Reckless

Reckless
DIMANA KEBERADAAN PAMAN?



Di markas DEA, Richard mengetukkan jemarinya di atas meja. Sejak semalam, ia tidak pulang menunggu anggotanya kembali. Raut wajah terlihat lelah, perasaannya juga sedih mengetahui jika ayah Cloud tidak bisa diselamatkan. Ya harapan terputus begitu saja.


Richard pun berdiri membelakangi meja kerjanya, ia menyandarkan bokoongnya ditepian meja, menatap langit dari jendela. Ia meraih cangkir kopi yang sudah menghangat, lalu ia menyeruput kopi hitamnya.


"Dad, " Arabella muncul dari balik pintu, mengalihkan perhatian Richard. Richard berbalik, melihat putrinya berdiri diambang pintu. Ia meletakkan kembali cangkir diatas meja, kemudian ia menyambut kedatangan putrinya


"Masuklah sayang. " Arabella menutup pintu. Berlari kecil menghampiri sang ayah, dan memeluk tubuh pria yang menjadi cinta pertamanya memberi dukungan.


Richard tersenyum samar dalam pelukan putrinya, kehadiran putri satu-satunya menjadi obat penenang untuknya.


Arabella melepaskan pelukan, menatap ayahnya kini. "Aku membawa makan siang untukmu dad, pasti dady belum makan sejak pagi. "


Tebakan Arabella benar, ia belum makan sama sekali. Lalu ia mengangguk membuat wajah Arabella berubah murung.


Arabella mengambil napas, dan membuang dari mulutnya. Ia meraih tangan ayahnya mengajak duduk di sofa. Arabella membuka lunch bag, mengeluarkan kotak berisi menu makan siang mereka.


" Mari.... Kita makan dad, " seruan gadis itu. Richard memaksa dirinya untuk menyantap makan siang karena tidak ingin membuat putrinya khawatir. Padahal ia tidak berselera sama sekali.


"Banyak tugas yang masih menunggu dady, maka dari itu dady harus makan yang sehat agar tidak mudah sakit." Ucap Arabella meletakkan tiga tempura di wadah yang berada di tangan ayahnya, dan juga kukusan brokoli.


"Kau tidak pergi ke kampus, nak? "


"Tidak dad, aku membolos lagi." Jawab Arabella santai. Membolos sudah menjadi kewajiban untuk Arabella, ketika ayahnya tidak pulang.


Gadis itu pasti menyibukkan dirinya di rumah membuatkan sarapan sekaligus makan siang karena dia sangat mengetahui ayahnya. Ketika sibuk, ayahnya kerap melewatkan jam makan.


"Dasar anak nakal, jangan kau ulangi kebiasaan buruk mu itu."


"Baiklah, aku akan mematuhi perintah dady yang tadi. Tapi, setelah dady menikah lagi, " jawab Arabella.


"Sudah 11 tahun mom pergi, sekarang saatnya daddy membuka lembaran baru. Albern masih membutuhkan sosok ibu, begitu juga aku. " Lanjut gadis itu menatap sembarang arah.


Richard meraih tangan Arabella, menatap putrinya mengiba. " Sebaiknya kau habiskan makan siangmu. Bukalah mulutmu, aaa." Arabella tersenyum lalu membuka mulutnya, membiarkan ayahnya menyuapinya hingga makanannya habis.


"Omong-omong, apakah anak buah dady belum kembali? " tanya Arabella.


Richard tersenyum lagi. "Anak buah dady banyak sayang, yang kau maksud siapa? " alis tebal Richard menyatu. Sedikit menukik.


"Hmm.. Ya semua dady." Jawab Arabella gugup. Sebenarnya tujuannya hanya satu, pria dewasa yang mengusik ketenangannya akhir-akhir ini. Sejak semalam ia menunggu kabar pria matang itu.


"Semua?? " Arabella mengangguk pasti. "Bukan pria yang pantas kau sebut paman itu? "


Arabella membesarkan matanya tanpa mengedip. Astaga.... Bagaimana bisa dady tau ...


"Kenapa kau diam sayang? jawab pertanyaan dady, apakah yang kau tanyakan itu adalah Aldric?? " kali ini pertanyaannya diperjelas, sehingga membuat putrinya semakin gugup.


"Um, itu... " Arabella menggigit bibir bawahnya, seraya meremas pakaiannya, lalu gadis itu tersenyum malu tidak bisa melanjutkan jawabannya atas pertanyaan sang ayah.


Richard terkekeh pelan. "Putri dad, sedang jatuh cinta rupanya." Richard membuang napasnya. Ternyata putrinya itu memiliki kesamaan dengan mendiang istrinya. Menyukai pria tua. Ia mengingat lagi pertemuan pertama dengan sang istri, waktu itu Lorenza berusia 19 tahun sedangkan dia berusia 36 tahun. Sejarah terulang lagi rupanya.


"Kenapa kau bisa menyukainya? usia kalian terpaut sangat jauh, sayang. "


"Dia sangat baik dad, dan... "


Krieeet... Suara pintu ruangan markas terbuka lebar berhasil memberhentikan kalimat Arabella.


"Selamat siang komandan. " Abigail masuk lebih dulu di ikuti rekannya, membuat ayah, dan anak itu melihat kedatangan mereka.


Arabella masih terpaku menatap pintu yang terbuka, menunggu kedatangan Aldric. Dimana keberadaan paman? apa dia tidak datang?


Tidak lama kemudian pria yang ditunggunya masuk dengan sedikit tertunduk. "Siang komandan, " hormat Aldric yang langsung dibalas atasannya.


Tidak ada senyuman menawan dari pria itu. Air wajah Aldric telihat sedih.


Arabella mengalihkan tatapannya. Jantungnya mendadak bertalu-talu dengan keras. "Dad sebaiknya aku pulang sekarang, " Arabella terburu-buru membereskan kotak makan yang dibawanya tadi.


"Baiklah, kau berhati-hatilah nak."


Aldric menatap Arabella sebentar, lalu kembali menunduk. Pria itu masih berdiri di dekat pintu.


"Baiklah, kau berhati-hatilah nak."


Arabella mengangguk. "Baik komandan, " patuhnya memberi hormat.


Lalu, gadis itu menyematkan tali diatas bahunya, dengan satu tangannya mengepal tali lunch box kemudian. Lalu, gadis itu menarik langkah menuju pintu.


Aldric membuka pintu kembali, ia memberi jalan untuk Arabella. Tepat di dekat pintu, keduanya saling menatap sebentar sebelum Arabella tertunduk, memutuskan tatapan mereka, dan meninggalkan ruangan.


"Bagaimana keadaan pemuda itu?" tanya Richard setelah Aldric duduk.


"Kami sudah membawanya ke rumah sakit, komandan. Saat ini pemuda itu sedang dalam pemeriksaan." Jawab Abigail.


"Lalu, bagaimana dengan jasad ayahnya?"


"Sudah berada di rumah duka, sore nanti akan dikebumikan." Jelas Abigail lagi mewakili Aldric. Pria itu masih sangat terpukul.


Helaan napas Richard pun terdengar. "Aku sudah menyewa tempat tinggal untuk Cloud, dan nanti aku meminta Romi dan Samuel menjaganya."


"Barang bukti sudah kalian aman kan? "


"Sudah, komandan."


"Kerja yang bagus, setelah ini kau cari tahu lagi sosok lain pendiri kartel. " Kali ini Richard memberi perintah kepada Abigail.


"Baik komandan!"


"Ah ya.... Ada berita penting yang harus kalian ketahui." Richard berhenti sebentar lalu melanjutkan ucapannya. "Chalk sudah tiada."


Sontak pernyataan Richard membuat anak bawahnya terkejut. Kemudian Richard menceritakan prihal kematian pria itu.


"Selanjutnya apa yang harus kita lakukan, komandan? "


"Aku akan memikirkan langkah kita selanjutnya. "


.


.


.


Intip senyuman Aldric yuk, yang menurut Arabella sangat menawan 🤭 Coba lihat, menawan atau nggak?