
Hana menatap sosok pria yang kini sedang memesan menu makan siang untuk mereka. Dari tempatnya, maniknya mengawasi pria tersebut, dan tidak merasa jenuh Hana memandang wajah rupawan si pemilik hatinya itu.
Dengan satu tangan menekuk di atas meja, tangan satunya lagi menompang rahang tirusnya. Fikirannya melayang pada saat kemarin ketika pria itu menyatakan perasaan untuknya. Hana pun menarik keatas kedua sudut bibir indahnya
Sebuah pengalaman pertama yang tidak mungkin Hana lupakan. Pria itu menyatakan perasaannya lagi, di tepi jalan. Oh astaga, kejadian itu tidak terduga olehnya dan itu sangat menarik.
Hana semakin melebarkan senyumannya dan dentuman jantungnya semakin menguat di kala ia mengingat bibir kekasihnya menyambar bibirnya.
Hana pun larut. Jemarinya bergulir keatas menyentuh bibirnya. Sungguh, Hana masih merasakan lumaatan bibir Cloud diatas bibirnya.
Menarik nafas perlahan, kemudian Hana melepaskan tawanya. "Oh Ya Tuhan...." Hana menggelengkan kepalanya dan memegang dahinya.
"Lihatlah pria yang berdiri di depan meja kasir itu, bukannya dia sangat menawan."
Hingga, terdengar pujian seorang wanita yang duduk tidak jauh dari mejanya. Hana mengerutkan alisnya, dan menangkap bahwa pujian yang ia dengar untuk kekasihnya.
Hana menoleh sekilas ke tempat sumber suara itu. Ada seorang wanita yang mungkin terpaut jauh usia darinya memandang kekasihnya dengan tatapan sayu dan senyuman menggoda.
"Tubuhnya begitu proposional, tinggi dan memiliki badan bidang."
Lagi-lagi, kalimat pujian yang dilontarkan wanita itu semakin mengusik, dan membakar hatinya. Hee.. Yang kau puji adalah kekasihku.
"Rahangnya tegas, dan bibirnya," wanita itu memdesaah pelan. "Aku ingin sekali mencicipinya. Pasti sangat nikmat."
"Kau gila, Ella." Kedua wanita itu pun tertawa.
Hana berdecih, dan mencengkram kuat tasnya yang berada di atas meja. Sumpah demi apapun, Hana berkeinginan mencongkel mata jelalatan wanita itu dan menjahit mulutnya. Sayang ia tidak bisa.
Hana berusaha meredam amarah yang bercokol dihatinya. Menghembuskan nafas gusar, rahangnya mengerat bersamaan cengkraman tangannya pada tasnya.
"Pria itu berjalan ke arah kita," pekik wanita itu masih menunjukan senyuman menggoda. "Astaga dia tersenyum."
Hellow kekasihku tersenyum untukku.
Cloud memutar untuk mengambil tempat di dekat jendela."Pasti kau sudah menunggu lama, " Cloud mengelus rambut Hana kemudian, lalu ia duduk dan menggeser sedikit kursinya agar semakin dekat dengan kekasihnya.
"Tidak... " singkat Hana.
"Apakah dia kekasihnya?" bisik wanita itu yang terdengar oleh Hana.
Cloud menyatukan kedua alisnya dan memperhatikan wajah kekasihnya. "Lalu kenapa kau bersungut seperti itu? katakan ada apa?"
Hana menatap meja yang sudah terdapat menu makan siang mereka, dan kembali menatap kekasihnya. "Dua wanita yang berada di meja samping meja kita tengah membicarakanmu."
Cloud tersenyum saat menanyakan hal itu. Bahkan ia berucap sambil memegang sedikit rambut Hana, lalu membawa untaian itu ke belakang telinga.
"Salah satu dari mereka memujamu, bahkan dengan mesuumnya ia berkata," ucapan Hana tercekat.
"Berkata apa?" tanya Cloud lagi. Alis tebalnya sedikit terangkat naik.
"Ingin mencicipi bibirmu Cloud." Hana menghela nafas perlahan setelahnya. "Oh astaga."
Hana memasukkan sedotan ke dalam mulutnya. Mengisap cairan berwarna oranye itu, untuk meredakan tenggorokan yang tercekat.
Cloud kembali memberikan senyum teduhnya. "Jadi ucapan wanita itu yang membuatmu marah?" Hana mengangguk dengan polosnya. Lalu, ia menggeser gelasnya yang isinya sudah berkurang.
"Ayo kita buktikan kepada mereka jika aku milikmu."
Diulurkan Cloud tangannya menyentuh dan memutar sedikit wajah Hana untuk menatapnya. "Pembuktian seperti apa?"
Bibir ranum itu tersenyum. Cloud semakin mendekat dan membungkam bibir Hana sebagai jawabannya.
Hana sempat tersentak, namun berikutnya ia mengerti. Inilah maksud pembuktian yang Cloud ucapkan tadi. Hati Hana bersorak riang, ia pun menggerakkan bibirnya membalas pangutaan Cloud yang pelan.
"Ini menu pembukaan yang sangat manis, sayang. "
Cloud memainkan ibu jarinya, menekan dan mengusap bibir bawah Hana. "Wanita itu sudah tidak ada di tempatnya." bisiknya.
"Really? Mereka pergi?"
Empat kali gerakan anggukkan dari kepalanya, Cloud mengiyakan pertanyaan Hana. Hana tertawa lepas. "So, pembuktian tadi merupakan kesempatanmu untuk menciumku." Hana mengambil hamburger di depannya.
Cloud tergelak. Rupanya Hana cepat tanggap apa yang di ucapkan tadi. "Tapi semuanya berhasil bukan? wanita itu pergi, dan senyuman indah terbit di bibirmu? Ah, apa jangan-jangan karena ciuuman ku yang membuat moodmu membaik?"
"Sepertinya iya," jawab Hana tersenyum seraya memasukkan Hamburger itu kedalam mulutnya. Sumpah, ia hanya ingin membalas menggoda Cloud, tapi lihatlah perubahan wajah Cloud mampu menggelitik dirinya.
"Bagaimana jika kita melakukannya lagi."
Belum sempat Hana membuka suara, Cloud kembali membungkam bibir Hana. Linggualnya begerak menyapu, mengulum, mencecap dan menikmati rasa mayoneis, keju dan saus tomat yang tertinggal di bibir bawah Hana.
Hana mengerjap pelan maniknya, dan tersadar setelah Cloud menyelesaikan aksinya.
"Habiskan burgermu Hana, sebelum aku menghabiskannya di dalam mulutmu."