
"Masuklah Ace!"
Untuk pertama kalinya, Ace memijakkan kedua kakinya di perusahaan salah satu pendiri kartel Black Eagle, Helder. Pria bernama asli Archer itu melangkah dengan langkah tegas setelah mendengarkan suara khas ketuanya. Begitu ia masuk, Ace menatap sosok pria yang berbalut jas berwana abu-abu yang berdiri di tengah ruangan untuk menyambut kedatangannya. Sungguh, ini suatu kehormatan besar untuknya.
Archer sendiri, adalah seorang kriminal yang bernasib mujur bertemu dengan Chalk. Empat tahun yang lalu, pimpinan kartel itu telah membantunya untuk melarikan diri dari kejaran Polisi karena kedapatan dirinya sedang mencuri di salah satu toko perhiasan. Tidak hanya menolongnya, Chalk menawarkan sebuah pekerjaan besar untuknya sebagai seorang pengedar.
Hidup yang terhimpit oleh ekonomi, membuat Ace memilih untuk bekerja dibawah naungan Chalk dengan iming-iming kemewahan yang Chalk tawarkan. Tentu, tawaran itu sangat menggiurkan untuknya. Ace dengan berat hati meninggalkan istri dan juga putrinya yang masih berusia 5 tahun saat itu di Mexico, dikota kelahirannya. Istrinya tidak mengetahui jika dirinya bekerja di dunia gelap.
Dan berdirilah dia didekat pria yang menolongnya itu dan memberikan sebuah map coklat kepada sang ketua mafia.
Roland yang masih berdiri disana sampai pria berperawakan tinggi besar itu masuk ke dalam ruangan, masih bergeming.
"Roland, keluarlah!!"
Ia pun tersentak saat atasannya kembali menyeruakan perintah. Roland pun mematuhi perintah Chalk, dengan sebuah kecurigaan.
Apa lagi yang akan anda lakukan Tuan? tanya Roland dalam hatinya. Status seorang Chalk sebagai seorang Mafia, hanya Roland dan Amora yang mengetahuinya. Bahkan, Mariana dan Petter tidak mengetahui jika Chalk terjun di dunia hitam.
Malang sekali jalan hidupmu Mariana.
"Duduklah Ace, kau ingin minum apa?" tawar Chalk kepada kaki tangannya seraya melepaskan jas yang melekat pas di tubuhnya.
"Wine dengan kualitas terbaik Tuan," jawab Ace seraya mendaratkan tubuhnya di salah satu sofa berwarna hitam. Chalk masuk ke sebuah ruangan yang berada di dalam ruang kerjanya. Tidak lama kemudian, ia keluar membawa satu botol wine dan dua gelas kristal.
Chalk meletakkan dua gelas kristal tersebut di atas meja, dan siap membuka botol bening yang berisi cairan berwarna merah tersebut.
"Biar, saya saja yang menuangkannya Tuan." Ace mengambil alih botol beling itu.
"Baiklah... " Chalk menyandarkan punggungnya di bantalan sofa, dengan satu kaki yang menyiku diatas pangkuannya. Chalk membuka map yang diberikan Ace, dan membaca setiap kalimat yang tertera di atas kertas putih tersebut dengan seksama. Chalk pun menyeringai.
"Kerja yang sangat bagus, Ace. " Lalu, ia pun tertawa. Surat yang dibawa Ace, berisi tentang kepemilikan sebuah pabrik permen yang di lelang. Pelelangan itu berlangsung kemarin sore di Pennsylvania, dan dimenangkan Ace sesuai dengan intruksi Chalk untuk memberikan penawaran harga yang paling tertinggi. Dan intruksi itu berhasil. Chalk harus mengeluarkan sejumlah uang yang tidak sedikit untuk medapatkan apa yang dia inginkan.
Chalk atau Helder, sang mafia melebarkan sayapnya. Setelah terowongan yang menjadi akses pengiriman kokain secara besar-besaran ke kawasan Mexico terwujud, dan saat ini impiannya memproduksi barang haram dengan bentuk permen sudah di depan matanya.
"Segeralah, kau urus balik nama pabrik tersebut." Perintah Chalk, yang di sanggupi Ace. Chalk sepenuhnya percaya dengan anak buahnya itu.
"Mari kita bersulang!" Seruan Chalk suka cita.
Ting, suara dentingan peraduan antara gelas, diiringi gelak tawa keduanya. Lalu, mereka menyesap cairan yang mengandung alkohol bersamaan. Wine terbaik, untuk awal mula yang baik.
Chalk mengeluarkan kwitansi dan bolpoin dari tasnya kemudian. Menggoreskan tinta hitam, ia menulis sejumlah uang yang akan ia berikan kepada Ace. "Ambillah, bonus awal untukmu."
Ace tidak meragu, diambilnya kertas berbentuk persegi panjang itu dan menatap nominal uang yang diberikan ketuanya. "Ini banyak sekali Tuan!"
Chalk menarik satu sudut bibirnya. "Sesuai, dengan hasil kerja kerasmu Ace. Aku begitu bangga memilikimu sebagai kaki tanganku."
"Terima kasih, Tuan." Ace menatap nanar ke arah jendela kemudian. Lalu bayangan istri dan juga putrinya begitu saja hadir di pelupuk matanya. Rasa rindu yang besar telah menggoreskan luka di hatinya. Sudah hampir 4 tahun lamanya, ia tidak bertemu dengan keluarga kecilnya dan selama itu pula ia tidak berkomunikasi kepada mereka. Aku akan segera mengunjungi kalian dan mewujudkan impian kalian, bersabarlah dan tunggulah kedatanganku. Ace membantin.
"Bagaimana pengiriman barang ke Mexico, apakah berjalan dengan lancar??"
Ace menoleh kembali ke arah ketuanya. "Tentu Tuan, semua berjalan dengan lancar, tanpa hambatan."
"Oh, astaga dua kabar yang sangat menggembirakan dalam satu waktu." Chalk menyesap lagi cairan berwarna merah itu hingga tandas. Ace berinisiatif, menuangkan lagi wine ke dalam gelas kristal Tuannya.
"Minggu depan ikutlah denganku, Ace."
"Anda akan mengajakku kemana, Tuan?"
Seringai lagi-lagi terbentuk di dua garis bibirnya. "Menemui putra Justin." jawab Chalk, dia sangat menginginkan pertemuan dengan putra dari sahabatnya.
Begitulah seorang Chalk, sosok pria yang sangat ambisius. Pria itu melakukan banyak kebaikan terhadap seseorang, tentu ada maksud dan tujuan. Ace salah satunya, dan anggota kelompok yang dipimpinnya hampir semua memiliki hidup yang pelik. Bahkankan ada beberapa dari mereka mantan seorang narapidana.
Chalk, bagi anggota kelompoknya adalah sosok malaikat berhati mulia. Bahkan, mereka berani bersumpah akan melakukan semua apa yang diperintahkan sang ketua, termaksud nyawa sekalipun. Seperti halnya Barney, pria itu mengajukan dirinya untuk menggantikan posisi Justin saat Chalk mengumpulkan anggotanya untuk melancarkan niat buruknya terhadap Justin.
Ya, kecelakan yang terjadi beberapa tahun yang lalu adalah jasad Barney yang hangus terbakar. Kemudian, Chalk menyabotase surat hasil DNA anak buahnya itu.
Seperti itulah gambaran dunia gelap sang mafia, mereka akan melakukan cara apapun untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Mengorbankan nyawa seseorang demi ambisi, dan kerap memberikan hukuman yang keji buat anggota yang melakukan kesalahan.Damian contohnya.
Sudah terjawab ya Helder itu siapa....