Reckless

Reckless
MENCARI TAU



"Maafkan aku Hana, aku menyesal," lirih Clara, ia masih berdiri dengan posisi punggungnya yang sedikit membungkuk dan bergerak naik turun. Tidak ada lagi sosok yang kerap menemaninya, Clara kembali sendiri. Seperti sebelum ia berkenalan dengan Hana.


Clara melihat sejenak ke arah Hana, dan Lvy yang semakin menjauh. Ia pun membawa dirinya untuk pergi dari sana. Hingga sampai di pintu gerbang, Clara menoleh menatap bilik kamar Hana. "Selamat tinggal Hana, aku akan meninggalkan Philadelphia. Hiduplah bahagia, " bisiknya.


Ya Clara sudah memutuskan untuk tinggal bersama ibunya di kota San Francisco, setelah resmi bercerai.


Ketahuilah, Insiden yang dialami Hana, pernah terjadi dikehidupan Hana sebelumnya. Namun pada saat itu Hana belum menjalin hubungan dengan Cloud, dan yang menyelamatkannya saat itu adalah Ayden. Tentu Clara pun ikut terlibat. Gadis itu melakukan karena obsesinya kepada Cloud, dan menganggap Hana sebagai saingannya.


"Berhentilah untuk menangisinya Hana," kata Lvy. Ia memandang wajah Hana yang terlihat begitu menyedihkan, matanya sembab, bahkan wajahnya memerah. Sudah hampir lima belas menit Hana menangis, meluapkan kekecewaannya kepada Clara.


"Sebenarnya apa kesalahan ku Lvy? selama ini aku selalu bersikap baik kepadanya. Ta---tapi kenapa..."


"Sshhhhh... " Lvy bergumam sambil mengusap punggung Hana, berusaha menenangkan. Kemudian ia menyeka lagi dan lagi air mata Hana. Entah sudah berapa lembar tissue yang digunakan untuk mengusap air mata Hana, tercecer di lantai.


"Kau tidak ada kesalahan Hana, tidak sama sekali! gadis itu yang kurang bersyukur mempunyai sahabat sepertimu."


Sekedar menyebutkan nama Clara dalam ucapannya, Lvy merasa enggan. Ia masih marah, dan tidak habis pikir kenapa Clara bisa melakukan hal rendah seperti itu. Persahabatan mereka berjalan hampir enam tahun lamanya. Waktu yang sangat lama... Apa yang telah gadis itu lakukan, telah merubah semua keadaan.


"Lihatlahlah aku," kata Lvy merangkup kedua sisi wajah Hana untuk menatapnya. "Kau boleh bersedih, tapi jangan berlarut-larut. Okey!! jika kau masih seperti ini terus menerus, aku tidak akan segan-segan menemui gadis itu dan menjambak rambutnya." Lvy kembali geram. Wajahnya memerah. Hidung mancungnya pun kembang kempis, mendengus kasar. Di taman tadi ia berusaha menahan diri untuk tidak menjambak rambut Clara, dan melihat Hana seperti ini, membuatnya berkeinginan untuk melancarkan niatnya.


"Ck, kedua matamu membengkak Hana!" ujar gadis bermata hijau itu berusaha menghibur Hana kembali. "Bagaimana jika Cloud melihat mu seperti ini!" Lvy berdecak, lalu membuang napasnya kasar.


"Benarkah, mataku terlihat membengkak?" tanya Hana sembari mengangkat kedua alisnya. Wajah polos ditunjukkannya.


Lvy tampak terkekeh kecil, membuat bibir Hana mengerucut. "Iya, aku berkata dengan benar. Maka dari itu jangan bersedih lagi, dan berdamailah dengan keadaan. Tersenyumlah!!" perintah Lvy, menatap Hana tegas. Tidak dibuat-buat namun yang ditampilkan dari wajahnya sama sekali tidak cocok untuknya. Ekspresinya, membuat Hana mengulum senyuman.


"Nah seperti itu, kau terlihat sangat manis." ujar Lvy ikut-ikutan tersenyum. "Omong-omong, apa yang Cloud lakukan kepadamu Hana?" tanya Lvy, setelah ia menyadari ada ruam keunguan di bawah persis telinga Hana.


"Apa?" Hana berbalik bertanya, pura-pura tidak mengerti kemana arah pertanyaan Lvy.


"Ka---kami tidak melakukan apa-apa," elak Hana, pipinya mendadak bersemu merah. Ia mengingat apa yang Cloud lakukan di penginapan, tepatnya saat Cloud menunjukkan perhatian, dan cintanya lewat sentuhan-sentuhan memabukkan yang sulit Hana lupakan. Kembali, jantung Hana berdetum dengan keras, dan cepat. Apalagi saat ia mengingat di pantry tadi ketika bibir Cloud menjelajahi setiap inchi leher jenjangnya, dan ia tidak menolak.


Lvy lagi-lagi terkekeh. "Benarkah?" tanya Lvy semakin ingin memojokkan Hana. "Lantas, ini apa?" tanyanya seraya menekan jari telunjuk di area berwana keunguan itu di leher Hana. Hana dengan segera menepis tangan Lvy.


"Bukan apa-apa." Hana menoleh sekilas, hanya beberapa detik lalu ia melengos, menghindari tatapan penasaran dari sahabat kecilnya.


"Astaga Hana!" pekik Lvy kemudian. "Kau masih saja mengeles. Apa ini tanda cinta dari Cloud?" tanyanya lagi.


"Jika kau tau, mengapa kau malah bertanya!!" keluh Hana, maniknya mendelik, kesal. Kalimatnya barusan membenarkan pertanyaan Lvy. Ia tidak bisa mengelak, karena bukti sudah dilihat sahabatnya itu. Beruntung, Ayden tidak menyadarinya.


Lvy pun tertawa lagi. "Phff...Oh ya ampuun, apa dia juga menerkammu?" lagi, Lvy melayangkan pertanyaan absurd, privasi, dan Lvy sudah penasaran akut. Ia terniat ingin memojokkan Hana dengan pertanyaannya.


"Menerkam??" timbul kerutan halus, saat Hana menukik kedua alisnya. Lvy memainkan kedua alisnya narik turun, menunggu seraya menunggu jawaban Hana.


"Kekasihku bukan singa, Lvy. Oh astaga, " Hana menepuk keningnya. "Kemana sahabatku yang dulu sangat polos. Kurasa fikiranmu harus di sucikan kembali."


🍂🍂🍂


Dilain tempat...


Kendaraan yang di kendalikan Mariana memasuki kawasan pemukiman yang terletak di pinggiran kota Philadelphia. Setelah lama mencari, akhirnya ia menemukan alamat yang diberikan Cloud. Mariana memberhentikan kendaraanya di tepi jalan. Air wajahnya terlihat semakin cemas.


Benarkah ia benar-benar siap jika ucapan Cloud benar mengenai tentang Chalk yang mempunyai seorang putri dari perbuatan hina? Mariana menghembuskan napasnya lalu ia pun turun dan mendekati seorang wanita yang sedang menyiram bunga setelah ia menutup pintu mobilnya. "Selamat pagi, nyonya." sapa Mariana, dengan garis bibirnya membentuk senyuman.


Nyonya Maria meluruskan tatapanya, memperhatikan sosok wanita yang berbalut dress berwarna hijau gelap di hadapannya. Wanita elegant yang tidak asing. Ah, ia mengingat wanita ini pernah muncul di televisi, dan surat kabar. Eh benarkah... Nyonya Maria kembali ragu.


"Apa benar ini kediaman nyonya Maria?"