
Bersabarlah, aku akan mempertemukan kalian
Bersamaan suara hatinya, kedua matanya tertutup. Jay yang melihat, tertawa puas. Ia mendekati tubuh Cloud yang tengkurap, dijambaknya rambut coklat milik Cloud hingga kepalanya terangkat. "Sekarang, kau yang kalah bung, " kekehnya, memperhatikan banyaknya luka dan lebam di wajah Cloud.
"Bawalah pemuda ini Rom! " ujarnya melepaskan cengkraman tangannya di rambut Cloud.
Romy mengangguk. Pria itu memasangkan penutup di kepala Cloud kemudian. Lalu bersama Bruno, ia mengangkat tubuh Cloud untuk keluar dari ruangan bawah tanah membawanya ke beranda mansion.
Frank melihat kehadiran Romy dan Bruno di beranda mansion, segera ia membukakan pintu mobil yang di sewa sebelumnya. Tubuh Cloud yang terkulai di masukan ke dalam mobil bagian penumpang.
"Kalian ingin membawa pemuda ini kemana? " tanya Benz datang dari arah pos ikut bergabung dengan mereka. Benz melirik kearah Cloud, posisi tubuh Cloud meringkuk.
"Old House Woods, " jawab Bruno dingin. Pria berkulit hitam itu membuka pintu mobil di bagian kemudi.
"Ayo Rom, kita harus berangkat sekarang. Ace sudah menunggu. Bukalah pintu gerbang!" Ia pun masuk ke dalam mobil, di susul Romy kemudian.
Benz berbalik arah, ia membuka pintu gerbang. Tak lama kemudian mobil yang membawa Cloud keluar dari perkarangan mansion.
"Kemana bocah itu? Kenapa lama sekali. " keluh Aldric mengkhawatirkan Cloud. Sudah pukul dua belas malam Cloud tidak menunjukkan batang hidungnya.
"Ada mobil yang keluar dari mansion, " gumam Aldric memantau dari kejauhan. Mobil itu melintasi mereka kemudian ia melihat titik lokasi keberadaan Cloud.
"Sial, bocah itu tertangkap." Aldric segera menghubungi atasannya. "Halo sir.. Pemuda itu tertangkap, dan dibawa pergi."
Aldric menghela napasnya, yang ia khawatirkan benar-benar terjadi. "Tetap pantau keberadaan Cloud, dan kembalilah ke markas, kita atur strategi berikutnya."
Flashback..
Cloud mendatangi Richard di markas milik atasan agen DEA itu sebelum ia pergi ke mansion black eagle. Ada hal yang ingin dibicarakan olehnya.
"Hari ini... Aku berancana ingin kembali kesana, sir. " yang dimaksud Cloud adalah ruang bawah tanah. Keputusannya setelah banyak pertimbangan yang dipikirkannya tadi malam. Cloud memiliki firasat buruk mengenai ayahnya.
"Kau yakin ingin kembali kesana, son? " tanya Richard mengkhawatirkan Cloud. Cloud akan kembali, dan bisa saja pergerakan Cloud diketahui anggota kartel.
" Iya sir, " jawab Cloud yakin.
Cloud melepaskan ranselnya, ia mengeluarkan laptop, kamera pengintai, ponsel, serta alat-alat yang ia pergunakan untuk misi, dan juga pistol yang diberikan Richard.
Richard menatap serius ke arah Cloud. "Kau sangat cerdas, Cloud. " ungkap Richard.
Cloud mencoba menyembunyikan barang bukti, mengantisipasi jika ia sampai tertangkap. Setidaknya ia bisa mengamankan dirinya dan juga ayahnya dari pimpinan kartel yang bisa saja mencurigainya.
"Di dalam laptop terdapat banyak bukti kejahatan mereka sir. Salah satunya bukti kekejaman mereka yang menyiksa seseorang di ruang bawah tanah. "
"Abigail, pindahkan barang bukti dan hapus email Cloud." Abigail mengangguk. Segera ia melakukan tugasnya.
Richard menghampiri Abigail yang berada di belakang meja kerja setelah Aldric menyelesaikan panggilan.
"Bagaimana, kau sudah selesai memindahkan barang bukti tersebut? "
"Sudah sir, saya juga sudah membersihkan bukti dari laptop, dan ponsel pemuda itu, " jawabnya membuat Richard sedikit bisa bernapas.
"Kerja yang bagus. Lantas informasi apa yang kau dapat?"
"Tuan Chalk Parker akan melakukan penerbangan ke New Zealand bersama istrinya, lusa nanti, sir."
"Kepergian pria itu akan menjadi peluang kita semua."
🍂🍂🍂
Chalk menarik tungkai pintu kamarnya. Mendorong perlahan, dalam temaram ia menemukan Mariana duduk di tepian ranjang. "Swetty, kau belum tidur? " tanya Chalk cukup terkejut. Sesegera ia masuk, dan menutup pintu perlahan.
Ya, wanita itu selalu tidur awal, tidak biasanya ia terjaga sampai larut kecuali untuk memenuhi kebutuhan Chalk.
Marianan terburu-buru memasukkan beberapa kapsul ke dalam mulutnya yang berada di genggaman. Ia menegak cairan bening, lalu di letakan kembali gelasnya diatas meja.
Mariana pun bangkit. "Kau sudah pulang, Chalk. " Ia memeluk Chalk dan menelanggamkan wajahnya di dadaa. Berpura-pura, seperti sikap Chalk kepadanya. Mariana harus melakukan drama untuk memperdaya Chalk meskipun ia sudah muak dan lelah menghadapi sosok pria yang masih menyandang status suaminya itu.
"Kau senang aku pulang lebih cepat?" tanya Chalk diiringi senyuman khasnya. Kali ini Mariana tidak tertipu lagi dengan senyuman yang dulu sempat ia puji-puji.
Seharusnya pria itu pulang sehari sebelum keberangkatannya ke New Zealand, namun di percepat karena ia memerintahkan Ace untuk menahan Justin di Old House Woods.
Mariana tersenyum, lalu menengadah wajahnya. "Tentu....Chalk, aku sangat senang." jawabnya seraya tersenyum lebar. "Aku bisa tidur dengan nyenyak malam ini, setelah aku meluapkan rinduku. " Mariana menciuum bibir Chalk, bersamaan ruas jemarinya bergerak membuka tiap kancing kemeja Chalk.
Chalk terkekeh, disela ciuman. "Kau sangat lapar rupanya? "
"Iya Chalk, sangat... " bisik Mariana diakhiri desaahan menggoda. Ia melepaskan kemeja Chalk, sehingga tubuh sixpack Chalk menjadi pemandangan mata.
"Maka lakukanlah sweety, aku sangat rindu sentuhan dan jeritanmu memanggil namaku. "
Pagi pun menyapa, Mariana bangun disaat Chalk masih terlelap. Ia memakai gaun tidurnya, dan memungut kemeja, celana Chalk yang masih tergeletak di lantai.
Mariana memeriksa kemeja Chalk. Ia melihat bagian kerah terdapat noda lipstik berwarna merah muda. "Astaga, sebelum mengaauliku, ternyata dia.. " ia tertawa. "Oh ya Tuhan... "
Mariana pun berjalan menuju toilet yang berada di kamarnya. Suara langkah kakinya terdengar mengiringi kesepian. Mariana masuk ke dalam, kemudian ia berhenti di depan kaca toilet yang menampilkan setengah tubuhnya. Di bagian leher, tulang selangka ada jejak Chalk disana. Mariana mengusap ruam- ruam kemerahan dengan kasar. "Ini sangat menjijikkan."
Isak tangis terdengar. Mariana menghidupkan keran, lalu ia membasuh wajahnya. "Nikmatilah kesenanganmu yang tersisa Chalk, setelah kau akan... Hahaha. "