
Masih lanjutan kemarin ya.. Jangan lupa like, dan komentar kalian yang selalu aku tungguuuu.. Maacii. ❤
...****************...
"Bagaimana caranya kau bisa menyelinap masuk ke kamar ku?" tanya Alana seraya membenarkan posisi kepalanya diatas bisep Ayden. Mencari kenyaman di lengan atas berotot itu, lalu telapaknya menepi di atas dadda keras Ayden. Ia pun mendongak, melihat wajah Ayden yang terlihat bercahaya, manik legamnya pun memancarkan kebahagiaan yang sangat luar biasa.
Jelas saja, dia baru saja diterjang ombak hasraat, dan tenggelam ke dasar lautan cinta. Bagaimana ungkapan perasaanya dari setiap pergerakannya, serta sentuhan memabukkan berhasil membuat Alana terikat dengannya.
Perasaannya terbalaskan, dan perjuangan dia belum selesai. Ia harus meminta restu Harry, ayah sang kekasih untuk menjadikan Alana pendamping hidupnya. Sesuai tujuannya, dan Alana belum mengetahui rencanya.
Ayden mengulas senyuman mengingat tingkahnya saat ia menyelinap dari pintu gerbang tadi, bergaya seperti pencuri yang profesional, ia masuk dengan cara mengendap-endap. Untuk ke dua kalinya ia melakukan aksi gilanya dengan sempurna... Ia terniat, dan juga nekat. Demi apa coba? demi melihat sang pujaan.
"Kenapa kau hanya tersenyum?" kedua alisnya terangkat. Matanya yang terbingkai bulu mata lentik, membulat.
Perubahan wajah Alana, membuat sang Ayden Pastone semakin melebarkan senyuman. "Aku masuk melalui gerbang kecil, tanpa ketahuan." Jawabnya. Tangan kanannya yang menjadi bantalan Alana begerak, merengkuh pundak kekasihnya.
"Wow, apakah kau melakukan aksimu memakai jubah tebus pandang?"
Ayden melirik Alana, tersenyum jenaka. "Tentu, aku memakai jubah milik Harry Potter yang ku pinjam semalam."
Penjelasan Ayden sontak membuat Alana tertawa. Ia hanya bergurau, dan Ayden pun menjawab dengan gurauan juga. "Oke lanjutkan, sekarang mode serius. Lalu bagaimana kau bisa lolos Ayden, di gerbang ada dua penjaga."
"Yang ku lihat hanya Julian. Penjaga itu sedang menghubungi kekasihnya, dan aku mengambil kesempatan menyelinap masuk dengan cara mengendap-endap. Sat set sat set, begitu sampai aku mengambil tangga, dan lihatlah kekasihmu yang menawan ini berada di depanmu."
Alana mengulas senyumannya lagi. "Kau benar-benar luar biasa Ayden," ucapnya gemas seraya merangkup pipi Ayden dengan satu tangannya membikin bibir Ayden mengerucut.
Alana manarik tangannya, kembali menepi di tubuh Ayden. Kali ini di pinggang kekasihnya. "Kenapa kau tidak menghubungi ku saja, hmm?"
"Aku menyukai tantangan, Alana. Saat aku berusaha menyelinap kesini yang ku fikirkan hanya bisa bertemu denganmu, dan itu memicu adrenalin ku."
"Tapi-- tindakan nekat itu tidak seberapa dengan apa yang terjadi diantara kita barusan Alana," bisiknya seraya tersenyum lembut. "Hal itu sangat luar biasa... " desaahnya mentransfer atmosfer panas ke tubuh Alana. Wajah gadis itu bersemu merah, karena kembali ia mengingat bagaimana penampakan Ayden yang gagah berada diatasnya tadi. Menggaagahinya dengan tangguh, mencuubunya dengan intens, dan Ayden sukses membuatnya terbang ke nirwarna, lalu membuatnya tergelincir ke dalam lembah kenikmaatan yang baru ia rasakan.
Ayden, yaa pria itu, pria pertama untuknya.
"Hentikan kalimatmu Ayden, aku sangat malu." Alana membenamkan wajahnya di dadaa polos Ayden. Ia mengingat lagi saat jemarinya bergerak nakal meraba tubuh Ayden, dan bahkan ia meminta pria itu menyelesaikan penyatuan mereka dengan kalimat nakal pulak. Siksaan nikmat , Heh! Mendadak Alana kesulitan bernapas.
Alana pun berdeham, dan pelan-pelan ia menghirup kemaskulinan aroma muks dari tubuh kekasihnya. Wangi lembut, manis dan menenangkan.
Tindakan Alana sangat manis, membuat Ayden menarik kedua sudut bibirnya. Diangkatlah dagu Alana, mengarah ke atas agar wajah Alana yang merona bisa dilihatnya. "Kau sangat manis, dan menggemaskan Alana."
"Jangan membuatku meleleh Ayden. Hmm." Alana tersenyum mesem-mesem ga jelas. "Sekarang ceritanya hal nekat apa lagi yang kau lakukan selain menyelinap masuk ke kamarku?" alih Alana agar Ayden tidak melayangkan lagi pujian berunsur gombalan.
"Mengambil foto mu bersama Jonathan Simkhai," jawabnya santai.
Dalam detik itu juga, Alana melongo. Bibir volumenya sedikit terbuka. "Kau yang mengambilnya?" Ayden mengangguk, tidak ada rasa bersalah sama sekali. Dia terlihat sangat santuy.
"Sekarang dimana kau menyimpan foto itu?"
"Di Dompetku," singkatnya datar.
"Kembalikan!!" pinta Alana, menuntut. Ayden melipat bibirnya. Kemudian ia bangun duduk ,memunguti celananya yang terserak di lantai, dan mengeluarkan dompetnya.
Alana mengambil alih dompet milik Ayden, lalu membukanya. "Kau menyobeknya??" tanyanya setelah ia mendapati fotonya hanya separuh.
Ayden cengengesan, ia masih terlihat santuy.
"Aku membuangnya," jujurnya berhasil menciptakan perubahan mimik di wajah Alana. Senyuman gadis itu begitu saja sirna, digantikan dengkusan kasar.
Oke Alana kau harus benar-benar bersabar.
Alana mengerutkan dahinya, dengan kedua alisnya menukik. "Kenapa kau membuangnya?" protes Alana tidak terima. Itu fotonya saat ia mengikuti lomba fashion di New York satu tahun lalu. Kebetulan Jonathan Simkhai, salah satu juri saat ajang tersebut.
"Aku tidak menyukai pria itu." Ayden kembali jujur.
"Atas dasar apa? apa dia pernah membuat kesalahan kepadamu?"
"Tidak, aku hanya tidak menyukai tangannya merangkul pundakmu."
"Oh may God!!" Alana memijat pelipisnya. "Foto itu diambil sebelum kita saling mengenal Ayden."
"Tetap saja, aku tidak menyukainya." Bantah Ayden lagi membuat Alana tertawa sumbang.
"Kau berlebihan," keluh Alana dengan tatapan sinis.
"I'm sorry.. " ucapnya tulus.
Alana tidak mengalihkan pandangannya yang tertuju kepada Ayden. Cemburunya pria itu, dan wajahnya sekarang menggelitik Alana. "Pfhhmmm.... Hahahaha."
"Kau menertawai ku sayang??" Ayden menatap Alana heran. Alana tidak marah, dan berarti tadi di hanya ...
Alih-alih menjawab, Alana semakin mengeraskan tawanya. Ayden si penakluk tidak akan diam begitu saja, ia pun bergerak cepat mengangkat tubuh Alana dan membawa kekasihnya ke atas pangkuannya.
Nah loh 🤭
Tindakan Ayden barusan mengejutkan Alana. "Kau masih ingin menertawakan ku? humm." Ayden semakin menguatkan pegangannya di pinggang Alana.
"Ti--Tidak," jawab Alana. "Sekarang, lepaskan aku!"
"Jika aku tidak mau, bagaimana?" Ayden semakin mengeratkan pinggang Alana, mendorong ke depan, sehingga sedikit jarak di antara mereka.
"Ayden, a--aku..." Alana begitu saja terpejam, kalimatnya teeputus di gantikan desaahan saat ia merasakan isapan kecil di daun telinganya.
"Ada apa sayang??"
"Banyak pasang mata yang menyaksikan kita."
"Siapa? netijen?" Alana mengangguk cepat.
"Biarkan saja sayang.... Aku tidak perduli."
"Ta-- tapi... Hemphh.. " Ayden membungkam bibir Alana lagi. Tangannya pun menggerayangi kaki Alana. Begerak naik ke atas, mengelus pelan pinggul kekasihnya. Jemarinya yang bergerak lihai, kembali membuat Alana menggelora.
"Alana.... " panggilannya di sela-sela ciyumannya.
"Yah... "
"Bisakah kita mengulangi yang tadi? aku masih menginginkan mu."
"Sekareppp muu yankkk. " otor said 🤣