Reckless

Reckless
SURPRISE!!!



"Hana?" Ayden memperhatikan dengan seksama, memastikan lagi jika yang ia lihat adalah adik satu-satunya. "Itu benar Hana, lalu pria itu siapa?bukannya dia sedang bersama Lvy dan Clara?" rententan pertanyaan dari dalam hatinya memenuhi fikirannya. Namun, satu hal yang pasti, Hana telah membohonginya.


"Ini sir, tiketnya. Terimakasih dan selamat menonton." Ayden mengambil tiket untuknya dan juga Alana. Lalu, pria itu keluar dari barisan antrian. Ayden kembali merotasi netranya, namun Hana sudah tidak berada disana. "Kenapa cepat sekali mereka pergi," keluh Ayden.


"Kau sendang mencari siapa?" tanya Alana.


"Aku melihat adikku dengan seorang pria."


Deg, Alana diam membeku. Wajah cantiknya seketika berubah pias. Apa pria bersama Hana adalah Cloud? tanya Alana dalam hatinya.


Masih di daerah Fashion Distiric, Hana dan Cloud sudah singgah di sebuah cafe yang menjual es krim. Lokasi cafe tersebut tidak jauh dari gedung bioskop.


Hana dan Cloud masih menikmati waktu bersama. Kali ini dengan satu wadah berisi es krim rasa vanilla dalam ukuran besar untuk mereka berdua.


"Kau benar tidak masalah, jika besok aku tidak mengantarmu pulang?" tanya Cloud untuk memastikannya lagi.


Ya, esok hari Cloud kedapatan shift siang yang mengharuskan ia datang awal ke restauran tempatnya bekerja. Arah rumah Hana dengan restauran tempatnya berkerja berlawanan arah. Jika ia harus mengantarkan Hana terlebih dahulu, ia pasti akan terlambat.


"Tidak masalah Cloud, aku sangat mengerti. Lakukanlah kewajibanmu. Kau tidak perlu khawatir, ada Lvy yang bisa memberi ku tumpangan."


Ah betapa bersyukurnya Cloud mendapatkan seorang Hana Pastone kembali. Hana sosok gadis yang sangat pengertian. Tidak berpengalaman dalam percintaan, Cloud adalah cinta pertamanya dan apa yang barusan Hana ucapkan, Hana mengerti kondisi dari kekasihnya itu.


Hana pun mengulum es krim di dalam mulutnya , lalu berikutnya ia menyuapi Cloud. "Bukalah mulutmu."


Cloud menerima saja suapan itu refleks dan tersenyum sambil bergumam lezat.


"Jika Lvy tidak bisa, bagaimana?" Cloud bertanya lagi.


"Ada si bujang lapuk di rumah yang bisa menjemputku. Aku bisa menghubunginya dan taraaanggg dia pasti akan datang menjemputku."


Hana mengulum senyum dan memasukkan lagi satu suapan es krim ke dalam mulutnya. Lalu kembali ia menyuapi Cloud.


Hingga suara ponsel yang teletak diatas meja, mengalihkan mereka. Hana mengambil benda pipih miliknya, dan nama "Bujang Lapuk" tertera di layar ponselnya. "Lihatlah, baru saja kita membicarakannya. Dia sudah menghubungiku."


Segera Hana menerima panggilan dari saudara laki-lakinya itu. "Ada apa lagi kau menghubungi ku?" tanya Hana saat ponsel sudah berada di depan daun telinganya.


"Kau berada di mana?" tanya Ayden. "Mom menanyakan dirimu begitu aku sampai dirumah." sekarang gantian Ayden yang membohongi Hana. Untuk apa? untuk memancing agar adiknya memberitahu keberadaannya.


"Aku berada di Fashion district, Ayden." Ayden tersenyum. Penglihatannya tidak salah. Yang ia lihat tadi memang Hana, lantas siapa pria yang bersama adiknya tadi? Apakah Hana sudah memiliki kekasih? Ayden harus segera mencari tahu.


"Apa yang sedang kau lakukan, disana?" tanyanya lagi, mulai menginterogasi.


"Kenapa kau berisik sekali!" protes Hana. "Aku sedang menikmati waktu bersama sahabatku di Helado cafe."


*Helado bahasa Spanyol 👉 es krim.


"Tolong sampaikan kepada Mom, aku berjanji tidak akan pulang larut malam!"


Aku akan memberikan kejutan untukmu Hana. Kau pasti akan terkejut.


"Baiklah, nanti aku sampaikan. Berhati-hatilah, dan tepati janjimu untuk tidak pulang larut malam." Ayden benar-benar melakoni peran sebagai kakak yang baik. Memang nyatanya, seperti itu dirinya. Ayden begitu posesif jika berkaitan dengan adiknya. Hal yang wajar, bukan??


Ayden menyelipkan kembali ponselnya ke dalam saku celana, setelah ia menyelesaikan sambungan teleponnya. Kembali ke tempat tadi, di dekat meja kasir, Ayden menemui Alana yang masih menunggunya.


"Maaf membuat kau menunggu."


Alana pun mengangkat wajahnya. "No problem," singkat Alana, seraya menyematkan tali tas pada bahunya, lalu ia pun berdiri dan bersiap untuk masuk ke dalam studio.


"Temani aku untuk menemui adikku."


Alana cukup tersentak, dan rasa bimbang begitu saja memenuhi relung hatinya. Alana sungguh tidak siap jika nanti ia harus bertemu dengan Pujaan hatinya. Terlebih lagi Cloud bersama seorang gadis yang merupakan adik dari pria yang berada di depannya.


"Bu-bukannya kita akan menonton?"


Ayden memeriksa jam tangannya yang melingkar pas di pergelangan tangannya."Pemutaran film, masih satu jam lagi Alana. Aku ingin memberikan adikku sebuah kejutan, karena ia telah membohongiku. Sekalian, aku akan memperkenalkan kalian. Kau pasti sangat senang berkenalan dengan adikku. Adikku begitu berisik tapi sungguh dia seorang yang menyenangkan. "


Ya Tuhan aku harus berbuat apa sekarang??


Belum sempat Alana menemukan kalimat untuk menolak ajakan Ayden, tangannya sudah berada di genggaman tangan pria itu.


"Ayo, " titah Ayden, menuntun Alana. Alana hanya bisa pasrah. Lagipula jika ia menolak tanpa sebab, Ayden akan menaruh curiga kepadanya. Biarlah seperti ini.


Selama sepasang kakinya melangkah, Alana tidak berhenti berharap. Harapannya ialah jika Hana sudah tidak berada disana. Namun di lain hal, ia harus menyiapkan hatinya jika mereka benar-benar bertemu.


"Ada sisa es krim di sudut bibirmu," Cloud mengambil tissue yang memang disediakan diatas meja. Kepalanya sedikit miring, tangannya pun bergerak untuk membersihkan sisa es krim. "Kau seperti anak kecil saja Hana." Ucapan Cloud di iringi tawanya. "Selesai."


Hana tersenyum manis, sangat manis. Tersipu dengan irisnya yang berkilau indah. Terpancar, bagaimana kebahagiaan yang ia rasakan dapat dilihat dari kedua bola mata indahnya.


Cloud menatap Hana dengan penuh arti. Ia tidak bisa berpaling, netra coklat milik Hana seperti magic yang menghipnotisnya. Cloud terus terpaku, dan ia menganggumi Hana berulang-ulang kali dalam hatinya.


"Jangan menatap ku terus seperti itu Cloud, aku jadi salah tingkah." Hana menggigit bibir bawahnya di bagian dalam, lalu ia menggeser tubuhnya agar menjauh. Mengantisipasi, agar kekasihnya itu tidak menciuumnya lagi seperti saat siang tadi.


"Kenapa kau menjauh, sayang?" tanya Cloud dengan heran.


"Mengantisipasi, agar tidak ada serangan dari bibirmu Cloud."


Cloud tergelak, ucapan Hana menggelitiknya. "Memangnya kenapa jika bibiirku menyerang bibiir mu di sini?"


Hana pun menepuk pelan keningnya. "Oh astaga, disini bukan lokasi yang tepat untuk melakukannya. Lihatlah banyak anak kecil. Di sana, di sana, di sana." ucap Hana sambil menunjuk keberadaan anak kecil dengan menggerakan dagunya. "Dan... "


"Ayden..."


"Surprise!!!"