
Masih lanjut kemarin, yang manis-manis sebelum ada anuu 😂 Ramaikan komentar kalian guys n jangan lupa tekan like... Terimakasih, 🤗
...****************...
Aroma musk menyegarkan menyeruak, menusuk indra penciumannya. Masih dengan mata yang terpejam, Hana tersenyum samar seraya menghidu aroma memabukkan itu dalam-dalam. Aroma khas, yang dimiliki kekasihnya. Tentu, Hana menghafalnya.
Hana membuka mata, bibir ranumnya sedikit terbuka. "Oo My God," bisik Hana, seraya menutup mulutnya. Yang dilihatnya stuktur tubuh dengan pahatan sempurna. Sesegera Hana menggosok-gosokan matanya yang sudah tercemar dengan pemandangannya yang nyata.
Tubuh kekar Cloud menggoda iman. Hana membasahi kerongkongannya yang tercekat. Maniknya yang nakal, menyelusuri tiap bentuk yang terpahat diperut Cloud.
Lagi Hana meneguk ludahnya. Tanpa berkedip, Hana masih melihat kesempurnaan yang di miliki kekasihnya kini secara menenyeluruh. Benar-benar Cloud seperti titisan Dewa Apollo. Dewa Yunani yang paling tampan diantara dewa-dewa lainnya.
Hana mendapati, sebuah tanda hitam yang samar di depan daada Cloud. "Cloud mempunyai tanda lahir," bisiknya. Jari telunjuknya terjulur dan bergerak menyentuh tanda hitam itu.
Cloud pun bergerak, Hana terburu-buru memajamkan matanya. Tuhan, semoga Cloud tidak merasakan sentuhanku tadi.
Sayangnya doanya tidak terkabulkan. Cloud merasakan saat jari nakal Hana bergerak di atas dadaanya.
Tidak ada pergerakan dari Cloud, Hana pun meningintip dan bernapas lega. Cloud masih tertidur pulas. Kembali Hana membuka matanya, dan melihat lengan kokoh kekasihnya masih berada di atas pinggangnya. Hana pun tersenyum.
Hana menengadahkan wajahnya. Wajah Cloud yang rupawan menjadi pusat perhatiannya. "Astaga, aku baru menyadari jika Cloud mempunyai bulu mata yang tebal." Imbuhnya yang sangat pelan. Ia tidak ingin kekasihnya terusik dengan suaranya.
"Rambutnnya terlihat lembab," Hana menyentuh rambut hitam Cloud yang berkilau karena pencahayaan dari sinar yang masuk lewat jendela. "Dia habis mandi rupanya, pantas saja memakan waktu yang lama." Ujar Hana dengan polos. Ia tidak mengetahui jika tadi kekasihnya tengah berjuang meredam hassrat yang memuncak.
Hana kembali memusatkan perhatiannya pada keseluruhan wajah Cloud, tidak ada yang terlewati. Hingga maniknya berhenti pada bibir Cloud. Ia memainkan jari telunjuk di sana. Menoel benda kenyal itu berkali-kali.
Cloud membuka matanya perlahan, ia langsung menarik tangan Hana dari sana. Sontak, membuat Hana terkejut, dia hampir bangun jika Cloud tidak menahan dan membuat Hana tetap berada di dalam dekapannya.
"Oh-Hai... Se-selamat sore Cloud." Hana salah tingkah, dan tersenyum kikuk.
"Sore Hana. " Suara serak-serak macho Cloud membuat Hana bertambah salah tingkah, jantungnya memompa lebih cepat, dan yeah suara Cloud terdengar lebih seksi dari biasanya.
"Ma-maaf telah membuatmu terbangun."
"Aku sudah terbangun sejak tadi Hana." Cloud melipat bibirnya, menahan tawanya. Sepersekian detik wajah Hana berubah drastis. Entah bagaimana caranya menutupi rasa malunya, Hana benar-benar tidak tau.
"Kauuu.... " Hana mendengus kasar seraya mencubit perut Cloud yang keras. Cloud meringis,lalu ia tertawa. "Kau sengaja tidak memakai pakaian untuk memamerkan tubuhmu yang kekar di depanku. Harus kau tau Cloud, penampilanmu mencemari penglihatanku!" Hana berkilah, namun hal itu sia-sia wajahnya sudah terlanjur memerah. Dan sialnya aku begitu saja tergoda. Lanjut Hana dalam hatinya, lalu ia berdeham pelan.
Faktanya, Cloud terbiasa tidak memakai pakaian saat tidur.
Tidak memilih menjawab pertanyaan Hana untuk melakukan pembelaan, Cloud memilih diam, dan menikmati wajah Hana yang sedang marah.
"Tapi kau menyukainya bukan?" Cloud sengaja memancing untuk menggoda kekasihnya itu.
Wajah Hana bertambah merah layaknya kepiting rebus yang siap disantap. Napasnya semakin tidak beraturan.
"Berhentilah untuk menggodaku Cloud."
Jawaban Hana, memancing Cloud untuk tertawa. Pertanyaan Cloud dibenarkan Hana secara tidak langsung. Hana berniat untuk bangun dan melarikan diri. Lagi, usahanya sia-sia. Dengan cepat Cloud menarik tangannya, dan mengungkung tubuhnya. Eeh mau apa, 🙈🙈🙈
Hana terdiam dibawah tubuh Cloud. Tatapan kekasihnya yang intens membuatnya tidak bisa berkutik. Bahkan untuk bernapas saja, Hana kesulitan. "Cl-Cloud."
Cloud tidak menjawab. Iris coklatnya nampak sayu, menatap Hana penuh damba. Sejak tadi Cloud sudah menahan gelombang yang bergojalak, karena sentuhan Hana pada bagian tubuhnya.
Sepasang kekasih itu, sama-sama terdiam. Cloud mendaratkan bibirnya di atas bibir Hana. Meluumat pelan, ia menikmati kelembuutan dari bibir Hana.
Ciumaan mereka terlepas. Bibir Cloud yang basah menyelusuri leher jenjang Hana. Hana menerjap, dan mendeesah pelan. Ia merasakan ada dorongan dari dalam tubuhnya yang siap meledak.
Cloud memundurkan wajahnya, kembali ia menatap Hana, dan membetuk garis melengkung di bibirnya. Hana pun demikian. "Kau tidak merasa kesakitan?"
Hana mengernyit. Matanya melirik ke bagian atas tubuhnya. Diatas bahunya ada ruam merah yang Cloud ciptakan disana. "Aku sudah melakukannya dengan benar, bukan?"
Hanya senyuman indah yang terbit di wajah cantik Hana. Cloud pun turut tersenyum seraya membebaskan Hana. Pria itu bangun, mengambil pakaiannya diatas sofa, dan memakainya.
"Hana... "
"Ya Cloud... "
"Kau ingin kita menikmati teh bersama dirumah, atau kita pergi berkencan menggunakan sepeda?"
"Bersepeda, " jawab Hana dengan cepat. "Tapi... Cloud... Pakaianku seperti ini, dan.... "
Ya Hana memakai atasan dengan model Sabrina, hingga sebagian bahu indahnya terekspos.
Tau maksud dari Hana, Cloud membuka lemarinya. Mengeluarkan paper bag dan memberikannya kepada Hana. "Untukmu, semoga kau menyukainya Hana."
Hana dengan cepat mengeluarkan sebuah jaket denim dari dalam paper bag. "Aku menyukainya Cloud, terimakasih." Hana melepaskan lebel kertas yang terpasang di jaket sebelum ia memakainya.
Cloud membantunya. Pria itu merapikan jaket yang sudah terpasang di tubuh Hana, dan ia mengikat ulang rambut kekasihnya, dicepol asal.
Cloud pun beralih mengambil jaket denim yang digantung di belakang pintu kamarnya, dan memasangkan ditubuhnya. "Kita sepasang kekasih yang serasi bukan?" Hana pun tertawa.
"Sebaiknya kita pergi sekarang." Tangannya terulur, menuntun Hana sampai depan rumahnya.
"Cloud, " Sapa Maria bersama Jessy yang melintas di depan rumahnya. "Nyonya Maria, hai gadis cantik." Cloud mengusap rambut Jessy dan memperhatikan wajahnya. Jessy mirip sekali dengan Tuan Palker.
"Cloud, gadis ini kekasihmu." Cloud mengangguk. "Oh ya Tuhan, kau pintar sekali mencari pasangan." Ucap Maria.
"Siapa namamu Nak?"
"Hana, Nyonya."
"Aku Maria, dan ini Jessy... Cucuku." Hana tersenyum, seraya mengangguk.
"Apakah kalian ingin berkencan?"
"Iya Nyonya," teriak Cloud yang sedang mengeluarkan sepedanya dari garasi.
"Berhati-hatilah nak," tutur Maria. "Aku pergi dulu ya Hana, mampirlah ke rumah jika senggang."
"Baik Nyonya, sampai jumpa lagi Jessy." Hana melambaikan tangannya.
Cloud berada di sisi Hana, dan sudah duduk di pelana sepeda. "Naiklah Nona cantik." Tangan kanannya terbuka, Hana tersenyum seraya duduk di pipa depan, mengenyamping. Beruntung ia tidak menggunakan rok kali ini. "Are you ready??"
"Yes, Cloud... "