
Masih adakah yang menungguku?? yang masih menunggu, aku kiss 💋 jauh .. 🤣 Jangan lupa tinggalkan like n komentar positif kalian ya guys...
...----------------...
Chalk keluar dari mobilnya tepat di depan perusahaan miliknya. Kedua kaki jenjangnya menaiki anak tangga, hingga tangga teratas kedatangannya di sambut seorang pria yang sejak tadi menunggu kedatangannya. "Selamat pagi Tuan Chalk!" Roland sedikit membungkukan tubuhnya menyapa, dan mengambil alih tas yang berada di genggaman atasannya.
"Pagi Roland." Chalk melangkah terlebih dahulu, disusul Roland yang berada tepat di belakangnya. Para pegawai yang masih berada di loby tak luput memberi hormat kepada pria blasteran Mexico itu. Chalk tersenyum, menyapa kembali para karyawan dengan ramah. Pria yang memiliki usaha di berbagai bidang itu, terkenal dengan keramahannya, dan memperlakukan para karyawannya dengan sangat baik.
Ting...
"Apa schedule ku hari ini, Roland?" Chalk menaiki lift khusus begitu pintu lift terbuka.
"Pukul 10 nanti, anda ada pertemuan dengan Tuan Harry." ucap Roland seraya menekan tombol angka 10, lift pun tertutup.
"Hanya itu saja?" tanya Chalk untuk memastikan lagi.
"Iya Tuan."
"Lalu, kau sudah mencari tau tentang putra Justin?"
Tanyanya kemudian. Chalk memerintahkan Roland untuk mencari tau tentang Cloud. Putranya, tidak berhasil membawa Cloud untuk datang ke mansionnya.
"Sudah Tuan, saya sudah mendapatkan informasi pemuda itu."
Mendengar jawaban Roland, Chalk tersenyum puas. "Informasi apa yang kau dapat?" tanyanya lagi.
"Dia bekerja di salah satu restoran Italy, Tuan. Dan pemuda itu juga memiliki hutang dengan pemilik restoran tersebut."
"Minggu depan reservasi restoran tempatnya bekerja, dan jangan lupa lunasi semua hutangnya." Roland mengangguk, mengerti.
Ting.... Kembali lift terbuka, Chalk dan Roland pun melangkah untuk keluar.
"Elena," sapa Chalk dengan senyuman di wajahnya.
Wanita yang bernama Elena berdiri di belakang mejanya. "Pagi Sir."
"Pagi Elena, tolong buatkan dua kopi untuk kami dan antar ke ruanganku."
"Baik Sir," patuh wanita yang mengabdi untuk bekerja di perusaahan Chalk selama 20 tahun, lamanya.
Roland melanjutkan langkahnya terlebih dahulu, dan membuka pintu untuk atasannya.
Chalk bergegas masuk, dan mendekati meja kerjanya yang masih di ikuti Roland. "Ambilkan berkas yang sudah dikerjakan Elena, Roland. Aku ingin memeriksanya."
"Baik Tuan. " Roland meletakkan tas milik Chalk di atas sofa. Lalu, Roland pun keluar dan mengambil berkas yang sudah di siapkan diatas meja Elena.
Sembari menunggu asistennya, Chalk berdiri di dekat jendela seraya memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, pandangannya lurus menatap gedung-gedung yang bertingkat.
Mendengar pintu ruangannya tertutup, Chalk membalikkan tubuhnya.
Roland dengan cepat menaruh berkas-berkas penting tersebut diatas meja.
"Oh ya, aku hampir saja lupa. Bagaimana dengan tugas yang aku minta semalam, kau sudah mendapatkannya?"
Yang dimaksud Chalk adalah unit apartement mewah untuk Amora, kekasihnya. Chalk melakukan transaksi pembelian melewati rekening Roland untuk menutupi perselingkuhannya dari Mariana. Meski cinta tidak ada sedikit pun untuk Mariana, Chalk tidak akan pernah melepaskan ibu dari putranya. Perjodohan yang terjadi antara dirinya dan Mariana, karena mendiang Joseph ayah Mariana, yang membuat usahanya berkembang pesat.
"Anda tidak perlu khawatir, Tuan. Saya sudah mendapatkan apartemen mewah sesuai keinginan anda, dan juga satu kendaraan untuk Nona Amora."
"Ingatlah jangan sampai Mariana mengetahuinya, jika sampai itu terjadi kau adalah orang pertama yang aku akan curigai." Ancam Chalk, sorot matanya menajam serta seringai muncul di garis bibirnya.
Flashback on :
Setelah menghabiskan malam bersama dengan suaminya. Mariana keluar dari kamar, memeriksa keberadaan Petter. Mariana masuk ke dalam kamar putranya, namun ia tidak menemukan Petter disana.
"Astaga, sudah pukul satu, anak itu belum pulang juga."
Mariana kembali menghubungi Petter, namun lagi-lagi panggilannya diabaikan putranya itu.
"Kau belum tidur Mariana?"
"Roland!" Mariana terkejut, dengan kehadiran Roland di dekatnya .
"A-aku tidak bisa tidur, karena aku mengkhawatirkan putraku." jawab Mariana terbata-bata.
"Kau tidak perlu khawatir," Roland mengambil tangan Mariana, menggenggam dan mengusap punggung wanita yang ia cintai dalam hatinya. "Putramu berada di bar yang tidak jauh dari sini."
"Ah Syukurlah," Mariana bisa bernapas lega, perlahan ia menarik tangannya hingga genggaman Roland pun terlepas.
"Bagaimana kabarmu Mariana?" tanya Roland kemudian, tatapan pria itu mengiba memandang Mariana. Bagaimana tidak, Roland mengetahui perbuatan beejat Chalk di belakang Mariana dan ia mengerutuki dirinya tidak bisa berbuat apa-apa.
"Aku baik-baik saja Roland," jawab Mariana cepat. Ibu anak satu itu mengetahui perasaan Roland untuknya, dia harus menghindar.
"Aku harus kembali ke kamar ku, selamat malam. " Mariana melangkah perlahan, dan melewati pria itu.
"Aku sangat merindukanmu, Mariana." Langkah Mariana berhenti sejenak setelah mendengarkan kalimat yang keluar dari Roland. Wanita itu membuang nafasnya dengan kasar, mengabaikan, lalu ia kembali melangkah untuk keluar dari kamar putranya.
Chalk yang berdiri di dekat pintu sejak tadi, pun bersembunyi di balik lorong yang persis di sebelah kamar putranya. Pria itu menarik satu sudut bibirnya "Ini sangat menarik."
Flashback off.
Chalk sesedikit memiringkan tubuhnya. "Ingatlah satu hal Roland, jangan pernah mencoba mencari kesempatan. Aku mengetahui jika kau masih menaruh hati kepada istriku!"
Glek, Roland menelan ludah dengan keras. Ucapan Chalk seperti belatih yang menusuk jantungnya. Roland pun tercengang, perasaannya kepada Mariana yang masih tersimpan selama belasan tahun itu diketahui Chalk.
Hingga kekehan Chalk menggema, menyadarkan Roland sepenuhnya.
"Kenapa kau diam, Roland? Kau terkejut?"
Roland memfokuskan untuk menatap atasannya dalam diam. Ia tidak bisa menjawab atau mengelak.
Chalk menarik langkah, dan berdiri di hadapan Roland seraya mengulurkan tangannya, mencengkram kuat kerah kemeja pria itu. "Jika, kau sampai membocorkan perselingkuhanku kepada Mariana. Ibumu yang sedang sekarat, akan ku habisi dan aku pastikan kau akan hidup menderita seperti di neraka!"
Ceklek, pintu ruangannya terbuka. "Maaf sir, aku tidak mengetuk pintu terlebih dahulu."
Tepat pintu ruangannya terbuka, Chalk melepaskan cengkramamnya, dan mengusap bahu Roland. "Kerja yang sangat bagus, Roland. Aku akan menaikkan gajimu."
Chalk sedikit memiringkan tubuhnya, "Tidak apa Elena, letakkan kedua cangkir itu di atas meja."
Sesuai perintah Chalk, Elena meletakkan dua cangkir keramik berisi kopi di atas meja. "Sir, diluar ada yang mencari anda, dan pria itu berkata sudah membuat janji dengan anda.
Chalk memerintahkan Elena untuk mengizinkan sesorang itu. "Suruh dia masuk."
Elena mengiyakan ucapan Chalk, sebelum ia keluar dari ruangan yang di dominasi warna abu. "Keluarlah Roland, dan kuburlah mimpimu untuk mendapatkan hati istriku," tutur Chalk, seraya menepuk bahu kiri Roland.
"Masuklah, Ace!!"