Reckless

Reckless
BERSABARLAH KALIAN.



Dorr... Suara peluru berbunyi keras ketika melesat mengenai tepat diatas papan tembak. Cloud menurunkan senjata yang digenggamannya.


Tepuk tangan terdengar dari belakang punggungnya, Cloud pun berbalik. Frank ya pria itu yang mengajarinya kali ini.


"Kau belajar dengan cepat, dan tehnik mu sudah sangat baik bung. "


Cloud hanya tersenyum sembari mengelap peluhnya. Diraihnya botol, dan membuka penutupnya. Segera ia menegak minumannya.


Mengenai soal tehnik menembak, Cloud mengingat cara menggunakan senjata tersebut dari masa lalunya. Ia melakukan latihan lagi hari ini karena ingin menemui ayahnya.


"Sebaiknya kita kembali ke dalam, aku harus berjaga. " Katanya setelah melihat langit sudah menggelap, dan area tembak yang mereka pijak minim pencahayaan karena hanya beberapa lampu yang terpasang.


"Berjaga apa kau ingin berkencan di pos lagi Frank? " kekeh Cloud terdengar bersahaja membuat pria bernama Frank itu mendecak.


"Tentu, aku akan berjaga seraya bermain-main." Sontak membuat keduanya tergelak bersama.


"Kau pergi terlebih dahulu Frank, aku masih ingin latihan. " Alasannya seraya membidik pistol ke arah papan. Doorr... Kembali benda timah itu mengenai benda yang berbentuk lingkaran.


"Baiklah... Kau nikmatilah waktumu, " Frank berbalik, lalu ia tersenyum seraya melangkah meninggalkan area tembak itu.


"Kau yakin dia akan kembali masuk ke dalam ruangan bawah tanah malam ini? " tanya Frank begitu bertemu dengan seseorang berwajah bengis ketika ia masuk ke dalam mansion. Pria itu bernama Jay, yang pernah memerintahkan Cloud untuk membawa dus berisi charlie untuk dikirim ke Mexico. Ia diperintahkan oleh Ace sesuai interupsi Chalk untuk memantau Cloud sebelum Ace berangkat ke Mexico, menemani Chalk.


"Ya, aku sangat yakin... Pemuda itu akan menemui ayahnya kembali. " Tebaknya dengan yakin. "Kau perintahkan sebagian anggota memberhentikan pekerjaan mereka, dan katakan kepada mereka untuk meninggalkan mansion. "


Sesudah memerintah Frank, Jay bergegas untuk menjalankan perintah Ace untuk masuk ke dalam ruangan bawah tanah, menjebak Cloud.


Waktu cepat berganti, malam semakin larut. Cloud memeriksa arloji yang diberikan tuan Richard. Sudah pukul sembilan malam. Ia pun melenggang masuk untuk melihat situasi mansion yang hanya ada beberapa orang masih bekerja membungkus charlie.


Cloud kembali berbalik, ia mengendap-endap, perlahan dengan langkah lebar. Ia tidak sabar untuk menemui ayahnya lagi. Setelah melintasi lorong dan anak tangga, ia menyegerakan membawa kakinya ke sel dimana ayahnya di tahan.


Deg... Cloud memandang ke arah sel, dengan air wajah yang menegang. Ia tidak melihat ayahnya disana. Jantungnya tiba-tiba berherti sesaat, napasnya terasa tercekat.


Kemana mereka membawa ayah? Lirih Cloud dengan tatapan nanar. Ia berdiri mematung, berfikir jika ayahnya sudah dibunuh. Lalu ia menggelengkan kepalanya. "Tidak... Tidak.. Ini tidak mungkin!"


"Apanya yang tidak mungkin bung? kau mencari ayahmu?? "


Cloud kian menegang, kemudian ia memutar tubuhnya. "Dimana keberadaan ayahku? " bentak Cloud dengan nada tinggi. Rahangnya mengeras menimbulkan urat-urat di wajahnya. Dan pria bernama Jay hanya tersenyum licik melihat pemuda di depannya.


"Katakan dimana Ayahku?" bentak Cloud berani.


"Kau tenanglah bung, ayahmu sudah damai berada di sana. " Kekeh Jay, membuat Cloud menyambar kerah kemeja yang di pakai pria itu. "Apa yang kalian perbuat? apa kalian telah membunuhnya, hah??" Cloud semakin mencengkram dengan segala amarahnya, hingga Jay merasa tercekik.


"Berani-beraninya kau anak kecil! cihh." Pria itu meludahi wajah Cloud.


"Brengsek!!" satu tinju Cloud layangkan mengenai perut Jay.


Sekali lagi Cloud memberikan pukulan, hingga cengkraman tangannya di kerah kemeja Jay terlepas membuat tubuh Jay terjatuh.


"Hanya ini kemampuanmu ternyata." Jay semakin terkekeh, menertawai amukan Cloud. "Bukannya kau memegang pistol. Kenapa kau tidak menembakku? setidaknya, jika aku mati, aku bisa bertemu ayahmu, dan bisa menceritakan bahwa putranya mencarinya."


"BRENGSEK, KEPARAT!!" teriak Cloud menerjang tubuh Jay, menghajar wajah pria itu membabi buta. "Kalian pembunuh, aku bersumpah Tuhan akan membalaskan perlakuan keji kalian!! " Cloud meneteskan air matanya masih menghajar Jay.


Jay terengah, lalu terkekeh lagi seraya mengusap darah dari mulutnya. Cloud mengeluarkan pistol dari balik pakaiannya, dan mengarahkan ke depan, tepat di kening Jay. "Aku akan membunuhmu. '


Jay pun tersenyum. "Kau pikir aku takut mati?? lakukanlah! "


"KAU!!!"


"Sudahi bermainnya anak muda. " perintah seorang pria seraya menempelkan ujung pistolnya di bagian belakang kepala Cloud. "Turunkan senjatamu sebelum aku memerintahkan anak buah ku untuk membunuh ayahmu. "


"Kenapa kau hanya diam? " tanya pria itu. "Kau tidak percaya jika ayahmu masih hidup? Baiklah. Bruno tolong hubungi Ace. "


"Ini tuan Helder, " pria bernama Bruno memberikan ponselnya.


Helder...


"Haloo Ace, buatlah pria malang itu memanggil putranya. " Helder pun mengubah mode loudspeaker


"Kalian apakan putraku?? Tolong jangan lukai dia, aku mohon!! " Helder memutuskan sambungan tersebut.


Ayah... Maaf. Lirih Cloud tertunduk, genggamannya pun melemas membuat pistol terjatuh. Bruno dengan segera mengambil senjata itu.


"Rob, ikatlah dan antarkan pemuda ini bertemu dengan ayahnya. " Satu pria lain maju, ia menarik kebelakang kedua tangan Cloud ke belakang secara paksa dan memborgolnya.


Jay berdiri sempoyongan. " Tuan Helder bolehkan aku bermain-main bersamanya, hanya sebentar? " tanya Jay, ia mengusap lagi darahnya.


"Tentu saja boleh, tapi aku peringatkan jangan sampai pemuda ini mati, jika sampai mati. Aku tidak segan-segan untuk membunuhmu Jay. " Helder berbalik, dan melangkah. Bersamaan itu tubuh Cloud di dorong, membuatnya tersungkur.


Jay mengambil ancang-ancang, ia berdiri diatas dan memutar tubuh Cloud hingga telentang. Jay langsung melayangkan tinjunya mengenai wajah Cloud. "Sekarang saatnya aku yang bermain-main." seringai jahat mengukir di bibirnya, sembari melayangkan tinjunya.


Cloud terdiam, ia menatap nanar ke arah pria yang dipanggil Helder berjalan semakin jauh. "Rasakan!!" Jay melayangkan tinjunya lagi, berkali-kali membuat wajah Cloud babak belur dan mengeluarkan darah dari hidung, dan mulutnya.


Tidak sampai disitu, Jay mencengkram baju Cloud hingga tubuh Cloud terangkat dan mendorongnya ke arah di dinding. Bruk.... Kepala bagian belakang terbentur ke dinding. Cloud semakin melemah, pandangannya mulai berkunang-kunang. "Ibu.... Ayah..." Lirihnya bersamaan tubuhnya tumbang.


Bersabarlah, aku akan mempertemukan kalian


Bersamaan suara hatinya, kedua matanya tertutup.


Entah berantah bagian bab ini... Semoga bisa ngena feelnya. Soalnya ini bab awal aku buat yang tegang-tegang. Jika tidak keberatan, minta koreksiannya, biar aku bisa perbaiki dan belajar lagi. Terimakasih ❤