Reckless

Reckless
SALAH PAHAM



Waktu berlalu dengan cepat. Suasana ballroom sudah tidak lagi ramai, hanya beberapa kolega yang masih disana melanjukan obrolan mereka seputar bisnis. Begitupun juga Harry.


"Bagaimana kabar putrimu, Harry?" tanya Mariana setelah Chalk meninggalkan meja untuk menerima panggilan.


"Dia sangat baik, Mari. Akhir-akhir ini dia disibukkan dengan pekerjaannya di butik." balasnya, membuat Mariana tersenyum. Terakhir kali bertemu dengan gadis itu, satu tahun lalu di New York, saat Alana mengikuti lomba fashion disana.


"Putrimu begitu hebat Harry, dan juga mandiri." Sanjung Mariana.


"Yah.. Semakin dewasa, dia semakin mirip dengan Lilly. Wajahnya, dan bahkan sikapnya. Kerap aku merindukannya yang bertingkah manja." Jujur Harry. Menjadi orang tua tunggal tidak mudah untuknya. Selama ini, Harry berjuang membangun pribadi Alana. Kepergian Lillyan, membuat putrinya terguncang, dan meninggalkan trauma.


Saat Alana berusia 15 tahun, Lillyan mengalami kecelakaan ketika hendak menyebrangi jalan untuk menjemput Alana di sekolah, dan Alana menyaksikan langsung apa yang dialami Ibunya. Hal itulah yang membuat Alana trauma, dan harus menjalani terapi untuk menghilangkan traumanya. Harry mengesampingkan pekerjaannya, untuk kesembuhan putrinya.


"Semua berproses Harry. Terlebih, selama delapan tahun putrimu tumbuh tanpa seorang ibu. Kau bersyukurlah, putri mu tidak ambil jalan yang salah. Saranku, sebaiknya kurangi kesibukanmu, sebelum putrimu mempunyai pasangan."


"Aku terima saranmu, Mari. Thank you."


"You're welcome," jawab Mariana, dan melihat Chalk tengah berbincang dengan mr. Jonas. "Suamiku, sudah kembali." Ucap Mariana seraya berdiri.


"Kau ingin kemana sweety?" tanya Chalk sudah bergabung dan duduk di kursinya.


"Aku ingin ke toilet. " Chalk mengangguk, memberi persetujuan.


Di dalam toilet pria, Cloud memasuki salah satu bilik. Ia melepaskan sepatu dan mengeluarkan bukusan Charlie. Ditatap serbuk putih yang pernah masuk ke dalam tubuhnya, sebelum membuangnya ke dalam lubang saluran.


Cloud membereskan pekerjaannya, ia berhasil mengagalkan misi pertama dari Chalk. Ia menyembunyikan bungkusan yang sudah kosong, dengan memasukan ke dalam tasnya. Cloud keluar dan ia melihat Mariana.


"Nyonya Mariana.... "


Mendengar namanya di panggil, Mariana membalik dan melihat Cloud. Ia berusaha keras mengingat. "Kau Cloud, teman kampus putraku?" tebaknya tidak melesat.


"Iya Nyonya, anda benar. " Cloud tersenyum, membalas senyum wanita yang menolongnya untuk mendapatkan beasiswa.


"Oh ya Tuhan, bagaimana kabarmu nak?" Mariana kembali bertanya. Tuturnya lembut, dan sikapnya begitu hangat.


"Aku baik nyonya, " balas Cloud.


"Kenapa kau bisa berada di sini?" Mariana menatap Cloud dengan heran.


"Aku sedang bekerja Nyonya."


Penjelasan Cloud, membungkam Mariana. Yang ia ketahui dari putranya, Cloud berkerja di sebuah restoran Italy. Apa Cloud pindah bekerja, atau dia melakukan pekerjaan tambahan. Mariana menerka-nerka.


"Nyonya, bisa minta waktu anda sebentar. Ada hal yang ingin aku informasikan."


Mariana menukik alisnya. "Informasi apa? apa ini tentang putraku?"


Cloud menggeleng. "Bukan Nyonya, ini tentang Tuan Chalk."


🍂🍂🍂


Hana masih duduk manis di sebuah cafe, menemani Clara. Sejujurnya, ia tidak menyukai pergi ke keramaian, seperti pesta ataupun club. Keberadaannya di sini semata-mata karena ingin menemai Clara. Mereka pergi hanya berdua, tidak ada Lvy, karena sahabatnya yang satu lagi sedang bersama mr. Aron. Dosen itu sedang berkunjung ke rumah sahabatnya itu.


"Hana, ayo kita turun untuk bergabung kesana." Ajak Clara seraya menunjuk sekumpulan orang yang sedang berjoget ria.


Clara berdecak pelan. "Kau tidak seru. Oke, aku turun sendiri." Clara pun beranjak meninggalkan Hana.


Hana mengeluarkan ponselnya, ia memeriksa pesan yang yang dikirimnya untuk Cloud tadi. "Masih pending," gumam Hana. Ia memeriksa satu pesan baru masuk, dari Ayden yang menanyakan keberadaannya. Hana membalas pesan kakaknya tersebut.


"Kau sendirian, nona?" seorang pria tampan berambut pirang, duduk di samping Hana dan meletakkan gelas yang dibawanya ke atas meja.


Hana sedikit memutar tubuhnya, dan menatap ketidaksukaan pada pria itu. Mengganggu saja, ck. Hana kembali memfokuskan pada layar ponselnya, tidak menghiraukan sosok pria yang mengajaknya berbicara tadi.


Pria itu terkekeh menatap wajah cantik Hana dari samping. "Sikapmu yang acuh membuatku tertarik, nona. Berkanalanlah dengan ku, aku Jashon. Kau bisa memanggilku J." Ucapnya, seraya mengulurkan tangannya. Lagi-lagi ia dapat penolakan. Hana tidak membalas uluran tangannya.


Dasar sintiing. Kemana perginya Clara?


Hana mengirim pesan kepada sahabatnya itu, namun pesannya tidak terbaca. Harusnyanya aku ikut bersamanya turun, atau mengajaknya pulang. Hana mengedarkan pandangannya, mencari Clara.


"Kau tidak mau berkenalan denganku, nona?" tanya Jashon lagi yang tidak gentar.


"Baiklah semoga kau tidak menyesalinya," bisiknya seraya mencampurkan minuman Hana dengan obat Flibanserin.


Oh astaga..... Sebaiknya aku pergi dari sini. Hana menghabiskan minumannya tanpa rasa curiga, lalu ia pun berdiri dan memakai tasnya.


Jashon, pemilik nama asli Arthur Jashon tersenyum smirk. Keberhasilannya untuk menghancurkan mantan sahabatnya sudah di depan matanya. Arthur mengetahui jika Ayden begitu menyanyangi adiknya. Ia berniat ingin meleecehkan Hana.


Hana pun melangkah turun, ia berencana keluar, dan menunggu Clara di dalam mobil. Arthur mengikuti langkah Hana. Sesampainya di lahan parkir, Hana masuk ke dalam mobil. Ia menyalakan mesin, dan juga pendingin.


15 menit berlalu.


"Kenapa mendadak disini panas," keluh Hana seraya melepas bollero yang melekat menutupi tubuh bagian atasnya, namun rasa panas disekejur tubuhnya tidak menghilang. Hingga, Hana memutuskan memilih keluar dari mobilnya, ia mulai merasakan darahnya berdesir menuju inti tubuhnya. "Ada apa dengan tubuhku?"


"Hey, kita berjumpa lagi." Arthur menyanggah tangannya di knop mobil Hana, seraya tersenyum melihat reaksi Hana.


Hana melihat Arthur lalu membuang wajahnya. Pria itu mendekat, sehingga aroma maskulin pria itu terhidu, membuat suhu tubuh Hana semakin memanas, dengan wajah Hana semakin memerah.


Arthur semakin tersenyum, reaksi obat yang diminum Hana sudah bekerja. Dengan sengaja Arthur menarik pinggang Hana agar mendekat, lalu. "Aku bisa membantumu untuk meredakannya," bisiknya.


Pandangan Hana berkabut penuh gaaiyrah menatap Arthur. Ia membungkam bibir Arthur dengan tiba-tiba. Mencium pria itu, membabi buta. "Hey, bersabarlah sayang. Ayo kita ke hotel dan menikmati malam kita." Kembali keduanya berciyuman.


"Ha-na.... " Cloud menarik tubuh pria yang tengah mencumbyu kekasihnya.


"Apa yang kau lakukan!!" bentak Hana mendorong tubuh Cloud. "Kau menganggu saja!!"


"Apa yang kau katakan, Hana?" tanya Cloud.


"Menyingkirlah!!"


Hana pun melompat ke arah Arthur. Dengan sigap, Arthur menggedong tubuh Hana. "Sebaiknya kita ke hotel sekarang." Lirih Hana, maniknya terlihat memohon. Kembali mereka bercumbyu dengan mesrah di depan Cloud. Arthur membawa Hana ke dalam mobil miliknya.


Cloud menatap tidak percaya, air wajahnya pias namun penuh amarah. Ia melihat bagaiamana Hana merespon sentuhan dari pria itu, hati Cloud benar-benar terluka.


Ada yang patah bukan ranting 🤣 Apakah cinta Cloud dan Hana akan kandas di tengah jalan???