
Cloud memgurangi kecepatan kendaraan roda dua miliknya ketika lampu rambu lalu lintas berubah menjadi kuning. Hari sudah malam, Cloud dan Hana masih berada di dalam perjalanan setelah mereka menikmati live konser Nick Carter di Presque Isle State Park.
Cloud berencana akan mengantar Hana kembali ke rumah Lvy sesuai permintaan dari Hana.
"Cloud, apakah rumah Lvy masih jauh?" tanya Hana dibalik punggung Cloud, dan bersandar nyaman disana.
Cloud memegang tangan Hana yang melingkar di depan perutnya. "Sekitar, lima belas menit lagi sayang, apakah kau sudah mengantuk?"
"Sedikit," jawab Hana dengan manja. Terdengar suara petir membuat Hana menengadahkan wajahnya, melihat langit. "Sepertinya hujan akan turun, Cloud."
"Ya kau benar sayang," Cloud menjalankan lagi kendaraanya, kali ini ia menaikan kecepatan laju motornya membuat Hana mengeratkan pelukannya.
Zrass.... Hujan begitu saja turun dengan lebat. "Oh ya Tuhan, " pekik Hana, ia merasakan tetesan air mulai membasahi tubuhnya.
"Sebaiknya kita menepi dulu." usul Cloud, ia tidak ingin Hana kehujanan, dan jatuh sakit. Cloud menepikan kendaraanya di bahu jalan. Hana, dan Cloud pun turun dari motor, lalu ke duanya berlari kecil menuju supermarket yang berada. disana.
"Pakaian mu basah," Cloud seraya membuka helmnya. Di lihatnya Hana menggigil kedinginan, ia melepaskan jaket kulitnya, dan memasangkan di tubuh Hana.
"Duduklah, aku akan membeli coklat hangat untukmu." Cloud membawa Hana untuk duduk di kursi besi yang berada di depan supermarket.
Tidak lama kemudian Cloud kembali dengan dua gelas berisi coklat hangat dan kopi. Ia pun duduk di samping Hana seraya memberikan satu gelas berisi susu untuk Hana. "Makasi sayang, " Hana megulas senyuman mengambil alih gelas dari tangan Cloud.
Keduanya meluruskan pandangannya ke depan, seraya menikmati minumannya. "Hujan belum juga reda, Hana."
"Iya Cloud," Hana menguap selaras merebahkan di bahu Cloud. Spontan, Cloud merangkul pundak Hana. Diletakkan gelas miliknya di sisi kiri. "Tidurlah, jika kau mengantuk. Saat hujan mereda, aku akan membangunkanmu." Cloud mengusap setiap helaian rambut Hana, dan menghirup wangi lavender dari sana.
"Aku tidak bisa tidur." Helaan napas Cloud terdengar, membuat Hana mendongak melihat Cloud, dan meraba rahang tegasnya. Cloud tersenyum, lalu ia membalas tatapan Hana. Keduanya nampak tersenyum.
"Bagaimana kabar ibu, Cloud?"
"Ibu sangat baik Hana, tadi aku sempat menghubunginya sebelum aku menjemputmu. Apakah kau bisa menebak pertanyaan pertama yang ibu tanyakan kepada ku?"
"Hmm... " Hana berfikir sejenak. "Pasti ibu menanyakan kapan kau menjemputnya?"
"Ibu memang bertanya demikian, tapi buka itu pertanyaan pertamanya."
"Lantas, apa yang ibu tanyakan?"
"Menanyakan kabarmu begitu panggilanku diterima oleh ibu." Penjelasan Cloud, menghangatkan perasaan Hana.
"Kau tidak berencana untuk pergi ke Palymra, Cloud?"
"Iya aku ada rencana ingin pergi ke sana, hanya saja aku belum tau kapan tepatnya." Tepatnya setelah ia menyelesaikan misinya. "Hujan sudah reda. Sebaiknya kita jalan sekarang." Cloud melihat arlojinya, waktu sudah menujukkan pukul setengah dua belas malam. "Sudah pukul setengah dua belas, apakah Lvy masih terjaga?"
Hana mengedikkan bahunya, lalu ia mengeluarkan ponselnya. Berencana menghubungi Lvy. "Astaga, daya ponsel ku habis Cloud." Hana memasukkan kembali ponselnya.
"Hana.. Umm.. Sebaiknya kita tidur di rumahku dulu. Esok pagi aku akan mengantar mu. Bagaimana?"
Alternatif saat ini, kebetulan lokasi rumah Cloud tidak jauh dari posisi mereka sekarang.
"Okey, " singkat Hana.
Tak lama kemudian mereka sudah sampai. Cloud membuka pintu rumahnya, memberi luang untuk Hana masuk terlebih dahulu. Hana pun masuk, di ikuti Cloud.
Hana mengangguk mengerti. Gadis itu masuk ke kamar Cloud. Membuka lemari, dan mengambil pakaian kekasihnya secara asal. T-shirt longgar berwana navy. Segera Hana melesat masuk ke dalam toilet yang berada di dalam kamar Cloud.
Cloud kembali masuk ke dalam kamar, ia mengganti seprai tempat tidurnya. "Kenapa Hana lama sekali." Ia melanjutkan aktiftasnya membersihkan lantai kamarnya, kali ini.
Cek lek... Pintu kamar mandi terbuka, Hana keluar dari balik pintu, tertunduk. Bertepan itu, Cloud memusatkan tatapannya melihat Hana yang sudah memakai pakaiannya. T-shirt favoritnya yang digunakan Hana, terlihat kebesaran di tubuh kekasihnya itu. Tapi terlihat cocok, dan juga.. Hum.. Seksih dengan tampilan leher Hana yang indah, dan kaki jenjang Hana terexpose. Lalu rambut Hana yang lembab dan berantakan, menyempurnakan semua.
"Kau habis mandi?" tanya Cloud untuk mencairkan suasana. Cloud berusaha mengambil napasnya dengan benar.
"Ya Cloud, maaf aku tadi memakai shampo, dan juga sabunmu." Kata Hana seraya mengeringkan rambutnya dengan Handuk. Gerakannya tidak luput dari pandangan Cloud.
"Tidak apa-apa, sayang." Cloud kembali membersihkan kamarnya, menghindari godaan yang ada di dekatnya.
Hana meletakan handuk yang ia pakai tadi ke atas sofa. "Biar aku bantu Cloud," tawar Hana ingin mengambil alih, namun Cloud melarangnya.
Cloud menggelengkan kepalanya. "Sebentar lagi selesai, kau tidurlah."
"Baiklah," Hana menaiki tempat tidur Cloud. Ia merotasi pandangnya, menelusuri kamar kekasihnya itu, dan maniknya berhenti untuk melihat Cloud begitu cekatan membersihkan kamar. Hana bisa menebak jika Cloud terbiasa melakukannya. Berbanding balik dengannya yang tidak pernah menyentuh alat-alat untuk membersihkan rumah. Hana pun merenung sejenak, tidak menyadari jika Cloud sudah duduk di dekatnya.
"Berkediplah Hana, jangan membuatku salah tingkah.." Hana tersentak mendengarkan suara Cloud.
"Kau mengikuti kata-kata ku saat di penginapan, humm."
Cloud pun tergelak. "Tidak, aku tidak mengikuti kata-kata mu. Sayang." Cloud mengelak dan mendapatkan satu cubitan diatas perutnya.
"Auwh, kau mencubitku! " Cloud melirik ke arah perutnya sedikit memerah.
"Bonus untukmu, sekarang bersihkan tubuhmu Cloud." Tidak ada rasa jijik sama sekali, Hana mengusap peluh yang timbul dari wajah Cloud.
Perasaan Cloud bahagia mendapatkan perhatian dari Hana.
"Aku akan meletakkan alat-alat pembersih ini terlebih dahulu. Kau segeralah tidur Hana." Cloud mengusap lagi rambut Hana.
Hana pun merebahkan tubuhnya. Cloud dengan gerakan cepat, ia menyelimuti tubuh Hana. "Sekarang tutup matamu, buatlah permintaan agar kau bisa bermimpi indah bersama ku."
Hana tertawa kecil menanggapi kalimat Cloud. "Kenapa kau tertawa? memangnya ada yang lucu kalimat ku?"
"Kau berharap aku memimpikan mu?"
"Ya, aku tidak sudi jika kau memimpikan pria lain, termaksud Nick Karter sekalipun."
"Ya Tuhan, hahaha... Apakah kau sedang cemburu Cloud?" Hana mencubit pipi Cloud, bersamaan.
Cloud menatap Hana dengan tajam. "Jangan banyak bertanya. Sekarang tidurlah."
Hana melipat bibirnya kedalam, lagi ia tersenyum. "Baiklah. Selamat malam, mi Chielo." Satu kecupan dari Cloud mendarat diatas keningnya membuat Hana terpejam menikmati perhatian Cloud untuknya.
"Selamat malam juga, mi Alma Gamela. "
Siap siap ya 🤣🤣 next part lebih eheeem....