Reckless

Reckless
AMAN??



Bab ini gitu... Pokoknya gitu.... 🤣


Pukul setengah tujuh pagi, Alana masih menikmati waktu tidurnya. Ia tidak terusik, dengan cahaya matahari yang mengintip dari cela-cela tirai yang menyorotinya. Alana bergumam, seraya membalik kan tubuhnya mengenyamping menghadap jendela.


Selimut yang membungkusnya tadi tersibak hingga tubuhnya yang hanya di tutupi baju tidur dengan model chemise terlihat. Memamerkan bahu indah, dan kaki jenjangnya yang mulus menyilang. Pemandangan yang indah, seksih yang membuat sosok pria didekatnya harus berusaha keras menahan diri agar tidak menyentuh dari lekukan-lekukan indah itu.


Meski ia begitu menikmati pemandangan di depannya, namun Pria itu memaki dirinya, mengapa ia datang, ralat maksudnya ia menyelinap ke kamar Alana dalam waktu yang tidak tepat.


Ayden menghembuskan napasnya dengan gusar. Berberat hati ia menarik pelan, dan menutup kembali tubuh Alana menggunakan selimut sampai batas bahu gadis itu. Kini, ia bisa memfokuskan manik legamnya menatap wajah Alana, tanpa melirik lagi ke arah celah diantara dua keindahan yang dimiliki gadis itu.


Ia pun duduk senyaman mungkin di tepian ranjang, di samping persis tubuh Alana yang masih berbaring mengenyamping. Jemari-jemarinya pun tidak mau diam, ia menyentuh kening Alana dan bergerak membelai rambut bervolume berwarna coklat.


Sejak kapan gadis itu mengubah warna rambutnya? bukankah, kemarin lusa masih berwarna hitam. Lupakan, Ayden tidak memusingkan soal warna rambut pujaan hatinya, untuknya Alana tetap yang tercantik sejajar dengan ibu, dan juga adiknya.


Alana merasakan sentuhan lembut di kepalanya, ia tersenyum samar seraya menikmati. "Aku masih mengantuk, dad!" Alana membuka matanya, sedikit mengintip.


"Ternyata kau, bukan dad." Ucapnya membuat Ayden melebarkan senyumannya. Alana kembali terpejam, dan dalam sekejap ia melebarkan kedua pupil matanya. "Kauu!!" Alana memekik. Segera ia bangun, meraih bantal dan memukul Ayden berkali-kali. " Kenapa kau bisa berada dikamarku, heh! Kau menyelinap lagi??"


Alana mumukul lagi tubuh Ayden yang membungkuk. Pria itu tertawa, ia tidak menangkis, atau melakukan perlawanan.


"Jawab aku hei!!" Alana memberhentikan pukulannya. Dadaanya narik turun, beriringan tarikan napas lalu keluar dengan tidak beraturan.


Tawan Ayden mereda, pun ia dibuat terpesona melihat keseluruhan penampilan Alana. Gadis itu terlihat lebih cantik setelah bangun tidur. Tidak ada polesan dari wajah Alana, apa adanya. Rambutnya yang bervolume dan panjang, tergerai indah. Dan, eghm, tubuh putihnya begitu mulus terlihat jelas. Sial...


"Apa yang kau lihat brengsek!!" Alana mendorong tubuh Ayden sekuat tenaga. BRUGH... Ayden terjatuh.


"Rasakan!!" maki lana.


"Astaga punggung, dan bokongku." Ayden mengeluh pelan, seraya memegang punggungnya.


"Ka- Kau tidak apa-apa?" tanya Alana dengan rasa bersalah. Segera, ia menggapai jubah yang terletak di tempat tidur, dan memakainya kemudian. Lalu, ia pun turun, dan membantu Ayden untuk duduk kembali.


Alana membuka laci meja yang ada di samping tempat tidurnya, ia mengeluarkan salep dari dalam sana. "Berbalik lah, aku akan mengolesi obat luar ini ke punggungmu."


Kena kau...


Menikmati kekhawatiran Alana, Ayden berusaha menahan senyumannya. Ia berbalik, dan meloloskan pakaiannya dengan sekali gerakan. Dalam sekejap, punggung lebar Ayden terpampang jelas.


Alana terpengarah dengan punggung Ayden yang terdapat ukiran, sangat kokoh, macho dan bisepnya..... Eghhhm, Alana berdeham.


"Kenapa kau hanya diam, katanya kau ingin mengobati ku." Sebelah alisnya terangkat, ia menagih. Bahkan kepalanya menoleh.


Ayden membawa tangannya ke punggung, dan menunjuk asal. Sebenarnya tidak ada bagian punggungnya yang sakit, ia hanya ingin bermain-main dengan Alana.


Alana membuka penutup dari tube, dan menekan hingga krim berwana putih keluar di jemarinya. Lalu, Ia mengoleskan tipis-tipis di permukaan kulit punggung Ayden.


Hening terjadi begitu intensitas. Pencahayaan tampak temaram karena tirai berwarna gelap menutupi terangnya langit diluar. Alana masih mengulirkan jemarinya. Sedangkan Ayden, menikmati sentuhan yang menebarkan sensasi di setiap tubuhnya. Tubuhnya merespon, dan ini sangat luar biasa sensasinya. Sudah lama Ayden tidak merasakan sentuhan yang nyaman, namun suskes membuat jantungnya memompa dengan tempo yang sangat-sangat cepat. Heh, ini baru sentuhan kecil di punggung, lalu bagaimana jika jemari lentik itu bergulir di.... Oh shyittt... Ayden lagi-lagi mengerutuki hassratnya yang hadir karena sentuhan Alana.


"Gunakan kembali pakaianmu, Ayden." Alana beranjak. Ia pun terbelalak merasakan tangannya tertarik, dan tubuhnya terhempas jatuh diatas tempat tidurnya. Ayden langsung menyergap, mengurung tubuh Alana, dengan satu pergelangan tangan gadis itu masih berada di dalam genggamanya. Dan satu tanganya bertumpu diatas tempat tidur Alana.


Niatnya tadi hanya ingin bermain dengan menggoda Alana, nyatanya ia sendiri yang terperangkap dalam permainannya.


Alana menelan salivanya susah payah. Ia melihat tubuh kokoh berukir itu berada diatasnya, serta wajah serius Ayden menampilkan manik legam menyorotinya dengan tatapan sayu, menggoda, dan Alana terhipnotis dengan tatapan Ayden yang mempesona.


Masih saling menatap dalam diam, Ayden mau pun Alana, keduanya tidak ingin beranjak. Keduanya merasakan debaran hebat di jantung mereka. Napas mereka memburu, dan saling berlomba untuk menghirup oksigen untuk memenuhi paru-paru mereka.


Ayden memiringkan wajahnya, bibirnya pun bergerak menyentuh telinga Alana. "Kau sangat cantik Alana," bisiknya, dengan hembusan panas dari hidungnya menyerang sisi wajah Alana.


Alana terpejam, ia merasakan janggut pendek Ayden mulai membelai wajahnya, begitu intens. Kemudian, pria itu mengecup pipinya, lalu bibir Ayden berhenti di atas bibir ranumnya. Alana melengguuh, saat linggual Ayden menyapu, dan malahap bibir bawahnya, penuh.


Reflek Alana memeluk punggung Ayden. Membalas, merasai rasa kopi yang tersisa dari bibir pria itu. Manis, dan yaaa rasanya sangat memabukkan.


Ayden melepaskan tautan bibirnya, lalu memulai menjelajah. Di mulai dari dagu runcing Alana, lalu bibirnya turun, dan terhenti saat ia menghidu aroma manis vanila yang berpusat dari curuk leher Alana.


Alana mengerjap, ia sedang berusaha keras untuk bernapas. Dan satu gigitan di curuk lehernya membuat ia semakin kesulitan benapas. Desaahanya tersiar, begitu indah membuat Ayden tersenyum samar disana.


Ayden menaikan kembali wajahnya, menatap Alana dengan kilau mata yang penuh cinta serta gaiyrah. Gadis itu lagi-lagi terkesima. Ia tidak meragu untuk membalas menatap manik legam Ayden.


Napas Alana masih memburu, dan detak jantungnya semakin tidak terkendali. Begitu juga dengan Ayden. Pria itu juga merasakannya.


"Izinkan aku untuk memiliki mu seutuhnya, Alana. "


Hareuudang, hareuudang... Yang aus.. Yang aus... 🤣


Pilih lanjut, apa gantong 🤣🤣


Gantong aja kali yak... Kabyuuuuurrrr.....


(Otor lari, jejingkrakan)