Reckless

Reckless
LILY PUTIH



Dengan langkah pelan Petter membawa kakinya menuruni tiap anak tangga. Ia memberhentikan langkahnya di lima anak tangga terakhir. Pandangan nanarnya menyeluruh, melihat ruangan tempat tinggalnya terdapat berbagai karangan bunga, dan ada beberapa pelayan di sana.


Tadi malam jenazah Chalk, dan Mariana di kembalikan setelah menjalani proses autopsi.


Petter menghela napas memberat, kemudian ia melanjutkan langkahnya. "Tuan muda, jas anda." Ucap Shane, pria yang di tugaskan Mariana sebelum pergi ke New Zealand untuk melayani kebutuhan putranya.


Shane berdiri di bawah anak tangga memberikan jas berwarna hitam senada dengan kemeja yang di pakai Petter. "Simpanlah, aku tidak ingin memakainya. "


"Baik tuan muda," patuh Shane melipat lagi jas di lengan kokohnya.


"Apakah Louis sudah kembali? " tanya Petter melanjutkan langkahnya.


Louis, anggota kartel yang menyamar menjadi kepala pelayan di mansion. Pria itu sempat meminta izin untuk menemui keluarganya. Faktanya pria menemani Ace atas perintah Alston.


"Belum tuan, " jawab Shane mengikuti Petter dari belakang.


Sebenarnya Kemana perginya kepala pelayan itu?bahkan nomer ponselnya tidak bisa dihubungi. Ada yang tidak beres. Gumam Petter.


Petter memberhentikan lagi pergerakan kakinya. Ia tertegun melihat dua peti putih dengan ukiran berwarna gold saling berdampingan, membelakangi dinding berlatar aksen kayu yang sudah dihias dengan berbagai bunga, dan banyaknya lilin. Di kedua sisi peti terdapat bingkai, yang terdapat foto kedua orangtuanya di masing-masing bingkai.


Ia mendekati kedua orangtuanya, sepintas ia melihat jenazah ayahnya yang memakai stelan jas berwarna hitam. Tidak ada rasa sedih sedikit di hatinya, hanya rasa kekecewaan yang mendalam dirasanya terhadap pria itu. Menurut penjelasan dari kepolisian, dari bukti yang ditemukan, ibunya meracuni ayahnya karena perselingkuhan ayahnya dengan mantan pelayan mereka, Amora.


Lalu bagaimana dengan bukti yang lain??


Aisley polisi keeparat itu menghapus sisa bukti setelah ia mendapatkan dari pihak kepolisian di New Zealand. Ia hanya menyisakan bukti perselingkuhan Chalk dengan Amora.


Petter beralih ke satu peti yang di tempati ibunya. Ia mendekat, lalu dipegangnya tepian peti dengan membungkukkan punggungnya.


Shane menarik kursi untuk Petter yang langsung di duduki pria itu. Shane memundurkan langkah, dan berdiri tidak jauh dibelakang tuannya.


Petter membuka kain tile yang menutup peti ibunya. Ia mengulur, dan meraih tangan ibunya yang menggunakan sarung tangan putih. Digenggam, lalu di arahkan ke bibirnya. Petter mengecup berkali-kali punggung tangan ibunya.


"Mom... I'm sorry. " Hanya itu yang bisa mewakili rasa penyesalannya, karena ia tidak berada disisi ibunya, memberi dukungan. Petter menekuk satu tangannya lagi, dan merebahkan kepalanya di tepian peti dengan menggunakan tangannya menjadi bantalan. Petter masih menggenggam tangan ibunya.


Tidak lama kemudian, Shane datang mendekatinya. "Tuan muda, tuan Alston ingin berbicara dengan anda. "


🍂🍂🍂


Diluar sana, Roland menelusuri setapak demi setapak sambil memeluk sebuket bunga lily putih ditangannya. Bunga yang disukai Mariana.


Tidak ada seorang di dalam sana yang mengerti perasaannya kini. Hatinya begitu hancur melihat kenyataan yang ada di depannya, bahwa seseorang yang ia cintai sudah tiada.


Langkah kakinya berlanjut, Roland menuju keberadaan Mariana di iringi ingatannya bersama wanita itu.


Begitu tiba, Ia meletakkan buket di atas meja. Sejenak ia memberi penghormatan terakhir untuk atasannya. Kini manik legamnya yang nanar memandang Mariana.


"Hai Mariana, " sapa Roland pelan yang tidak mendapatkan jawaban dari suara merdu milik Mariana. Sungguh ini sangat menyiksa.


"Aku membawakan bunga lily putih untukmu. Maaf aku letakkan di atas meja, tidak memberikan langsung ke tangan mu." Roland memaksa tersenyum. "Kau terlihat sangat cantik menggunakan gaun itu Mariana. Aku berkata jujur, kau harus percaya kepadaku."


Roland menelan salivanya, ia masih berusaha kuat menahan air matanya agar tidak menetes. Lalu ia menghembuskan napasnya yang tercekat. "Aku ingin meminta maaf kepadamu Mariana, karena pernah melukai hatimu. "


Pria itu meminta maaf karena merasa bersalah menutupi perbuatan Chalk kepada Mariana. Ia melakukannya semata-mata tidak ingin membuat Mariana terluka, namun siapa sangka ternyata Mariana mengetahui perselingkuhan Chalk, bahkan wanita itu mengetahui jika Chalk pernah melakukan peleecehan dan dari pelecehan tersebut Chalk memiliki seorang putri


Roland tertunduk, air matanya yang ditahan sejak tadi pun terjatuh. Kembali Roland memaksa diri untuk menatap Mariana. Lalu berjalan sedikit, ke sisi peti. Ia mengeluarkan gelang dari saku jasnya. Gelang yang pernah ia berikan kepada Mariana, namun Mariana pernah mengembalikannya pada saat Mariana mengakhiri hubungan mereka.


Aku kembalikan gelang milikmu, Mariana. Roland dengan segera memasang gelang yang disimpan bertahun-tahun lamanya ke pergelangan tangan Mariana.


Lagi, air matanya menetes jatuh tepat di punggung tangan Mariana. Roland menggenggam tangan Mariana seraya menatap lekat wajah pemilik hatinya. Sungguh, ia merindukan tatapan dari manik hijau yang sudah tertutup. Ya Tuhan... lirihnya.


Roland menyeka airnya matanya kemudian. Aku sangat mencintaimu Mari.... Berbahagialah kau di sana. Semoga di kehidupan berikutnya kita bisa bertemu lagi.


.


.


.


.


Mewek bareng yuk 🤧🤧


Sambil mewek, tinggalkan like, and koment kalian ya. Yang belum Rate.. Monggo rate dulu, kasih bintang 5 plus ulasan tetang novel pertama ku ini... Kritik saran yang membangun di terima.. Terimakasih 😘😘😘