Reckless

Reckless
PENANGKAPAN ARTHUR



Yang kangen Mas Ayden, siapa hayoo unjuk giginya 🙈🙈 cekidot


...****************...


"Dimana Hana?" tanya Ayden, begitu Cloud membuka pintu. Cloud menggeser tubuhnya, memberi akses untuk Ayden masuk.


Ayden pun masuk dengan langkah besar. Melihat adiknya yang sudah terlelap diatas tempat tidur, ia bisa bernapas dengan benar kali ini.


Sepanjang perjalanan menuju penginapan, Ayden diliputi rasa gelisah setelah Cloud menghubunginya. Ia begitu panik, juga khawatir terhadap adik satu-satunya. Bahkan, tadi Ayden bertindak seperti kesetanan mengendarai mobilnya melebihi kecepatan. Ia tidak memikirkan keselamatannya, yang dipikirkan hanya adiknya.


Ayden mendekati Hana. Ia duduk di tepian tempat tidur. "Maafkan aku," bisik Ayden seraya membelai rambut Hana, manik legamnya nampak nanar. Ia merasa gagal tidak bisa menjaga Hana. Beruntung ada Cloud saat insiden tersebut. Sumpah demi apapun, jika sampai hal buruk terjadi pada adiknya, Ayden tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri.


"Apa dia baru saja tertidur?" tanya Ayden. Tatapannya beralih ke arah Cloud yang sedang berdiri.


"Ya, setengah jam yang lalu," balasnya seraya berjalan menuju kulkas. Ia mengambil dua kaleng kopi, dan memberikan satu kepada Ayden."Thank you," ucap Ayden tulus. Ia bangkit dari duduknya.


Kedua pria yang pertaut usia empat tahun itu memilih untuk keluar dari kamar, dan menempati kursi yang berada di bilik kamar.


"Aku sudah meminta sahabatku untuk mencari tau siapa sosok yang nyaris melecehkan Hana."


Ya Ayden sempat meminta tolong Nick dan Bobby tadi. Kebetulan, pada saat Cloud menghubunginya, ia sedang bertemu dengan kedua sahabatnya setelah mengantar Alana pulang.


"Terimakasih kau telah menyelamatkan adikku." Katanya tulus, membuat Cloud tersenyum samar lalu ia pun hanya mengangguk menaggapi ucapan saudara dari kekasihnya. Sungguh Cloud tidak mengharapkan sebuah ucapan terimakasih, karena ia melakukannya karena perasaanya tulus kepada Hana.


"Kau terluka?" tanya Ayden kemudian. Ia baru menyadari adanya luka memar di bibir Cloud.


"Hanya sedikit," jawab Cloud seraya menyesap pinggiran kaleng berisi kopi latte. "Dan ini sudah membaik karena sentuhan Hana."


Ayden berdecak, memutar bolanya asal. Ucapan Cloud barusan seperti mengejeknya. Namun, satu hal yang Ayden mengerti jika Cloud begitu menyanyangi adiknya. Ayden bisa merasakan Cloud sangat tulus.


DRRTTT...


Ponsel Ayden bergetar yang ia letakkan diatas meja. Nick menghubunginya. Seketika itu juga, Ayden segera menggeser layar ponselnya, dan mengangkat sambung dari Nick. " Ya, Haloo... Nick!!"


Ayden terlihat serius mendengar suara dari seberang sana. "Brengsekkk!!" Ayden mengeram begitu Nick memberitahu siapa sosok yang nyaris melecehkan adiknya. Ayden semakin menahan diri, tangan kanannya mengepal erat. "Kau berada dimana, Nick?"


"Baiklah aku akan menyusul mu kesana." Ayden mengakhiri panggilan dari Nick. Kembali ia menatap Cloud, dan menceritakan apa yang dibicarakan Nick kepadanya.


"Aku harus menyelesaikan semua. Aku titip adikku, Cloud. Malam sudah larut, tidak memungkinkan aku membawa Hana pulang. Besok pagi aku akan menjemputnya."


🍂🍂🍂


Ayden memarkirkan mobilnya di slot basement apartemen yang dihuni Arthur. Ia melompat turun, segera ia menarik kakinya menaiki lift menuju lantai delapan.


Begitu pintu lift terbuka ke tempat tujuannya, Ayden melewati lorong, dan berhenti di depan pintu unit Arthur. Ayden mendorong pintu itu kemudian, ia masuk yang langsung di suguhi tubuh Arthur yang duduk terkulai dengan wajah babak belur, kedua tangan pria itu pun juga terikat.


Ayden melihat kondisi Arthur, tidak ada rasa mengiba sedikitpun. "Brengsekk!!" Ayden mengeram, dan melayangkan satu tinjunya. Lagi darah keluar dari hidung Arthur. "Kau ingin menodai adikku, hah!!" Ayden mencengkeram kerah kemeja Arthur, sehingga membuat tubuh Arthur sedikit terangkat.


"Jika iya, kenapa??" tantangnya semakin membuat Ayden marah. "Kau benar-benar keeparat!!" Ayden melayangkan lagi tinjunya di tempat yang sama, dan berniat kembali menghajaar Arthur.


"Ayden hentikan!!" teriakan seorang wanita yang ia kenali mengalihkan fokusnya. Ayden menoleh melihat Laurent, wanita dari masa lalunya. "Aku mohon hentikan!" lirihnya duduk seraya bersimpuh.


"Cih.... Drama apa lagi ini? katakan kepadanya Bob untuk tidak membuat drama. Aku benar-benar muak!!"


Ayden melepaskan cengkramannya dari kerah kemeja Arthur. "Aku akan membuatmu menyesal, Arthur!!"


"Selamat malam." Mereka yang di dalam unit menoleh ke sumber suara itu. Tiga sosok pria berseragam polisi berdiri diambang pintu. "Kami dari kepolisian membawa surat laporan penangkapan atas nama tuan Arthur Jashon atas pencucian dana saham perusahaan," ucap salah satu dari mereka, yang berdiri di depan.


Arthur membeliak, dengan wajahnya memucat. Kejahatannya mulai terbongkar.


"Tapi semua bukti mengarah kepada tuan Artur, Nona," ucap polisi itu lagi.


"Tidak, tidak... aku tidak melakukannya!" lirih Arthur berusaha mengelak. Ayden, Nick, dan Bobby hanya bergeming menyaksikan yang terjadi di hadapan mereka.


"Apa yang telah kalian lakukan kepada tuan Arthur?" selidik polisi kemudian kepada Ayden, Nick dan Bobby. Ayden menceritakan insiden yang dialami Hana.


"Baiklah, besok datanglah ke kantor ke kepolisian tuan. Buatlah laporan." Jelas sang polisi.


"Tangkap dia!!" Dua polisi pun mendekati Arthur, dan mengangkat tubuhnya.


 "Lepaskan, lepaskan aku!!" teriak Arthur berusaha memberontak.


"Sayang, tolong percaya kepadaku!! aku tidak melakukannya!!" Laurent hanya membisu, menatap tidak percaya. "Tolong selamatkan aku, aku mohon!"


"Berjalanlah, tuan!" kedua polisi itu menarik paksa tubuh Arthur, dan membawa keluar. Tepat di depan pintu, langkah mereka berhenti.


"Kau!!" Arthur menatap berang sosok pria yang berdiri dekat pintu unit apartemennya. " Kau menjebakku, Addy!!" erang Arthur kasar. Ia menatap tajam ke arah asistennya itu.


"Maafkan saya tuan," ucapnya tertunduk. Selama ini Addy mengetahui kejahatan atasannya.


"Brengsekkk!! Kau berkhianat." Arthur berusaha memberontak lagi, namun kedua polisi yang membawanya menahan tubuhnya.


"Shiit!! Lihat saja kau Addy, aku akan menghancurkan hidupmu!!"


Ayden menghela napas lega, melihat Arthur tertangkap. "Sebaiknya kita pulang kawan!!" ajak Ayden kepada dua sahabatnya.


"Oke drama sudah selesai!" kekeh Bobby, seraya merangkul pundak Ayden. "Sebelum pulang, bagaimana kita ke club, sudah lama kita tidak bersenang-senang bersama."


Ayden memutar bola matanya, enggan. "Tidak mau, aku ingin beristirahat dan memimpikan Alana." Jawabnya, sukses membuat Nick, dan Bobby menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Dasar bucyiiin," celetuk Nick, yang di iringi gelak tawa Bobby. Ayden hanya terdiam, tidak perduli dengan kedua sahabatnya yang meledeknya.


"Ayden...." panggil Laurent.


Ayden dengan ogah-ogahan membalikkan tubuhnya. "Ada apa Laurent?"


Laurent memainkan jemarinya dan menggigit bibir bawahnya. "Maafkan aku!!" lirihnya seraya tertunduk.


"Oh astaga, si Nona meminta maaf." Celutuk Bobby lagi, mengejek. Bobby, dan Nick, dua sosok yang menjadi saksi bagaimana Ayden hancur ketika Laurent berselingkuh dengan Arthur. Butuh waktu untuk keduanya menghibur Ayden pada saat itu.


"Kenapa kau hanya diam Ayden? apakah kau tidak bisa memaafkanku? dan melupakannya. Bukankah semua manusia punya kekurangan, dan mempunyai kesempatan untuk memperbaiki semua?"


Ayden menatap Laurent dengan malas. Ia mengetahui sosok wanita yang berdiri depannya. "Sebaiknya kita pergi, aku sudah mengantuk."


"Ayden... " panggil Laurent lagi, seraya mengulurkan tangannya untuk menggapai tangan Ayden. Ayden dengan cepat mengangkat tangannya.


"Aku sudah memaafkan mu, Apakah kau puas??"


Laurent pun tersenyum. "Terimakasih Ayden... Terimakasih."


Ayden tidak menanggapi ucapan Laurent. "Ayo bro, kita jalan."


Aku akan membuatmu kembali kepadaku Ayden.