Reckless

Reckless
DRAMA MENGHARU BIRU



Hana berada di kantin sebelum ia memasuki kelasnya. Ia menempelkan ponsel di daun telinganya, kembali ia mencoba menghubungi Cloud. Lagi-lagi Cloud masih tidak bisa dihubungi.


Hana membuang napas, entah bagaimana caranya ia mendeskripsikan perasaannya saat ini. Khawatir, gelisah, dan juga sedih. Hampir dua puluh jam lamanya, Cloud tidak ada kabarnya. Pesan yang ia kirim tidak mendapatkan balasan, bahkan nomer ponsel Cloud hingga kini tidak bisa Hana hubungi.


"Apa Cloud sudah bisa dihubungi? " tanya Lvy duduk di depan Hana seraya meletakkan baki yang terdapat dua piring berisi sandwich, dan dua gelas jus yang baru saja ia pesan di kantin kampus.


Hela napas Hana terdengar, lalu ia menggeleng. "Sampai pagi ini nomer ponselnya tidak bisa di hubungi, Lvy. "


Lvy hening mendengarkan keluhan dari sahabatnya. "Mungkin dia sedang sibuk Hana, atau bisa jadi dia sedang berkunjung ke New Jersey menemui ibunya. "


"Tidak Lvy, aku sudah menghubungi ibunya. Tapi.." Hana menjeda ucapannya, kemudian membuang napasnya yang tercekat. "Cloud tidak berada disana. "


"Aku takut, Lvy, " ucap Hana setengah mendeesah. "Aku takut sekali sesuatu yang buruk terjadi kepada Cloud, " tutur Hana, pandangannya nanar. Ia sungguh ingin menangis saat ini.


"Hilangkan pikiran burukmu itu Hana, berusahalah untuk positif thinking. Yakinlah hal buruk itu tidak terjadi. "


🍂🍂🍂


Di tempat yang berbeda, Cloud membuka matanya pelan-pelan ketika penerangan cahaya surya yang menyingsing menyelinap dari lubang langit-lagit menyoroti wajahnya. "Mereka membawa ku kemana? " tanya Cloud, dengan tubuhnya tergeletak di lantai kayu beralaskan debu. Ia masih dalam keadaan belum sepenuhnya sadar.


Ia memejamkan kembali matanya, mengerang merasai rasa sakit di sekujur tubuhnya akibat serangan Jay semalam. "Ayah, " ya... Cloud mengingat dia akan di pertemukan dengan ayahnya.


Cloud berjuang untuk bangun dengan kedua tangannya masih diborgol ke belakang. Ia merotasi pandangan ke seluruh ruangan yang berdindingkan kayu. Akhirnya ia bisa bertemu lagi dengan ayahnya yang kini berbaring meringkuk dekat kursi. Cloud pun melangkah, mendatangi ayahnya. "Ayah... " panggil Cloud seraya duduk bersebelahan dengan tubuh ayahnya.


"Clo-ud, " lirih Justin bergerak, mengangkat tanganya ingin menyentuh wajah putranya.


Justin meraba wajah Cloud perlahan. "Apakah kau terluka nak?" Justin menyentuh luka lebam yang terdapat disudut bibir Cloud.


"Tidak ayah, " bohongnya seraya menahan sesak di dadaanya karena melihat jelas kondisi wajah ayahnya. "Aku tidak terluka sama sekali, " jawabnya tidak ingin membuat ayahnya khawatir.


Namun sebagai sosok ayah, meski dalam keadaan buta sekalipun, Justin bisa merasakan jika Cloud terluka.


Cloud memandang wajah ayahnya, dan ia lm melihat memar di dahi ayahnya. "Apa yang telah mereka lakukan padamu ayah? "


"Ah kedatanganku di sambut drama mengharu biru di pagi hari, " tiba-tiba suara Ace terdengar, menggema begitu pria itu masuk ke sebuah rumah tua yang mereka pijak.


Cloud menggertak giginya, lalu ia menoleh. "Apa yang kau lakukan pada ayahku, Ace?? " tanyanya tegas. "Jawab!!" mata coklatnya menyala dengan murka .


Ace terkekeh menganggap remeh pertanyaan Cloud tadi. "Astaga.. Kau berani sekali hah! " Ace mencengkram dagu Cloud kemudian mengangkat sedikit. "Kau tidak perlu khawatir, aku hanya ingin bersenang-senang, sebelum.... "


"Sebelum apa brengseek? " Cloud mengeram menggerakkan tangannya yang terborgol. Sial...


"Jawabannya, sebelum aku menepati janjiku untuk membunuh ayahmu, " bisiknya sengaja memancing amarah Cloud, dan ia bisa menikmati suguhan yang menurutnya menarik. Kemarahan Cloud dianggap lelucon untuknya.


Ace berjalan mundur. Terkekeh, seraya mengusap darah dari bibirnya. "Wow kau sangat tangguh dude." garis seringai mengerikan terbentuk di bibirnya. "Sekarang katakan, apa yang kau bisa lakukan lagi untuk menyelamatkan ayahmu, Cloud? sedangkan kedua tanganmu terborgol. "


"Siaalan.... " Cloud mengumpat, ia mengatur deru napasnya dengan tidak melepas padangan ke arah Ace yang masih menertawakannya.


"Saranku, kau berdo'alah untuk keselamatan ayahmu, untukmu, dan juga ibumu." Ledek Ace semakin membuat darah Cloud mendidih.


"Cloud, ayah mohon kau jangan terpancing."


Lalu, pun Ace tersenyum. "Yang dikatakan ayahmu benar!" ucap Ace melenggang ke arah Justin, langkah pria itu tegas. "Sudah aku katakan, aku hanya memenuhi kesenangan ku saja. "


"Apa yang kau ingin lakukan? jangan kau sakiti ayahku lagi, " cerca Cloud menggeser tubuhnya, menghalagi jalan Ace untuk mendekati ayahnya. Sejauh ini Cloud masih berusaha untuk melindungi ayahnya.


"Menyingkirlah!! " perintah Ace semena-mena. Cloud tidak menghiraukan. Ia mendongakkan kepalanya seolah menantang Ace.


"Dasar bocah!!" Ace mencengkram kerah jaket Cloud, lalu itu mendorong Cloud ke arah meja. Brakk... Cloud terbentur meja mengenai pinggangnya.


Ace melanjutkan langkahnya, ia meluruhkan kedua kakinya, lalu ia berjongkok. "Kau ingin mengetahui apa yang telah ku perbuat kepada ayahmu sehingga dahinya terluka? " tanya Ace seraya menatap Cloud.


"Jangan kau sentuh ayahku, Ace. " Cloud melangkah mendekati Ace.


Ace tidak mengindahkan kemauan Cloud, ia pun bergerak mencengkram rambut Justin kemudian.


"Lepaskan tanganmu Ace!! " teriak Cloud, di iringi gelak tawa Ace. "Aku akan melepaskan tanganku, tapi dengan syarat. Bersimpuhlah di hadapanku Cloud, lalu bermohonlah. "


Justin menggelengkan kepalanya, melarang Cloud. "Jangan nak. "


Cloud pun membuang jauh harga dirinya. Lantas ia meluruhkan kakinya, lalu ia pun memenuhi keinginan pria itu. Bersimpuh di depan Ace.


"Mengemislah sekarang, " perintah Ace seraya menyelipkan kedua tangannya ke dalam saku celana.


"Tolong jangan kau sakiti ayahku, Ace. " Ace tergelak menatap Cloud tengah memohon kepadanya. Hiburan yang mengasyikkan melihat penderitaan seseorang.


"Aku sedang berbaik hati, maka dari itu aku mengabulkan permintaanmu kali ini, Cloud. "


" Sudahi bersenang-senangnya Ace dan sambut kedatanganku dengan suka cita, " datang seorang pria berbalut jas berwarna hitam berdiri di muka pintu.


"Tuan Leon, " Ace menyapa pimpinannya, dengan membungkukkan punggungnya memberi hormat.


Leon... Bisik Cloud dalam hati kemudian ia meluruskan pandangannya melihat satu sosok pendiri kartel yang belum pernah ia ketahui wajahnya. Dalam detik itu juga, tubuh Cloud mendadak membeku.