
Part khusus kalian yang masih setia nunggu ❤
Malam semakin larut, hujan yang sempat mereda tadi kembali turun dengan deras. Cloud merebahkan tubuhnya diatas sofa dengan satu tangannya menjadi bantalannya. Iris coklat menatap lurus ke arah langit-langit. Memikirkan suara lirih seorang pria yang berada di ruangan bawah tanah di mansion Black Eagle. Ia meyakini jika Chalk menyembunyikan seseorang disana. Dan.. Ah.. bau menyeruak seperti bau bangkai benar-benar membuat Cloud semakin penasaran.
"Sepertinya, aku harus kembali ke ruangan itu." Cloud mendesah pelan, mencoba menutup matanya kembali. Namun... Suara petir menggelegar membuat aliran listrik di rumahnya mati. Sial..
"Cloud," terdengar suara Hana memanggilnya, mengharuskan ia untuk bangun. Diraih ponselnya diatas nakas, Cloud menyalakan lampu senter dari benda pipih miliknya.
Cloud membuka pintu kamarnya. Lewat pencahayaan kecil dari ponselnya, didapati Hana duduk di atas tempat tidur. "Kau ingin minum?" tanya Cloud menawarkan seraya mendatangi Hana.
Hana menggeleng. "Aku ingin ke toilet Cloud," jawab Hana. Ia menyingkirkan selimut, lalu ia pun turun.
"Mau aku temani?" tawarannya mendapatkan satu cubitan lagi. Kali ini Hana mencubitnya diatas bisepnya. "Sukurin!!"
"Sayang... Kau mencubitku lagi," ringis Cloud mengusap bisepnya.
"Salah mu sendiri, kenapa kau mengatakan kalimat nakal. Kau tidak ada bedanya dengan Ayden. 11 12 !!" hardik Hana. Bibir ranumnya sedikit mengerucut dan...
Cuup..
Satu kecupan dari Cloud merubah expresi Hana. Hana langsung kincep, kehabisan kata-kata. Lalu, ia mengerjap.
"Kau membutuhkan lilin?" suara Cloud menyadarinya, dan ia hanya bisa mengangguk. "Tunggulah, aku akan mengambilnya, namun jika kau tidak tahan... Aku tidak keberatan untuk menemanimu."
"Stop Cloud!! jangan berbicara yang tidak-tidak. Sekarang tolong ambilkan aku lilin."
Cloud melanjutkan langkahnya menuju meja belajar yang berada di dekat jendela kamarnya. Ia membuka laci, dan mengeluarkan lilin serta pematik api dari dalam sana.
Ia pun menyalakan api, membakar sumbu lilin. "Aku akan meletakkannya di toilet," kata Cloud, membawa kakinya ke dalam toilet.
Hana pun mengikuti langkah Cloud, ia melihat kekasihnya itu meletakkan lilin diatas gelas kosong yang berada di atas meja toilet.
"Kau yakin tidak ingin aku menemani?" Cloud menarik satu sudut bibirnya, menggoda lagi Hana.
"Tidak, terimakasih!" tegas Hana membuat Cloud tergelak. Hana pun mendengus kasar, karena Cloud tidak beranjak juga. "Sebaiknya kau keluar dari sini, sekarang!" Hana mendorong tubuh Cloud hingga keluar dan..
Brakk.. Hana menutup pintu toilet dengan kesar.
"Kau ingin merusak pintu toilet ku sayang!!" keluhnya membuat Hana menutup mulutnya, lalu tertawa. Astagaa.
Cloud menghela napasnya. Ia pun berbelok, melangkah sebentar untuk membuka tirai, dan jendela kamarnya. "Di sini panas sekali," keluh Cloud. Ia melepaskan kaos oblongnya yang lembab karena keringat, dan menaruhnya di dalam keranjang. Kembali ia menatap luar, ia menikmati udara dengan memejamkan kedua matanya. Door.. Aku mencintaimu Cloud, sangat. Cloud mencengkram kuat peganganya di tralis jendela, dan ia membuka matanya kembali. Desah napas kasar pun keluar dari mulutnya.
"Ternyata masih hujan," suara Hana menyadarkannya, lantas ia menengok.
"Cloud... Kau menangis?" telisik Hana seraya mengusap air mata kekasihnya itu.
"Tidak Hana," Cloud menggelengkan kepalanya. "Aku tidak menangis, mataku hanya kemasukan debu."
"Yang mana, matamu yang kemasukan debu?" Cloud menunjuk ke mata kirinya. Hana menaikan tangannya membuka mata kiri Cloud, lalu ia berjinjit dan meniupnya.
Hana tersenyum, rona merah begitu saja mewarnai pipinya yang terasa panas. Tidak ada pembicaraan di antara mereka, hanya suara angin dan detak jantung mereka bertalu-talu dengan cepat.
"Apa yang sedang kau fikirkan Hana?" bisik Cloud yang terdengar parau, mengusik batin Hana.
"Tidak ada Cloud, aku hanya menikmati moment seperti ini bersamamu." ungkap Hana, ia berkata jujur sesuai isi hatinya saat ini dan bibirnya pun bergerak mengutarakannya. "Lalu, bagaimana dengan mu Cloud? apa yang sedang kau fikirkan."
Sebelum menjawab, Cloud memberikan kecupan di bahu Hana, dan memeluknya semakin erat. "Humm... Banyak hal yang aku fikirkan Hana. Banyak sekali."
"Sebutkan salah satunya, jika kau tidak sanggup mengutarakan semua yang kau fikirkan saat ini." Hana mengulurkan satu tangannya. Menyelinap lewat tralis, tangannya menengadah untuk merasakan air hujan.
"Salah satunya, hmm memikirkan mu, Hana."
"Kau sangat gombal Cloud!" dipercikan air hujan ke arah Cloud. Merubah suasana romantis dengan ceria.
Cloud membuang wajahnya, terkekeh. "Apa yang kau lakukan, hey?"
Hana tertawa, seraya melepas pelukan Cloud yang melonggar. Lalu, ia pun berjalan mundur. "Kejar aku, Cloud." Hana berbalik lalu berlari kecil dalam kamar temaram, hanya ada lampu senter dari ponsel Cloud yang menerangi.
Cloud menarik kedua sudut bibirnya. "Aku bisa menangkapmu Hana." Ia hanya berjalan mengikuti Hana masih berlari berputar-putar di dalam kamarnya. Cloud dibuat tertawa oleh tingkah kekasihnya.
"Kenapa kau tidak berlari mengejarku?" Hana memprotes. "Kau tidak seru!!" serunya, seraya menghentakkan kakinya lalu berjalan keluar.
"Kau ingin kemana?" Cloud menarik tangan Hana, dengan gerakan cepat ia mendorong tubuh Hana ke dinding sehingga membuat Hana terbelalak.
Tubuh Kokoh Cloud menjulang di depan, mengurung tubuhnya yang kecil dengan jarak yang sangat dekat. Hana berusaha mengatur deru napasnya beriringan jantungnya berdegup cepat.
"Cloud... " bisik Hana. "Bi- bisakah kau melepaskanku??" tanya Hana tergagap.
Cloud semakin membungkuk punggungnya. "Aku tidak mau melepaskan mu Hana," bisiknya di depan daun telinganya sontak membuat Hana menatap wajah Cloud berada di sisi wajahnya.
Deg....
Keduanya sama-sama terdiam. Jantung mereka saling memukul kencang dan berbalas.
Dalam temaran, tatapan mereka menyatu. Sungguh keduanya nampak tenggelam dalam manik yang saling berbalas. Keindahan, ketenangan, dan cinta tercampur dari sorot mata keduanya.
Cloud semakin mendekat, tangannya mengendali, merengkuh pinggang Hana. Sontak, membuat kedua tangan Hana memegang dadaa bidangnya memberikan percikan api yang siap membakar tubuhnya.
Hana kembali melihat Cloud, Ia tertegun menatap sorot mata kekasihnya yang menajam seperti anak panah yang melesat mengenai jantungnya. Jujur Hana menyukai tatapan Cloud, dan tidak ingin membuatnya berpaling.
Cloud memindahi satu tangannya, meraba wajah Hana kini. "Berjanjilah untuk bersamaku, Hana." Hana tersenyum, ia pun mengangguk.
"Aku sangat mencintaimu." Cloud mengikis jarak diantara mereka, hingga bibir mereka saling bertemu. Hana memejamkan kedua matanya.
#Author mendadak kalem. 😌