Reckless

Reckless
AKU MERINDUKANMU CLOUD



Dalam keadaan kamar temaram, Cloud menepati dirinya duduk di tepian tempat tidurnya. Punggungnya membungkuk, dengan kedua tangannya menempel di sisi wajahnya. Rasa sedih yang masih tersisa di manik kecoklatan masih terlihat sendu.


Dibuang napasnya yang menyesakkan, Cloud terpejam. Ia mengambil udara untuk meredakan rasa sakit yang masih membekas.


Sangat sulit untuknya menjalani kehidupan selanjutnya. Ia berdiri di antara bayangan kesedihan, dan juga ketakutan, menggiringnya sampai berada di fase tersulit.


Alston dapat melakukan apapun yang bisa membahayakan ibunya. Ayahnya sudah menjadi korban kekejaman pria itu. Bahkan di kehidupannya terdahulu, ayah dari kekasihnya itu yang telah menjebaknya.


Buanglah jauh mimpimu untuk bahagia bersama putriku. Karena mimpi itu tidak akan pernah terjadi Cloud Heaven.


Cloud teringat dengan ucapan Alston, ketika pria itu membuka jati dirinya. Lalu, ia juga mengingat wajah ketakutan Hana dibawah guyuran hujan pada saat itu, yang berakhir dengan sebuah kematian. Cloud menyimpulkan jika pria itu tidak merestui hubungan mereka, maka dari itu dia menjebaknya.


Lantas, apakah kejadian itu akan terulang lagi, dalam keadaan yang berbeda?


Ia berharap, kejadian buruk itu tidak terjadi lagi.


Cloud mengambil ponselnya yang berada disamping, lalu mengaktifkannya benda pipihnya. Ia belum sempat menghubungi ibunya, dan juga...


Ah, mengingat Hana lagi semakin membuat ia tersiksa dengan perasaannya. Terlebih ia melihat layar pada ponselnya yang sudah menyala, Cloud terpaku menatap foto Hana yang tersenyum seolah menatapnya. Ia sangat merindukan, tatapan, senyuman indah dari kekasihnya.


Rasanya Cloud ingin menemui Hana saat ini juga, memeluk gadis itu menuangkan kesedihan serta ketakutannya seraya menatap manik coklat Hana yang pasti bisa membawanya dalam kedamaian. Namun situasi kali ini tidak seperti dulu. Sumber kesedihan, dan ketakutannya, adalah ayah dari Kekasihnya.


Terdengar rentetan bunyi pesan masuk yang belum di bacanya, serta panggilan tidak terjawab mengalihkan lamunannya. Ibunya, dan Hana yang kerap menghubunginya dalam kecemasan.


Cloud mendahului membuka pesan ibunya. Lalu, ia menghela napasnya lagi kemudian ia menekan tanda panggilan.


Jangan memberitahu keberadaan ayah kepada ibumu nak.


Pesan yang sempat diucapkan ayahnya tersiar di benaknya. Cloud ingin berbagi kepada ibunya, menceritakan apa yang terjadi sebenarnya. Namun...


Halo Cloud..


Dalam waktu yang sama Cloud meneteskan air matanya mendengar suara ibunya dari sebrang sana.


"Halo Ibu.."


🍂🍂🍂


Keesokan paginya, Hana melangkah cepat melintasi taman yang di janjikan Cloud untuk bertemu dengannya. Setelah lama terputusnya komunikasi di antara mereka, akhirnya kekasihnya membalas pesannya.


Gadis itu memelankan langkahnya ketika ia melihat Cloud berdiri di tepian sungai. Hana mengedipkan maniknya berulang-ulang, air mata kerinduan pun menulusuri pipinya. Hana memajukan kakinya, dengan mempercepat pergerakan kedua kakinya.


"Cloud, " bisik Hana memeluk tubuh Cloud dari belakang. "Aku sangat merindukanmu. " Bisik Hana lagi seraya mengeratkan pelukannya.


Hana.. Matanya seketika memanas disertai rasa sakit di tenggorokannya karena menahan desakan air mata yang kapan saja bisa tumpah.


"Kau darimana saja, Cloud? mengapa ponselmu tidak bisa dihubungi?" suaranya terdengar bergetar, memberat. "Kau harus tau, aku sangat mengkhawatirkan mu."


Cloud mengeratkan kepalan tangannya, masih menguasai rasa sakit di hatinya menyiksa. Tangannya pun berpindah, ia menyentuh tangan Hana yang masih melingkar di pinggangnya, melepaskan, lalu ia memutar tubuhnya.


Ia menatap Hana yang tertunduk, gadis itu masih menangis. Cloud mengangkat tangannya berniat ingin memeluk kekasihnya, namun...


Aku bisa melakukan apa saja untuk membuat kalian berpisah...


Cloud menurunkan kembali tangannya, mengurungkan niatnya. Hana mengusap air matanya lalu ia mengangkat wajahnya sehingga kedua manik coklatnya bertemu dengan manik coklat pekat milik Cloud. .


"Apa yang telah terjadi, Cloud? darimana kau mendapatkan luka ini? " tanya Hana, cemas.


Cloud mengatupkan bibirnya yang kelu, menatap Hana dengan tatapan sendu.


"Pasti luka ini masih terasa sakit," katanya masih merabaa wajah Cloud. Cloud menjamah tangan Hana, bergerak naik lalu menurunkan tangan Hana dari sisi wajahnya.


Pergerakan Cloud seperti menolak perhatiannya, menimbulkan tanda tanya besar untuknya.


"Hana, " hembusan Cloud terdengar memberat. Rasa sesak semakin gila menyiksa dirinya, tanpa ampun. Meskipun ia sudah memutuskan pilihan untuk meninggalkan Philadelphia, ketahuilah hatinya masih memberat, ia tidak ingin keadaan seperti ini.


Sejujurnya, ia ingin membawa Hana ikut dengannya, mewujudkan janji untuk membahagiakan kekasihnya... Namun rasa ketakutan akan kepergian Hana terus saja membayangi dirinya. Serta ancaman Alston terus terngiang bersamaan amanat mendiang ayahnya memintanya untuk tinggalkan Philadelphia.


Sungguh ini sangat menyiksa....


Hana tak melepaskan pandangannya, menunggu kelanjutan ucapan Cloud. "Sebaiknya kita berpisah, Hana."


Setelah kalimat dari mulut Cloud terdengar, Hana tersentak. "Apa yang kau katakan barusan, hah? berpisah? Kau jangan bergurau tentang perpisahan Cloud, ini tidak lucu." Ucap Hana, cairan bening menggenang banyak di kedua pelupuk matanya.


"Aku tidak sedang bergurau Hana. " Cloud menampilkan wajah seriusnya membuat Hana menggelengkan kepalanya.


"Tidak Cloud... Tidak." Cairan pun mengkristal lalu meluncur dari sudut matanya. "Bukannya kita saling mencintai, Cloud? lantas mengapa kau meminta kita berpisah? "


Cloud kembali terdiam. "Kenapa kau diam, hah!! " Hana mendorong tubuh Cloud selaras air matanya berderai. "Jawab pertanyaanku!! " Hana mencengkram tepian jaket Cloud, meluapkan emosinya. "Apakah kau sedang mempermainkan perasaanku, Cloud? " Hana menatap wajah Cloud yang datar.


Tidak Hana. Jawabnya yang hanya bisa diutarakan di hatinya saja.


"Ya Hana," Cloud menarik satu sudut bibirnya. "Seperti yang kau ucapkan barusan, aku hanya mempermainkan mu."


"Kau berbohong Cloud!!" Hana memukul tubuh Cloud. "Kau berbohong!! " isaknya semakin memecah. Tangannya turun, dari tubuh Cloud. Ia kembali tertunduk.


Cloud masih berusaha menahan diri untuk tidak memeluk Hana. Oh Tuhan...


"Lalu, janjimu saat itu hanya sebuah kepalsuan, hah?" kembali Hana menatap Cloud. Manik coklatnya nanar tersirat kekecewaan disana.


Baru Cloud ingin menjawab pertanyaan Hana, datang seorang gadis mendekati mereka. "Cloud," panggil gadis itu, Cloud mengalihkan tatapannya dari Hana beralih ke arah gadis berambut blonde itu.


"Eliza, " Cloud menarik kedua sudut bibirnya.


Kaki jenjang milik gadis itu melangkah semakin mendekati Cloud. Hana menatap ke arah sosok gadis itu.


"Kau sudah menunggu lama?" tanya Eliza, gadis itu melewati Hana begitu saja.


"Tidak sayang, " jawab Cloud dibuat santai. Maafkan aku Hana.


Hana membulatkan matanya nampak bergetar. Ia tidak percaya ini. Hatinya bagaikan tersayat dengan sadis. Namun, yang ia lihat ini adalah nyata.


"Syukurlah," gadis bernama Eliza mengecup pipi Cloud seraya memeluk tangan kekar Cloud.


"Kau brengseek Cloud!!


Plak....