
Bungkusan apa itu??
Dalam sekejap, Cloud membuka matanya lebar. Ace memasukan serbuk berwarna putih ke dalam minumannya. Charlie. Cloud merapatkan bibirnya, rahang tegasnya mengeras dengan tangan yang terkepal kuat.
"Belikan barang itu Hana, aku-aku tidak kuat tersiksa seperti ini. Aku mohon.... Please..." Tubuh ringkih Cloud bergetar hebat. Peluh pun membanjiri seluruh tubuhnya. Bibirnya membiru dan memucat. Cloud duduk bersimpuh memohon kepada Hana untuk membelikan barang yang membuat dirinya candu. Membuatnya merasakan ketenangan dan merasakan euforia.
"Tidak Cloud, " Hana menolak dengan keras. "Aku tidak akan membelinya. Kau harus sembuh." Hana meninggikan suaranya dengan lantang.
"Aku sungguh tersiksa... " Keluh Cloud seraya menggaruk-garuk tubuhnya hingga meninggalkan luka. Melihat Cloud tersiksa, Hana membuang jauh rasa ibanya. Cloudnya harus sembuh...
"Kau bisa melewati semua Cloud," Hana sedikit memajukan tubuhnya, ingin memeluk Cloud. Namun, Cloud segera medorong tubuh Hana sehingga membuat Hana tersentak, dan meninggalkan perih di hatinya.
"Ka-kau tidak merasakan apa yang aku rasakan Hana!!Kau berkata jika kau mencintaiku. Apa itu hanya sebuah kebohongan??" Hana menggelengkan kepala, dengan tatapan nanar. Ia menepis rasa perih di hatinya, meyakini Cloud membutuhkannya.
"Tidak Cloud, aku sungguh mencintaimu." Hana tidak menerima pertanyaan Cloud barusan. Perasaannya buat Cloud begitu mendalam.
"Lalu apa?? Kau tega membiarkan aku tersiksa seperti ini??"
"Aku melakukannya karena ingin kau terbebas dari barang haram itu Cloud."
"Omong kosong, pergilah Hana, aku membencimu! "
Mata Cloud bergoyang. Ia menarik napas yang tertahan didadanya. Lagi dan lagi, Cloud teringat pengorbanan Hana untuknya.
Apa yang dilakukan Chalk, menjadi awal mula yang membuat Cloud menyukai barang yang membahayakan dirinya. Ya, karena serbuk yang dimasukkan ke dalam minumannya . Apa tujuan mu menjerumuskanku, Tuan Palker? Cloud pun mengeram.
"Maaf, telah membuat Anda menunggu lama." Cloud kembali menduduki kursi yang ia tempati tadi.
"Tidak apa Dude, habiskanlah makananmu."
Cloud meraih pisau dan juga garpu. Lalu, ia menggoreskan pisau di atas permukaan daging steak perlahan. Siku tangannya yang tertekuk, mengenai gelas miliknya hingga terjatuh, dan cairan orange pun tercurah keluar. Cloud tersentak. "Ya Tuhan.. Minumanku."
Manik Chalk, dan Ace tertuju pada Cloud. Chalk mendengus kasar, karena misinya gagal. "Aku akan memesan minuman untukmu lagi." Chalk melambaikan tangannya, saat didapatinya seorang pelayan yang baru saja masuk ke ruangan.
Pelayanan sekaligus rekan kerja Cloud, menghampiri mereka. "Ada yang bisa saya bantu Tuan?"
"Saya pesan satu lagi orange jus."
"Baik Tuan."
Beberapa menit berlalu, Cloud sudah menghabisi makan malamnya. Chalk tersenyum samar. Lalu, bertanya. "Boleh aku bertanya sesuatu?"
Cloud meluruskan tatapannya pada Chalk. "Pertanyaan apa yang anda ingin tanyakan Tuan? "
"Sudah berapa lama kau bekerja disini, Dude? "
Pertanyaan ini terulang lagi.
"Aku mulai bekerja setelah kepergian Ayah, Tuan." Jawab Cloud.
Lagi Chalk tersenyum seraya menyesap minumannya. "Kau hebat sekali, Dude. Kau pemuda yang bertanggungjawab."
"Aku ingin menawarkan sebuah pekerjaan untukmu dengan penghasilan yang sangat besar dan hidupmu akan terjamin."
Cloud menggeser ke depan kursinya. "Pekerjaan apa itu Tuan?"
"Hanya memasarkan produksi ku, Charlie. Kau tau maksudku."
"Semua tergantung pekerjaanmu Cloud. Kau tenang saja, aku tidak perhitungan tentang penghasilan. Awal kau bergabung, aku akan memberikan satu unit apartemen untukmu."
"Wow, benarkah?? Ini sangat menarik." Cloud mengusap rahangnya seraya tersenyum. "Tapi Tuan, jika aku tertangkap bagaimana? Kau bisa menjamin diriku?"
"Tentu, sudah aku katakan tadi kehidupanmu akan terjamin."
Cloud nampak berfikir, dengan sengaja ia melakukannya untuk melihat reaksi Chalk. "Bagaimana? Apa kau membutuhkan waktu untuk berfikir? Tidak masalah jika kau ingin berfikir terlebih dahulu. Tapi, aku berharap kau bisa bergabung dan siap melakukan apa yang aku perintahkan."
"Oke Tuan, aku ingin bergabung denganmu tapi setelah kau memberikan apartemen untukku. "
"Itu perkara yang sangat mudah Dude... " Chalk menarik kedua bibirnya. Difikirnya, misinya akan berhasil untuk menjerumuskan Cloud ke dalam dunianya. Itu tidak akan benar-benar terjadi, karena Cloud mempunyai rencana untuk menghancurkan bisnis yang digeluti Chalk. Seperti Ayahnya..
Chalk mengeluarkan kartu nama dari dalam dompetnya dan memberikannya kepada Cloud."Ini kartu namaku," Chalk mengulurkan tangannya.
Dengan segera Cloud mengambil kartu tersebut. Kemudian, Cloud memasukan kartu nama milik Chalk ke dalam saku celananya.
"Terimakasih Tuan atas undangan makan malamnya. Aku ingin kembali bekerja."
"Baiklah anak muda. Jangan lupa untuk menghubungi ku."
"Iya Tuan, " Cloud mengangguk seraya berdiri. "Selamat malam Tuan."
Cloud perlahan melangkah. Puaskanlah dirimu untuk tersenyum Tuan Palker, sebelum kau benar-benar hancur atas keserakahan yang kau perbuat. Musibah sebentar lagi akan terjadi kepadamu.
Cloud masuk ke dalam sebuah ruangan yang di khususkan untuk para pekerja sebelum ia melanjutkan pekerjaannya. Cloud tersenyum. Ia mengeluarkan ponselnya dari saku celananya dan mematikan rekaman yang sengaja ia pasang sejak tadi untuk dijadikannya barang bukti.
Cloud menyempatkan diri untuk memandang layar yang terdapat foto Hana, Cloud semakin melebarkan senyumannya. Kau sedang apa Hana?
🍂🍂🍂
Di tempat lain, di sebuah apartemen terdapat dua pria yang duduk saling berhadapan. Salah satu dari mereka, nampak frustasi setelah melihat kertas yang berada di genggamannya.
"Bagaimana bisa para investor menarik saham mereka??" Pria itu mengeram kesal seraya melempar berkas ke lantai.
"Para investor itu tertarik dengan pencapaian yang dihasilkan Tuan Ayden, Sir. Dari informasi yang saya dapat, mereka bergabung di perusahan properti miliknya."
"Astagaaa, dia lagi dia lagi. Dasar sialaan!!" Pria itu mengusap wajahnya dengan kasar. "Dia benar-benar berhasil membuat perusahaan ku diambang kehancuran. Aku bersumpah, aku akan menghancurkannya!!"
"Ada apa sayang? kenapa kau berteriak? " muncul seorang wanita dari dalam kamar menggunakan badrobe. Wanita itu mendekati kekasihnya.
"Saya pergi dulu Sir, hubungi saya jika anda membutuhkan bantuan." Pria bernama Addy pun keluar dari unit apartemen atasannya.
"Ada apa? hmm... " Wanita itu duduk di atas pangkuan kekasihnya. Ia merangkup rahang prianya, dan mengecup bibir nya.
"Ini karena ulah mantan kekasihmu sayang," jawab pria itu dengan emosi yang masih menguasai dirinya.
Wanita itu membelai wajah rupawan prianya dan mengerti. "Jangan lupa, jika dia adalah mantan sahabatmu Arthur. Lantas, apa rencanamu sayang?"
"Aku masih memikirkan rencana untuk menghancurkannya, Laurent." Arthur memindahkan pandangannya ke bawah seraya mengusap pahaa kekasihnya yang nampak.
Laurent semakin merapatkan tubuh moleknya, lalu ia mengangkat lagi rahang Arthur ke atas dan menciuum bibirnya. "Dalam keadaan seperti ini, tanganmu masih menggoda tubuhku sayang."
Arthur menarik sudut bibirnya. "Bagaimana jika kita melakukannya, lagi."