
"Lihatlah dua wanita milikmu Dad, dan pandangilah mereka. Bukankah Mom terlihat berkelas, dan wanitamu terlihat murahan." Bisik Petter tenang. Manik hijau dengan garis hitam menyelisik seakan menggoda Ayahnya yang mematung.
"Aku berkata dengan benar bukan?" Petter semakin menarik satu sudut bibirnya. Perubahan drastis mimik wajah Ayahnya, sesuatu yang menarik untuk di pandang kedua netranya. Ayahnya, si pengendali seperti tidak berkutik, hanya geraman yang terdengar olehnya.
Mariana menganyunkan langkah kakinya, menghampiri suami dan juga Petter yang tengah menunggunya. "Maaf, telah membuat kalian menunggu lama." Ucap Mariana yang sudah berdiri di sisi suaminya, lalu meletakkan satu cangkir berisi kopi yang di bawanya ke atas meja.
"Tidak apa sweety," balas Chalk, tangannya terulur menyentuh pinggang Mariana dan mengusapnya sangat pelan.
Mariana tersenyum lembut seraya membalas perlakuan Chalk, dengan mengelus rambut legam yang telah tertata dengan rapi, penuh perhatian.
Keintiman keduanya, menjadi pemandangan yang tidak mengenakan untuk Amora. Amora menarik napas kesalnya dengan rahangnya mengencangkan. Mencoba menghilangkan rasa cemburunya. Juga emosinya yang terpicu dengan apa yang ia lihat.
Sesegera, Amora meletakkan wadah kristal berisi buah ke tempatnya.
"Kenapa disini mendadak terasa panas!" alis Petter terangkat meledek Amora. Wanita yang berhasil mencuri perhatian, dan hati Ayahnya. Diakui Petter, wanita ini mempunyai wajah yang cantik dan mempesona. Tubuhnya ideal. Tinggi proposional dengan bookong padat, juga memiliki daada yang besar. Seksi, Ck, itulah kesan tentang Amora. Tidak heran jika Ayahnya begitu mendambakan wanita yang memiliki mata berwarna abu-abu itu. Amora benar-benar sosok wanita yang menggairahkaan.
Amora masih berusaha menahan diri. Tangannya mengepal erat, menahan amarah dan keresahan di dadaanya.
Chalk memandang sinis ke arah Petter. Bibirnya terkatup rapat, enggan menanggapi pernyataan Putranya yang ia yakini untuk menyindir kekasihnya. Lalu netra hitamnya menatap sebentar ke arah Amora, hingga iris mereka saling bertemu sejenak.
Amora berdeham pelan, lalu ia membuka suaranya. "Saya, pamit kembali ke dapur, Nyonya." Tutur wanita itu.
"Memang itu tempatmu," celetuk Petter, senyuman pun terbit memenuhi wajahnya.
"Kenapa kau berbicara seperti itu, Petter!" bentak Chalk, karena ketidaksukaannya dengan ucapan Petter seolah merendahkan kekasihnya.
Mariana tersentak. Ia memberhentikan pergerakkannya yang sedang menyiapakan roti. Lalu, Mariana menoleh, dan menatap tidak percaya kepada suaminya. Chalk terlihat begitu marah, tidak biasanya suaminya seperti itu.
Mariana pun memindahkan pandangannya untuk menatap putranya. "Kau tidak boleh berbicara seperti itu Petter," Mariana menimpali ucapan Chalk memberikan nasihat. Diakuinya, Putranya keterlaluan."Minta maaf lah, nak. "
Petter dengan enggan, mematuhi perintah Ibunya. "Maafkan aku Amora."
Amora hanya mengangguk, dan ia kembali ke dapur dengan langkah tergesa-gesa. "Anak itu benar-benar siaalan." bisik dalam hatinya.
Setelah kepergian Amora, suasana masih tetap sama. Tidak ada obrolan hingga suara Chalk terdengar. "Nanti malam aku akan pulang terlambat, Sweety." Chalk membersihkan permukaan bibirnya menggunakan sapu tangan, setelah ia menyelesaikan sarapannya. "Kau tidak perlu menungguku. Tidurlah lebih awal, kau terlihat sangat lelah."
Tarikan napas terdengar, Mariana pun mengulum bibirnya mendapatkan perhatian dari suaminya. Ya, akhir-akhir ini Mariana tidak bisa tidur dengan nyenyak. Tepatnya setelah kepulangannya dari Perancis. Kecurigaannya adanya perselingkuhan yang dilakukan suaminya menganggu fikirannya. Selama ini, selama 25 tahun lamanya, Chalk mengistimewakannya, dan bersikap romantis. Apa kedua hal itu adalah senjata Chalk untuk menutupi sisi lain yang dimilikinya?
Mariana begitu tenggelam dalam lamunan, dan tidak menyadari jika Chalk sudah berdiri. Siap untuk berangkat untuk menghadiri beberapa pertemuan penting dan malamnya ia sudah berencana menemui putra Justine bersama Ace.
"Mariana!"
Mariana sedikit mendongak, lantas ia berdiri. Diambilah jas milik Chalk yang tersemat di sandaran kursi dan memasangkan jas berwarna hitam ke tubuh suaminya.
"Mom, Dad... Aku ingin kembali ke kamarku lagi. "
"Jika kau tidak ada kegiatan, ikutlah bersamaku. Aku akan meminta Roland untuk mengajarkanmu tentang mengelolah perusahaan."
"Maaf Dad.... Aku mengantuk sekali." Acuh Petter seraya berbalik.
"Bersabarlah sayang," Mariana mengatakan sambil mengusap dadaa Chalk. Pria itu kembali menatap Mariana. "Nanti aku akan mencoba berbicara dengannya."
"Terimakasih sweety, kau memang yang terbaik."
Cih amit-amit... otor said 😒
Dirangkupnya dagu Mariana, Chalk membungkam bibir istrinya bertepatan Roland masuk ke dalam ruangan makan untuk menemui Tuannya.
Chalk yang menyadari kehadiran Roland, ia menarik pinggang Mariana dan meluumat bibiir istrinya semakin dalam. Roland pun tertunduk, seraya membalikkan tubuhnya. Kedua matanya bergetar, dan ia kesulitan untuk bernafas dengan benar.
"Penutup sarapan yang sangat manis sweety," Chalk tersenyum seraya mengusap bibiir Mariana menggunakan ibu jarinya. "Aku segera berangkat. Kau kembalilah ke kamar, tidak perlu mengantarku sampai depan."
Mariana mengangguk samar. "Berhati-hatilah, dan jangan lupa beri aku kabar," permintaan Mariana, tangannya berpindah mengusap tangan suaminya.
"Tentu ,sweety." Chalk memberikan lagi satu kecupan di puncak kepala Mariana. Reflek, Mariana terpejam menikmati kecupan dari suaminya. "See you.. "
Chalk sedikit memiringkan tubuhnya. "Ah Roland kau sudah datang rupanya."
Roland kembali memutar tubuhnya, mengarahkan pandangan ke arah Chalk, dan netranya tidak sengaja melihat Mariana. Mariana pun tertunduk, dan mengusap lehernya nampak gelisah.
"Apa keperluan rapat sudah dipersiapkan?" tanya Chalk mendekati Roland yang berdiri di dekat pembatas lorong penghubung.
"Sudah Tuan, " jawab Roland.
Chalk pun mengangguk. "Sebaiknya kita berangkat sekarang, agar kau tidak berlama-lama memandang istriku," bisik Chalk penuh penekanan. Roland lagi-lagi terdiam.
Akhirnya kedua pria itu pergi. Hanya Mariana yang masih berada di sana hingga tiga pelayan datang untuk merapikan meja makan. Salah satunya, adalah Amora.
Kembali, Mariana memperhatikan Amora, dan menghirup parfume yang tercampur dengan aroma tubuh wanita itu. Wangi parfume yang sama dengan aroma yang melekat di tubuh suaminya pada saat itu.
Seketika, batinnya bergejolak.
Dengan langkah cepat Mariana menuju kamarnya yang terletak di lantai atas. Ditariknya tungkai laci meja riasnya, ia mengeluarkan sebuah kotak kecil dan membukanya kemudian. Lalu, Mariana mengambil helaian rambut yang ia temukan di ruang kerja suaminya, yang disimpannya di dalam kotak tersebut.
"Biar saya saja yang membuatkan kopi untuk Tuan, Nyonya. "
Deg...
Manik hijaunya bergetar, nampak nanar. Mariana memperhatikan lagi helaian rambut itu, memastikan lagi. Warna serta gelombang nampak sama dengan rambut pelayannya. "Oh astaga," Mariana tertunduk. Dengan mengepalkan kedua tanganya, ia tersenyum lirih.
Mariana berusaha tegar ditengah badai yang menghampiri dirinya. Ia mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Hallo Al, bisakah kita bertemu siang ini. Aku membutuhkan bantuanmu."
Hallo guys, bagaimana bab kali ini? sudah menguras esmosi belum? 🤣
Tak bosan² aku mengingatkan untuk tekan like n tinggalkan komentar kalian. 😘 Terimakasih