
Hana duduk di sofa terbuat dari rotan di bilik kamarnya. Dari tempatnya, Hana memandang langit Philadelphia yang nampak mendung. Hana menikmati waktu kesendiriannya dengan secangkir coklat panas buatan Ibunya. Hari ini, tidak ada tujuan untuknya bepergian. Kekasihnya sibuk bekerja, Clara sedang mengunjungi kediaman neneknya, sedangkan Lvy... Hmm sahabatnya itu sudah mulai PDKT dengan dosen incarannya, Mr.Aron. Dan hari ini, akan menjadi sejarah untuk Lvy, karena ini kencan pertamanya.
Oh...Kisah sahabatnya seperti cerita di dalam novel yang kerap ia baca. Hana semakin dibuat penasaran dengan ending kisah cinta sahabatnya itu.
Bagaimana cara Lvy berhadapan Mr. Aron yang irit berbicara sedangkan sahabatnya itu sangat berisik, dan apa yang mereka bicarakan.
Well, mengenai apa yang akan mereka bicarakan, semoga sahabatnya itu tidak berbicara yang tidak -tidak. Sahabatnya begitu lugu, polos, apa adanya. Lebih mengutarakan apa yang dia rasa daripada harus menahan rasa malunya. Kira-kira Apa yang terjadi?? Hana menjadi memikirkan sahabatnya itu.
"Kenapa aku jadi memikirkan Lvy."
Segera Hana menepis semua. Biarkanlah Lvy menjadi diri sendiri, yang harus ia lakukan berdoa semoga kencan sahabatnya dengan dosen itu berjalan dengan mulus. Seperti kisahnya dengan Cloud. Hana menghela nafasnya, dan langsung tersenyum membayangkan wajah rupawan kekasihnya.
Diambilah benda pipihnya. Sejenak Hana menatap wallpaper pada layar, foto Cloud dengan senyuman merekah. Dengan segera Hana mengecup layar ponselnya, dan dalam menit yang sama benda tersebut pun bergetar. "Lvy.. "
Hanaaa!! Demi Tuhan... Mr. Aron begitu tampan dengan tampilan casual. Oh astaga, jantungku mau copot, Hana.
Kau mau tau? Saat menyebrangi jalan, dia menggandeng tanganku. Tangannya begitu hangat dan... Besar 🤤🤤
Hana melengkungkan bibirnya membentuk senyuman. Dengan jemarinya yang lincah, Hana membalas pesan Lvy.
Iueeehh.... Kau jorok sekali Lvy!! 🙄🙄 Segera bersihkan ilermu, sebelum Mr. Aron menjamah biibirmu.
Setelah membalas pesan Lvy, Hana mengambil kembali cangkirnya. Meniup kepulan asap yang keluar dari cangkir, lalu Hana menempelkan bibirnya di pinggiran cangkir dan menyesap minuman hangat itu. "Coklat panas buatan Mom,selalu yang terbaik!" Hana mengulum bibirnya.
"Ha-na... "
Hana memalingkan wajah ke arah kiri, menangkap sosok Ayden sedang menggeser pintu penghubung dan berjalan tertatih-tatih.
"Ada apa dengan kakimu, Ayden? kanapa kau berjalan terpincang-pincang?" tanya Hana, yang belum mengetahui apa yang telah terjadi dengan saudaranya itu. "Kau kecelakaan?"
Ayden menggaruk pelipisnya. "Tidak, aku hanya terkilir."
Hana pun menukikkan kedua alisnya, memasang wajah kebingungan.
"Kemarin, aku menemui Alana dengan menyelinap masuk ke dalam kamarnya." Ayden reflek duduk.
Hana cukup terkejut. Ia tidak habis fikir dengan tindakan gila yang dilakukan saudaranya. Menyelinap?? heeee...
"Aku sangat keren bukan?" puji Ayden untuk dirinya sendiri, ia berbangga atas prestasinya dalam menyelinap ke dalam kamar pujaan hatinya. Sesuatu yang memacu adrenalinnya.Bagaimana tidak, ia harus mengendap-ngendap masuk ke halaman rumah Alana, saat penjaga lengah.
"Kerenn? Heh, dimana letak kerennya?? justru, kau seperti pencuri!!"
Respon adiknya mengudang tawa, Ayden pun tergelak.
Hana berdecak pelan. "Lantas, apa yang kau lakukan disana? jangan katakan kau..Ber....Cinta dengannya!"
Ayden meredakan tawanya. "Jangan mikir yang tidak-tidak, Hana. Aku masih bisa menahan diri... " Seketika Ayden menelan ludahnya. Mengingat lagi saat kemarin Alana hanya memakai badrobe untuk menutupi keindahan tubuhnya, dengan rambut panjangnya yang lembab dan acak-acakan membuat tampilan gadis itu sangat menggoda. Bersyukur Ayden bisa mengendalikan dirinya, dan hanya mencicipi bibirnya.
"Ah syukurlah, Lalu, apa yang kau lakukan? kau menyatakan lagi perasaanmu? dan lagi kau ditolak?"
Ayden memutar bola matanya, ia berdecak. "Tidak, tidak seperti itu. Kau dengarkan aku terlebih dahulu, jangan memotong ucapanku. "
"Ya.. Ya... Baiklah. Sekarang lanjutkan." Hana menaiki kedua kakinya, dan duduk senyaman mungkin.
"Aku sudah mendapatkan nomer ponselnya," Ayden menarik sudut bibirnya, dan mencondongkan tubuhnya. " Dan..."
"Aku mencicipi bibiirnya yang sangat manis."
"Benar-benar kau berlakon sebagai pencuri andal Ayden. Menyelinap, lalu mencuri ciuuman gadis itu. Lalu, apa yang terjadi? Apakah kau didorong sehingga kakimu terkilir? "
"Tidak, Aku diminta untuk melompat dari lantai atas, karena tangga yang ku naiki menghilang."
"Jadi kau seperti ini karena kau menuruti keinginannya? Cinta boleh, tapi jangan bodoh Ayden!!" Hana sudah menarik kesimpulan jika saudaranya memenuhi permintaan Alana.
"Dia hanya mengerjai ku adikku yang cantik." Ayden menyilangkan tangannya di atas meja. "Dia membantu ku keluar dari rumahnya melalui pintu belakang, sialnya aku terpeleset di dekat kolam. Beruntung dia sudah tidak ada disana."
Hana hanya bisa menggeleng-geleng kepalanya. Enggan berkomentar. Tingkah saudaranya, diluar nalarnya. Benar-benar gila dan juga nekat.
"So, sekarang kau sudah bertukar pesan dengannya?" tanya Hana kemudian.
"Yeah... Awal yang baik bukan." Lagi, Ayden menunjukkan rasa bahagia melalui lengkungan di bibirnya.
"Semoga, kali ini kau beruntung Ayden." Itulah harapan Hana untuk saudaranya itu. Sebuah kebahagiaan yang melimpah, karena Ayden berhak mendapatkan semua. Oke lah, dari segi penampilan dia kurang rapi, banyak tatto yang memenuhi tangan bahkan tubuh dan kakinya juga terdapat ukiran, dan tingkahnya yang sedikit nakal namun itu hanya gayanya saja. Jauh dari itu, Ayden mempunyai hati yang sangat tulus.
"By the way, kau tidak berencana keluar hari ini?"
"Tidak, Cloud sedang bekerja, Lvy maupun Clara sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Ada apa?" Hana menatap Ayden penuh selidik.
Ayden kembali tersenyum. "Bagaimana jika kau mengantarkanku ke Airport pukul sepuluh nanti."
"Tidak mau, aku MAGER!!" elak Hana. Hana sudah memutuskan untuk menikmati waktu dirumah dengan mambaca atau menonton film lewat laptopnya.
"Ck, Ayolah Hanaa... Kita sudah jarang jalan bersama. Kau tidak rindu dengan moment itu?"
"Cih, tidak sama sekali!"
"Astagaa... Kalimatmu menusuk hatiku hingga dalam." Ayden mengubah expresinya menjadi menyedihkan. Namun, usahanya tidak membuat adiknya mengiba. Justru, Hana menatapnya dengan tatapan menajam penuh emosi. Apa adiknya sedang pms, entahlah!!
"Kau bisa meminta Nick untuk menjemputmu."
"Dia sudah berada di Atlanta. Tidak mungkin aku memintanya untuk kembali ke Philadelphia untuk menjemputku."
"Oh ayolah Hana," Ayden memelas, dan memohon. Jurus andalannya. "Nanti aku akan membelikanmu sepatu merk Nike keluaran terbaru. Bagaimana?"
"Tidak mau, aku bisa membelinya sendiri. Aku ingin yang lain."
Ayden memiliki firasat yang sangat buruk mengenai permintaan adiknya. " Apa??"
"Bagaimana jika kita berlibur ke Lombok, Ayden. Kita bisa mengajak Cloud, Alana, dan teman-teman kita. Pasti sangat menyenangkan."
"Ide yang bagus. Baiklah, tapi setelah kau menyelesaikan skripsimu."
"Oh astagaa, tapi itu masih lama... "
"Tidak ada tapi-tapian. Sekarang bersiaplah, dan antarkan aku ke Airport."
"Iyaaaa...... "