Reckless

Reckless
SERANGGA BUAS



Bab special buat yang masih stay di lapak ku, jan lupa like n komentarnya 😒 🔨🔨🔨 Terima gaji...


"Karena aku menyukai pria yang menjadi kekasih adikmu, Ayden." Alana meninggikan suara. Bersamaan itu, buliran yang mengkristal di maniknya begitu saja runtuh.


Ayden tertegun. Dengan ke dua mata legamnya yang nampak sayu, Ayden tidak memindahkan pandangannya. Ia masih menatap Alana dalam diam. Melihat bagaimana air mata mengalir di wajah cantik Alana, dan mengukur seberapa dalam luka dihati gadis yang sudah memenuhi ruang di dalam hatinya.


Di hadapi situasi yang sedikit rumit, Ayden membuang jauh rasa kecewa, dan rasa sakit hatinya dengan memikirkan perasaan Alana. Sungguh, jika Alana ingin menjadikannya tempat untuk bersandar, ia akan bersedia.


Terburu-buru Alana menyeka air matanya, dan kemudian ia sedikit mengangkat dagunya. "Aku sudah menjawab pertanyaanmu Ayden, sekarang pergilah!!" usir Alana dengan tegas.


Alana menarik tubuhnya mengenyamping untuk menjauh, akan tetapi Ayden bergerak cepat. Pria itu menaruh kedua tanganya disamping kedua tangan Alana. Mengunci semua pergerakan Alana.


Kembali ke dua netra mereka saling bertemu.


"Ada apa lagi, hah?" Alana mengerutkan dahinya. Ia sudah menjawab pertanyaan Ayden. Seharusnya yang dilakukan pria itu keluar dari kamarnya. Ah ya, Alana melupakan jika pria yang dihadapannya adalah pria pemaksa.


"Pergilah dari sini, Ayden. " Ucap Alana seraya mendorong tubuh Ayden. Namun sialnya, bukannya terdorong, pria itu semakin mengunci pergerakannya.


"Jika, aku tidak mau bagaimana? Apa kau akan mewujudkan niatmu untuk berteriak?" bisik Ayden menantang, nada suaranya parau, seksi, bahkan aroma mint yang keluar dari mulut Ayden terhidu membuat Alana meremang. Dan dalam detik yang sama, iris matanya kembali memandang netra pria itu.


Ayden mendekatkan wajahnya, hingga jarak diantara mereka semakin dekat. "Aku rasa kau tidak akan melakukannya," bisik Ayden nyaris mengenai bibir Alana.


Alana menelan salivanya susah payah. Ia mendengar deru napas Ayden tidak beraturan membuatnya semakin gamang.


Jantungnya berhenti beberapa detik, lalu hadir dengan hentakan bertubi-tubi.


"Alana..."


"I want to kiss you."


Ayden tidak memberikan kesempatan untuk Alana berfikir. Pria itu menarik pinggang Alana, dan langsung melahaap penuh bagian yang bervolume itu.


Alana membelalakan mata, serangan Ayden membuatnya sedikit terkejut. Namun, lagi-lagi ia tidak menolak. Ciuumann pria itu membawa sengatan listrik keseluruh tubuhnya, membuat darahya berdesir.


Cumbuuan itu semakin liar. Ayden melesakkan linggualnya masuk ke dalam mulut Alana yang dibalas gadis itu. Alana mulai tenggelam. Menikmati, gerakan bibir Ayden yang berirama, maniknya perlahan terpejam dengan kedua tangannya bergerak, melingkar di balik punggung lebar milik pria itu.


Ayden melepaskan tautan bibirnya. Menghirup oksigen dengan deru nafas yang tidak beraturan, dahi mereka saling bertemu. "Izinkan aku untuk mengobati luka dihatimu, Alana." Bisik Ayden memecahkan keheningan yang terjadi beberapa detik lalu setelah pangutan mereka terlepas. Dilihatnya napas Alana masih terengah.


Alana bergeming, sekali lagi Alana menatap iris legam milik pria itu yang terlihat sayu, dan memohon. Apakah pria ini bersungguh-sungguh dengan ucapannya?? Dan Alana menemukan ketulusan dari sorot mata Ayden.


Alana menggigit bibir bawahnya kemudian, lalu ia membuang tatapannya ke bawah. "Bagaimana Alana, hmm?" Ayden merangkup rahang Alana, dan mengangkatnya perlahan. "Kau mengizinkannya?"


Alana mengerjap, jantungnya berdetak-detak dengan keras. "Bagaimana caranya kau mengobati luka di hatiku? Dengan memberikan obat luka dan membungkus hati ku dengan perban??"


Pertanyaan bodoh begitu saja keluar dari mulutnya, membuat sosok pria di depannya tersenyum. Alana mendengus, lalu ia membuang wajahnya.


"Mungkin itu yang akan aku lakukan." Ucap Ayden, membuat Alana sekali lagi menatapnya. "Aku akan mengambil pisau terlebih dahulu, setelahnya aku akan membuka..." ucap Ayden terhenti, nafasnya memburu begitu maniknya tidak sengaja melihat belaahan di antara kerah badrobe Alana yang terbuka. Shiiit, Ayden mengumpat dalam hatinya, dan menelan salivanya dengan keras. Konsentrasi untuk menggoda Alana, buyar seketika.


Menyadari sesuatu yang tidak beres, Alana buru-buru menyilangkan tangannya di atas dadaanya . "DASAR PRIA MATA JELALATAN!!"


Tok... Tok... Tok...


"Alana..." panggil seorang pria diluar kamarnya.


"Dad...!!" Alana membeliakkan matanya, sesegera ia menarik tangan Ayden, menggiring pria itu untuk masuk ke dalam lemari pakaiannya. "Masuklah!!" ucapnya seraya membuka pintu lemarinya.


"Tidak mau!" tolak Ayden dengan enteng.


"Ayden, please masuklah!!" perintah Alana lagi memelas. Alana tidak ingin Ayahnya mengetahui jika ada seorang pria berada di dalam kamarnya.


Tok... Tokk... Tok...Kembali suara ketukan terdengar. Ayden manarik satu sudut bibirnya. "Aku akan masuk, tapi dengan syarat."


"Jadilah temanku, dan berikan nomer ponselmu."


Alana mendesis pelan, sebelum ia menjawab. "Iyaa.. Iya... Aku akan menerima syarat darimu. Sekarang masuklah!" jawabnya terpaksa.


Cek lek...Alana pun menoleh ke arah pintu kamarnya. "Dad," panggil Alana tersenyum kikuk.


"Kau berbicara dengan siapa Alana? Dad mendengar kau berteriak," tanya Harry begitu ia masuk ke dalam kamar milik putrinya.


"Ada seekor serangga yang masuk ke dalam kamarku, Dad."


"Serangga??" tanya Harry, untuk memastikan lagi.


"Yah, Dad...Serangganya sudah bersembunyi, ah maksudku sudah pergi." Harry mengangguk samar, namun maniknya menyapu setiap sudut kamar putrinya itu


"Kau sudah makan malam, Dad?" tanya Alana, untuk mengalihkan situasi.


"Belum, sayang." Jawab Harry, kembali ia menatap putrinya yang semakin mirip dengan mendiang istrinya.


"Bagaimana jika kita makan malam di restoran sea food, aku yang akan mentraktirmu, Dad."


Harry pun mengangguk. "Baiklah," Harry tersenyum lembut, seraya membelai pelan rambut putrinya. "Dad akan bersiap." Harry pun keluar dari kamar putrinya.


Alana segera menutup dan mengunci pintu kamarnya. Gadis itu menghela napas pelan. "Aman.. "


"Jadi kau menyamai ku dengan seekor serangga." bisik Ayden tepat di belakang tubuh Alana.


Alana menoleh, dan tersentak saat pria itu bergerak cepat mendorong tubuhnya dan mengunci pergerakannya.


"Iya, sebutan yang tepat untukmu mu Ayden. SERANGGA BUAS."


Ayden pun terkekeh pelan, ia tidak tersinggung dengan sebutan Alana untuknya.


"Sekarang berikan nomer ponselmu," tagih Ayden yang langsung di turuti Alana.


"Aku sudah memenuhi syaratmu. Pergilah, aku ingin bersiap."


"Terimakasi Alana," Ayden kembali membungkam bibir Alana tanpa permisi.


Kali ini pergerakan bibiirnya sangat lembut, dan lebih menggunakan hatinya. Alana bisa merasakan itu.


Ayden menarik wajahnya seraya tersenyum, kemudian dengan berat hati ia melangkah mundur. "Sampai berjumpa lagi Alana. Esok aku akan pergi ke Atlanta. Kau tidak perlu khawatir, jika kau merindukanku, kau bisa menghubungi ku. "


"Cih, apa-apaan dia?" gumam Alana dalam hatinya.


Akhirnya, sampailah Ayden di balkon. Ia pun memutar tubuhnya. "Dimana tangganya?"


"Ada apa?" tanya Alana seraya membawa kakinya untuk mendekati Ayden.


"Tangganya menghilang," jawab Ayden tanpa expresi, berhasil membuat Alana tertawa.


"Astaga... " Ucap Alana seraya mengusap tengkuk lehernya.


Ayden begitu terpesona. Ini pertama kalinya ia melihat Alana tertawa. Mengagumkan...


Alana berdeham pelan, dan menatap lagi sosok pria yang baru saja menjadi temannya itu. "Melompatlah Ayden!"


"What??"