
Bab Special buat yang jomblo di malam Minggu 🤣🤣 Yang jomblo siapa hayoo, kuy angkat jempolnya.
...****************...
Hana meletakkan sikat gigi yang digunakannya tadi ke atas meja wastafel. Ia memandang dirinya dicermin sebentar, dan merapikan rambutnya yang sedikit berantakan menggunakan jemarinya. Hana menghela napasnya yang memberat sebelum melangkah keluar menyusul Cloud yang sudah keluar terlebih dahulu.
Tiga menit lalu, Cloud meninggalkan Hana di dalam toilet, setelah ia selesai menyikat giginya. Cloud kembali duduk di sofa, dan ia mulai mengompres memar di bibirnya.
"Berikan, biar aku yang mengompres luka mu." ucap Hana.
Cloud menengadah wajahnya, menatap wajah Hana yang berdiri di hadapannya. "Berikan!" Hana membuka suaranya lagi seraya merampas bungkus berisi beberapa balok es dari tangan Cloud.
Cloud pun tersenyum. Ia menepuk tangannya diatas pangkuannya, memberi kode agar Hana duduk. Hana tersipu, menggeleng enggan. "Come on Hana, bukannya kau ingin mengobati ku." Suaranya yang parau, mengusik jantung Hana. Terlebih tatapannya. Oh demi Tuhan... Tatapan Cloud sangat mendamba membuat Hana semakin dilanda rasa gelisah.
"Aku bisa duduk disisimu," Hana mulai bergerak. Cloud dengan cepat menangkap, dan menarik pinggang Hana. Dalam sekejap Hana sudah duduk di atas pangkuannya. "Clouud!!" Hana memekik, kaget. Matanya yang berwarna coklat melebar, sukses menciptakan senyuman di bibir Cloud.
Sesaat Hana menahan napasnya, dan menghembuskan pelan dengan jantungnya bertabuh kencang. Wajah Cloud begitu dekat dengan wajahnya. Hana menggigit bibir bawahnya. Ia pun mulai menggerakan tangannya, menekan pelan memar di bagian bibir bawah Cloud. Sesekali ia meringis melihat ruam yang berwarna keunguan, seakan-akan ia merasakan kesakitan yang dirasakan Cloud.
"Jika terasa sakit katakanlah Cloud." Cloud mengagguk nurut. Hana kembali menekan bibir Cloud perlahan. Wajahnya yang terlihat serius, tidak luput dari tatapan mata coklat milik Cloud.
Menyadari Cloud sedang menatapnya, Hana memberhentikan pergerakannya. "Berkediplah Cloud, jangan membuatku salah tingkah. Harus kau tau, aku sedang berusaha menetralisir jantungku yang sedari tadi jedag-jedug tidak beraturan," protes Hana berhasil mengukir garis melengkung di bibir Cloud.
"Ck, Kenapa kau malah tersenyum? hah," protes Hana lagi. "Lama-lama aku bisa terkena serangan jantung mendadak karena tatapanmu, dan juga senyumanmu." Keluhnya pelan masih di dengar oleh Cloud.
Alis tebal Cloud terangkat, menciptakan kerutan halus dikeningnya. "Itu tidak akan terjadi, Hana." Kekeh Cloud.
Hana melanjutkan aktifitasnya, ia pun berkali-kali meniup di atas permukaan bibir Cloud. "Bibir mu sobek Cloud. Besok, kita ke klinik untuk memeriksa luka mu."
"Tidak perlu Hana, ini hanya luka memar."
"Tapi Cloud... "
"Kau tenanglah, sayang. Hmm." Cloud mengusap wajah Hana. Ibu jarinya pun membelai bibir ramun kekasihnya itu. Bibir yang menjadi pusat atensinya sejak tadi. "Luka ku tidak serius. Ah.. Aku baru ingat ada hal yang ingin aku ceritakan, padamu." Cloud mengambil kembali kantung es dari Hana, lalu meletakkan di atas meja yang berada di samping sofa.
"Kau ingin bercerita apa, Cloud?" tanya Hana penasaran, seraya merapikan bagian bawah badrobe yang sedikit terangkat.
"Saat bekerja tadi aku bertemu dengan---"
"Dengan siapa?" kalimat Cloud yang menggantung semakin membuat Hana bertambah penasaran. "Capat, katakan!" permintaan Hana tidak sabar. Kebiasaan kekasihnya yang kerap menggantungkan kalimat. Seperti si Thorbal.
"Aku bertemu dengan Nick Carter." Cloud fokus memandang Hana, menunggu perubahan ekspresi dari kakasihnya.
Manik Hana membulat, bibirnya pun menganga. "Nick Carter??" Cloud mengiyakan. "Really?" tanya Hana lagi, masih tidak percaya.
"Of Course, apakah aku terlihat sedang berbohong?" tanyanya dengan wajah serius seraya merangkup kedua sisi wajah Hana.
Cloud belum menjawab satupun pertanyaan Hana. Ia hanya bisa tertawa. "Kenapa kau tertawa, bukannya menjawab pertanyaan ku. Katakan apakah dia sangat ramah?"
"Dia sangat ramah."
Hana berdecak kagum. "Lalu, apakah kau meminta foto dan juga tanda tangannya, Cloud?"
Cloud menggeleng. "Tidak Hana," jujur Cloud berhasil membungkam bibir Hana, gadis itu mendadak terdiam sebentar. Kemudian, Hana membuka lagi suaranya. "Baiklah sayang."
"Tapi ada hal yang aku ingin tunjukkan padamu." Cloud menggapai jaket kulitnya, dan mengambil dua lembar kertas dari dalam sakunya. "Tiket konser Nick Carter untuk kita berdua."
Hana menerjap melihat dua kertas yang berada di tangan Cloud. Detik berikutnya, ia melompat, memeluk tubuh Cloud dengan erat. "Terimakasi Cloud," Hana melonggarkan pelukannya, dan memberikan kecupan di pipi Cloud.
"Kenapa hanya di pipi?" protes Cloud. "Disini belum." Cloud menekan bibirnya menggunakan jari telunjuknya, seraya tersenyum.
"Ck, baiklah," Hana memajukan wajahnya perlahan, memberikan kecupan di bibir Cloud. Kecupan sangat manis. Namun Cloud tidak merasa cukup. Cloud bergerak, melingkarkan satu lengan kokohnya di pinggang Hana, dan mendorong tubuh kekasihnya kedepan. Cloud meraih bibir Hana yang candu. Melemumaat pelan, ia merasakan kenikmatan di area lembut itu.
Hana menutup kedua matanya, bibirnya berusaha mengikuti belaian lembut mulut Cloud yang menuntut. Lirihnya meluncur setiap kali linggual Cloud memberikan rasa nikmat yang menggetarkan tubuhnya.
Cloud menyudahi ciumaannya, bersamaan dengan kelopak mata Hana yang terbuka. Hana menyaksikan kekasihnya berkedip dan tersenyum, ia mengunggis bibir bawahnya yang terasa lebih berisi.
Cloud berdeham pelan seraya mengusap tengkuk lehernya. Yang dilakukan Hana membuat Cloud tergoda, sungguh. Ingin rasanya Cloud membungkam lagi bibir Hana tanpa ampun, namun wajah Hana yang terlihat lelah mengurungkan niatnya.
"Beristirahatlah Hana, kau terlihat sangat lelah." Ucap Cloud pada akhirnya. Lagi-lagi, ia harus menahan dirinya dari penderitaan yang menyiksa. Penderitaan yang dikasih Thorbal, tepatnya.
Hana membenarkan ucapan Cloud seraya merebahkan kepalanya di dadaa bidang kekasihnya. Cloud pun menyandarkan punggungnya di bantalan sofa, ia membelai pelan rambut Hana.
"Cloud," panggil Hana. Ia sedikit mengangkat kepalanya. "Terimakasih karena kau telah menyelamatkanku." Tutur Hana, ia menatap Cloud dengan mata yang berkaca-kaca.
Cloud mengecup dalam kening Hana, dan jarinya mengusap cairan bening yang meluncur di sisi wajah Hana. "Jangan menangis sayang, semua sudah lewat."
"Sekarang pejamkan matamu Hana, dan mimpikan aku."
Hana mengulas senyuman. "Selamat malam Mi Cielo. Te amo con todo mi corazón." (Aku mencintaimu dengan sepenuh hatiku).
"Te amo mucho también." (Aku juga sangat mencintaimu)
Hana sudah tertidur pulas. Cloud berusaha bangun berencana memindahkan Hana ke atas tempat tidur. Namun...
Ya Tuhan.... Bisik Cloud langsung mengalihkan tatapannya. Dilihatnya tadi, satu garis yang berada diantara kerah badrobe Hana yang sedikit tersingkap. Bahkan bukit Hana sedikit terlihat.
Cloud membuang napasnya dengan kasar, ia harus berusaha menahan syahwaatnya yang kembali hadir. "Ini benar-benar ujian. Dasar otor koplaakk!!"
" 🤣🤣 Mohon bersabar ya Cloud. Nyok kita ngopi dulu di warkop."