana, lalu menariknya. Memperdalam dan ciuuman mereka semakin intens.


Ayden semakin liaar memagut bibir Alana. Pangutan itu semakin panas. Jemari Alana pun bergerak, ia menarik rambut pendek Ayden dan mencengkramnya dengan kuat.


Hingga...


Drrtttt.... Drrttttt....Getaran ponsel yang berada di dalam tasnya membuat Alana tersentak, dan reflek mendorong tubuh Ayden agar ciuuman mereka terlepas.


Tidak membuang waktu, segera Alana mengeluarkan ponselnya dari dalam tasnya. "Dad... " Alana mengatur deru nafasnya, dan ia menerima sambungan dari Ayahnya. "Ya, Haloo Dady."


"Kau berada dimana, Nak?" suara Ayahnya langsung terdengar begitu sambungannya tersambung. Alana mengedarkan pandangannya ke depan untuk mengetahui keberadaannya, dan melihat taman yang berada di sisi kirinya.


"Sebentar lagi, aku akan sampai Dad," jawab Alana, seraya memandang Ayden yang masih terengah.


"Oke, Dad akan menunggumu."


Alana mengembalikan ponselnya ke dalam tasnya setelah sambungan dari Ayahnya terputus. Ia maupun Ayden sama-sama terdiam. Rasa canggung begitu saja menghampiri mereka.


Alana merapikan penampilannya yang sedikit terlihat berantakan. lalu ia menatap Ayden kemudian. "Terimakasih kau sudah mau mengantarku pulang." Ucap Alana seraya mengembalikan sweater ke pemiliknya.


"Justru, aku yang harus berterimakasih kepadamu karena kau mau memenuhi permintaanku." Alana mengangguk samar, seraya melepas sabuk pengaman. "Selamat malam Ayden."


Tidak berniat membuka suara lagi, Alana membuka pintu mobil, dan pergerakannya terhenti untuk kembali memandang Ayden.


"Ayden...."


"Ya Alana... "


"Sesuatu yang barusan terjadi di antara kita, tidak berarti apa-apa untukku. So, aku meminta agar kau tidak berharap lebih tentang hubungan kita kedepannya, dan tolong jangan temui aku lagi Ayden."


Deg, Ayden merasakan detak jantungnya berhenti berdetak.


Tidak terima dengan ucapan Alana, Ayden dengan cepat menangkap pergelangan tangan Alana.


"Apa yang kau bicarakan Alana, hah!!" Ayden meninggikan suaranya, matanya sedikit menajam namun terlihat kecewa.


"Ku rasa kau mengerti ucapanku, Ayden. Tolong, lepaskan tanganmu, ayah ku sudah menunggu ku."


Dengan berat hati, Ayden melepas cengkramannya. Raut wajahnya terlihat putus asa, dan ia memalingkan wajahnya.


Terdengar suara pintu mobilnya tertutup, Ayden mengusap wajahnya dengan kasar, dan mengeram.


Lantas bagaimana kedepannya? Apakah Ayden akan menyerah begitu saja pada cintannya?? jawabannya nantiiii.... kapan kapan.. 🤣🤣


👉 Endorfin : senyawa kimia neuropeptida opioid lokal dan hormon peptida yang membuat seseorang merasa senang dan untuk kekebalan tubuh. Endorfin diproduksi oleh sistem saraf pusat dan kelenjar pituitari pada saat manusia merasa bahagia dan mendapat istirahat yang cukup.