Reckless

Reckless
MENDEBARKAN



"Ini hadiah yang aku janji kan untukmu, Cloud." Ucap Chalk meletakkan sebuah kunci mobil mewah di hadapan Cloud. Hadiah pertama yang dijanjikan pria itu sebelum Cloud melakukan pekerjaan pertamanya.


"Wow!! ini sungguh untukku tuan? " Cloud menyeringai tipis seraya membenarkan posisinya dengan menegakkan punggungnya dari bantalan sofa.


Chalk mengedikkan bahunya, lalu tergelak. "Tentu untukmu, dude. Ambillah!!" perintah Chalk lagi.


Cloud pun mengambil kunci mobil itu. "Terimakasih tuan." ujarnya, kemudian ia menatap kunci yang sudah berada di tangannya sebelum ia memasukkannya ke dalam saku jaketnya.


"Apakah ada pekerjaan yang harus aku kerjakan hari ini, Tuan?"


"Tidak ada Cloud, aku akan menghubungimu jika ada tugas yang harus kau kerjakan."


"Baiklah tuan, aku akan menunggu kabar dari anda." Cloud menarik satu sudut bibirnya lalu ia pun berdiri.


"Sayang..... " sambut Chalk kepada seorang wanita yang baru saja masuk ke ruangannya. Chalk menggerakkan kepalanya memberi kode Cloud agar keluar. Cloud mengerti, lalu ia pun melangkah meninggalkan ruangan Chalk.


Begitu pintu tertutup, wanita itu berjalan cepat, dan melopat duduk diatas pangkuan kekasihnya. "Aku merindukanmu, tuan." ucap Amora, memberikan kecupan singkat di bibir Chalk


"Aku juga merindukanmu, sayang." balas Chalk langsung menyambar bibir Amora yang menggoda, melumaat penuh gaiyrah.


"Aku mempunyai kejutan untukmu, Amora." Chalk menahan tubuh Amora yang duduk diatas pangkuannya. Ia memiringkan tubuhnya, meraih berkas diatas meja. "Ini untukmu." Chalk memberikan lembaran kertas itu.


Amora menyambut pemberian Chalk dengan suka cita. Kemudian ia membacanya. "Amoire candy, " sebut Amora menatap Chalk dengan tatapan tidak percaya. Kemudian, ia melanjutkan lagi membaca berkas berisi kepemilikan pabrik permen yang mengataskan namanya. "Tuan, ini sungguh untukku?"


"Ya, sayang." Jawab Chalk membuat Amora semakin melebarkan senyumannya. "Terimakasih tuan, " pekik Amora, memeluk Chalk.


"Um, aku juga memiliki kejutan untukmu tuan." Amora melepaskan pelukannya. Ia membuka satu kancing bagian atas kemeja yang melekat pada tubuh Chalk.


"Apa itu Amora?" bisiknya lalu menyesap ke belakang telinga wanita itu, meloloskan suara desaahan merdu dari mulut Amora.


"Aku sudah berhenti bekerja tuan," ucap Amora. Ia memenuhi permintaan Chalk waktu itu yang memintanya untuk berhenti bekerja.


"Really?" tanya Chalk, yang dijawab Amora dengan anggukan cepat. "Alasan apa yang kau jelaskan ke Mariana, sayang? hmm."


"Aku beralasan akan mewujudkan impianku menjadi model. Lalu, Mariana langsung mempercayaiku begitu saja." Kekeh Amora melanjutkan aktifitasnya, membuka setiap kancing yang berjejer di kemeja Chalk. Hingga kancing akhir terlepas, Amora melepaskan kemeja dari tubuh Chalk, dan melempar kemeja berbahan katun itu.


"Ini kabar yang aku tunggu-tunggu, sayang." Chalk menggeser tubuh Amora kedepan, tubuh mereka pun bersentuhan. "Nanti malam, aku akan berangkat ke Mexico. Ikutlah denganku." Bisik Chalk, merangkup kedua benda indah Amora, dan mereemasnya.


"Shh... Dengan senang hati Tuan." Kembali keduanya menyatukan bibir mereka. Bercumbyu dengan mesraa.


🍂🍂🍂


Tepat di ruangan bawah, beberapa anggota kartel tengah sibuk membawa masuk duss berisikan charlie ke dalam ruangan yang terhubung dengan terowongan bawah tanah.


Charlie-charlie telah siap itu, akan di kirim ke Mexico melalui jalur bawah tanah. Cloud menunda niatnya untuk menyusul Ace. Alih-alih membantu pekerjaan anggota kartel, Cloud akan memantau jalur akses terowongan yang akan ia jadikan informasi berikutnya.


Ia mengaktifkan kamera pengintai yang terletak dikalungnya. Lalu, ia mengambil duss tersebut, mengikuti langkah anggota lainnya berbelok ke lorong sebelah kiri. Tepat di ruangan yang baru ia pijak, di dapati rak-rak berisi berbagai jenis senjata api tersusun dengan rapi, dan di tengah rak tersebut terdapat pintu yang terbuka.


"Berikan duss itu, bung." Perintah satu anggota yang berdiri di dekat pintu. Cloud memberikan duss tersebut kepada pria berwajah bengis itu. Dilihatnya sekilas, ada tangga di dalam sana.


"Ambilkan duss yang lain," perintahnya lagi, Cloud mengikuti perintah pria itu sampai pekerjaannya selesai, dan menemui Ace.


Namun, langkah kakinya terhenti begitu maniknya menyoroti lorong lain yang berada di sebelah kanan. Tiba-tiba ia merasakan jantungnya berpacu dengan cepat, ada dorongan di dalam hatinya agar ia melangkah ke sana.


Cloud menoleh ke arah kanan dan kiri. Dirasanya aman, ia mempijakkan kakinya menyelusuri lorong yang nampak gelap. Cloud mempercepat langkahnya, mengikuti arah dari lorong itu, hingga ia menemukan sebuah pintu terbuat dari besi.


Ruangan apa ini? Cloud membalikkan tubuhnya, memastikan jika tidak ada seseorang yang mengikutinya. Lalu kembali ia menatap pintu itu, dan menarik handel sehingga pintu terbuka.


Ruangan bawah tanah. Cloud semakin dihantui rasa penasaran, ia pun melanjutkan langkahnya untuk masuk. Begitu masuk, ia disambut oleh aroma busuk dari dalam, dan ia mendengar samar-samar suara rintihan seorang pria.


Dalam temaran, Cloud menuruni anak tangga penuh kehati-hatian. Jantungnya semakin berpacu dengan cepat. Semakin ia turun, semakin pulak rintihan terdengar jelas di indra pendengarannya.


"Apakah ada orang di dalam?" tanya Cloud, suaranya menggema memenuhi ruangan. Tidak ada jawaban, Cloud meneruskan langkahnya.


"Cloud," panggil seseorang pria yang berada di belakang punggungnya. Cloud memejamkan kedua matanya. Ace, sial... Ia mengeram kesal.


Cloud pun berbalik arah. "Kau menganggetkanku, Ace. " Celutuk Cloud senetral mungkin.


"Apa yang kau lakukan disini Cloud? kau tau, aku menunggumu di lapang tebak sejak tadi." Bukan Cloud saja yang bersikap tenang, Ace pun demikian.


Pemuda itu tidak boleh mengetahui jika ayahnya masih hidup. Itulah ultimatum yang di berikan Chalk kepadanya sebelum Cloud menjadi bagian Black Eagle.


"Aku hanya berjalan-jalan sebentar Ace, dan aku sepertinya tersesat." Jawabnya cengegesan, membuat Ace mengangguk.


"Sebaiknya kita naik ke atas, Cloud. Aku akan mengajarkan mu meggunakan pistol."


"Woah, benarkah? pasti sangat menyenangkan. Baiklah Ace. Ayok." Cloud merangkul tubuh Ace yang lebih tinggi darinya. Mereka pun menaiki kembali anak tangga, dan keluar.


"Cloud putraku," lirih Justine di dalam sana, air matanya pun mengalir melintas pipinya. "Ayah merindukanmu, nak." Lirihnya lagi dalam kesendirian. Tidak ada Damian yang sempat menemaninya, bertukar derita. Pria itu mati mengenaskan karena kecanduannya. Lantas, bagaimana nasibnya? Apakah ini adalah garis takdir yang untuknya bertemu dengan putranya?


Bagaimana perasaan kalian baca part kali ini guys 🤣 sile komentarnya aku tunggu, disini.....