
"Lepaskan aku Ayden!!" Alana mengeram. Hidung mancungnya mendengus kasar.
Ayden mengangkat tipis kedua alisnya, senyuman khasnya terpatri di wajahnya yang rupawan. Menganggumi wajah amarah gadis yang memakai dress berwarna biru di depannya. Wajah itu semakin memesona ketika bibir bervolumenya mengetat. Ingin sekali Ayden menggulirkan lagi jemarinya disana. Membelai tekstur lembut dari bibir itu dan mencicipi rasa manisnya.
"Aku tidak akan melepaskanmu," tolak Ayden sedikit memaksa. Mata legamnya itu memandang Alana sangat lekat dengan senyuman tipis nan menawan. Ia menarik napas lanjut berucap dengan suara pelan. "Ikutlah denganku," upaya pria bertato itu. Ia masih memaksa gadis incarannya.
Alana bergeming, percuma dia berusaha mengelak pun pria brengsek yang di depannya akan terus memaksanya.
"Kenapa kau hanya diam Alana?" Ayden maju dua langkah ke depan. "Apa kau ingin aku menggendongmu?" satu matanya mengedip pelan diatas senyuman.
"Jika itu mau mu, dengan senang hati aku akan melalukannya." Lantas Ayden melepaskan genggamannya dan memindahkan tanganya ke belakang punggung Alana.
"Jangan bertindak semaumu Ayden Pastone," Alana menarik dirinya untuk menjauh. "Aku tidak suka dipaksa!" ucapnya lagi dengan lantang.
"Aku hanya meminta kau ikut denganku," gigih Ayden yang tidak kenal lelah sebelum Alana memenuhi keinginannya. "Please, ikutlah denganku Alana." Kali ini Ayden memohon.
Alana menarik napas panjang, dan menghembuskannya pelan. "Baiklah, aku akan ikut denganmu."
Finally, akhirnya Alana memutuskan untuk memenuhi permintaan Ayden meski dalam keterpaksaan. Sungguh keadaan ini sangat terdesak. Meskipun tingkah Ayden sangat sangat menyebalkan, namun pria ini telah membantunya. Mau tidak mau, suka tidak sukanya, Alana harus mengiyakannya.
Ayden menarik dua sudut bibirnya setelah Alana memenuhi keinginannya. Gigi putih bersihnya terlihat, dan ada lesung yang muncul di sisi wajahnya. Disitulah letak pesona pria itu.
Sekilas, Alana terpaku memandang senyuman yang menghias bibir pria itu. Sekarang ia begitu mengerti kenapa dua sahabatnya menggilai sosok Ayden. Ya, Alana mengakui, pria itu tampan dengan garis wajah yang tegas, mempunyai sepasang mata tajam, alis tebal menukik, hidungnya mancung, bibir bawahnya sedikit tebal dari bibir atasnya dan tubuhnya.... Stop!! Astaga Alana kenapa kau jadi memujinya.
Alana berdeham untuk mengalihkan penilaiannya tentang Ayden. "Kau ingin mengajakku kemana?" tanya Alana ragu.
Alana sedikit tau tentang sosok Ayden dari Paula baru-baru ini. Paula pernah mengatakan, jika Ayden sering menghabiskan waktu di sebuah Club. Apa dia akan berencana mengajaknya kesana?? Alana menepuk dahinya, dan mengerutuki dirinya karena sudah mengiyakan ajakkan Ayden sebelum mengetahui kemana mereka akan pergi.
"Ke sesuatu tempat," Ayden membalas pertanyaan Alana begitu saja, tidak menerangkan kemana ia akan mengajak gadis itu pergi.
"Ke Club??" tanya Alana to the point.
"Tidak ada Club yang buka siang hari, Nona Alana." Jawab Ayden terkekeh. Jelas sekali pertanyaan Alana, membuat Ayden mengerti jika wanita idamannya tidak pernah datang ke tempat seperti itu. Ayden semakin dibuat terpesona, Alana memang gadis yang elegant.
Alana benafas lega setelah mendegar ucapan Ayden. "Baiklah, aku ingin mengambil tasku di dalam kelas." Alana melangkah terlebih dahulu. Ayden dengan segera menahan Alana, memegang pergelangan gadis itu
"Ada apa lagi sih?" bentak Alana, menghentakkan tangannya agar genggaman tangan Ayden terlepas.
"Tasmu berada disini, Alana." Ayden meraih tas bermerk milik Alana yang terletak diatas kursi taman dan memberikan benda itu ke pemiliknya.
"Bagaimana bisa tasku barada disini?" tanya Alana seraya merampas tasnya dari tangan Ayden. Pergerakannya tidak ada manis-manisnya.
"Paula dan satu lagi sahabatmu yang mengantarkannya."
"Lalu kemana mereka sekarang?" Alana merotasi pandangannya utuk mencari kedua sahabatnya itu, barangkali mereka masih berada tidak jauh dari posisinya.
"Aku mengusirnya, " jawab Ayden enteng, tidak merasa berdosa telah mengusir dua gadis yang menjadi sahabat pujaan hatinya.
Kembali Alana memusatkan perhatiannya ke arah Ayden. "Kau mengusirnya??"
Ayden mengangguk cepat dan tersenyum. Benar-benar pria ini, dia tidak merasa berdosa sama sekali.
"Kenapa kau tidak memberitahuku?" tanya Alana lagi.
"Bagaimana cara aku memberitahumu? kau sedang menangis sambil menikmati dekapanku dan menikmati feromon yang menguar dari tubuhku."
Ayden pun tergelak, karena ia sukses menggoda Alana hingga muncul rona merah di pipinya.
"Tertawalah sesuka hatimu Ayden, semoga saja ada serangga yang masuk ke dalam mulutmu yang sok manis itu."
Sontak Ayden memberhentikan tawanya. "Serangga?" dan kembali ia tertawa.
Dengan kepala sedikit terangkat, Alana mengepalkan kedua tangannya kemudian, lalu ia membalikkan tubuhnya dan berjalan.
Menyadari Alana yang sudah meninggalkannya, Ayden pun mengikuti gadis itu "Hei Alana, tunggu aku." Alana tidak mengindahkan permintaan pria pemaksa yang berada di belakangnya. Justru, Alana semakin melebar langkahnya, dan berjalan cepat.
Cepat sekali ia berjalan. Ayden semakin memacu langkahnya sehingga posisinya sejajar dengan Alana. Ayden sempat menatap Alana dari samping.
Sebenarnya apa yang terjadi denganmu Alana.
Gumam Ayden dalam hatinya, ia masih penasaran penyebab Alana menangis. Ayden berusaha menahan diri lagi untuk tidak bertanya. Lalu soal pemaksaan yang ia lakukan, Ayden tidak mengambil kesempatan untuk pendekatan. Ia mengajak Alana agar gadis itu berhenti untuk bersedih. Meski harus dengan cara memaksa dan ia harus mendapatkan bentakan dari Alana, setidaknya gadis itu bisa mengalihkan kesedihannya.
Alana menciptakan jarak saat ia merasakan kulitnya menggesek lengan Ayden. "Kenapa kau menjauh?" tanya Ayden. "Kita seperti bermusuhan."
"Memangnya sejak kapan kita menjadi teman, hah!!" jawab Alana ketus.
"Kalau begitu, mari kita menjadi teman."
"Tidak sudi!!"
Ayden mengulum bibirnya."Kemarilah," Ayden menarik tangan Alana sesuka hati, sehingga Alana kembali dekat dengannya.
"Kau selalu saja bertindak semaumu." gerutu Alana.
"Aku melakukannya hanya dengan orang tertentu."
Alana melirik Ayden, jengah. Baiknya ia tutup mulut dan tidak menanggapi ucapan Ayden, agar tensinya tetap normal.
Sampailah mereka di lahan parkiran, dan berdiri di depan sebuah mobil Lamborghini Aventador S berwarna putih. Alana sempat terpukau, dengan kendaraan roda empat milik Ayden. Ini keluaran Lamborghini terbaru dan belum dipasarkan secara besar-besaran.
"Naiklah Alana..." perintah Ayden setelah membuka pintu mobil miliknya. Alana tersentak, dan nampak ragu.
"Ayo Alana, aku sudah sangat lapar."
Oh...Pria ini akan mengajak makan siang, syukurlah. Alana mengangguk, kemudian ia masuk ke dalam mobil yang didisain khusus untuk dua orang. Alana pun duduk, disusul Ayden yang menutup pintu mobilnya.
Ayden berlari kecil mengitari mobil untuk duduk di kursi pengemudi.
"Apa ada yang ingin kau makan Alana?" tanya Ayden seraya memasang sabuk pengaman di depan tubuhnya.
"Tidak ada."
"Di kawasan W Ritner, terdapat cafe Indonesia yang baru dibuka. Bagaimana jika kita makan siang disana."
"Whatever." Alana begitu saja mengikuti kemauan pria itu. Setidaknya, setelah makan siang selesai, ia bisa pulang ke rumahnya.
Pertanyaannya, apakah setelah makan siang Ayden akan mengantar gadis itu?? sepertinya itu hanya harapan Alana 😏