Reckless

Reckless
MENUNTUT PENJELASAN



Aku kasih bab yang mendebarkan dulu sebelum masuk bab Cloud. Semoga pada ga jenuh.. 🤭 dan mintol tinggalkan like n komentar kalian ya. 😘 Saranghae


...****************...


"Aha..." Hana segera berbalik dan keluar dari kamarnya menuju dapur setelah sekelebat ide muncul di fikirannya. Lima menit kemudian, ia sudah kembali dengan sebuah wajan dan sepatula yang berada di genggaman tangannya. Hana mengukir bibirnya berbentuk senyuman. "1... 2... 3..."


PRANK... PRANK... PRANK..


"KEBAKARAN... KEBAKARAN... HELP...HELP." Hana berteriak didekat Ayden yang masih terlelap. Sontak, bunyi penyatuan ataran wajan dengan sepatula, serta suara Hana yang memekik membuat Ayden melompat dari kasur. Selamat ia tidak jatuh.


"Dimana... Kebakarannya, dimana??" tanya Ayden panik, mata legam yang di warisi dari Ayahnya, kelimpungan mencari titik api, dan belum menyadari jika ia sedang dikerjai adiknya.


Hana pun cekikikan dibuatnya. Sumpah demi Tuhan, expresi saudaranya itu sangat- sangat menggelikan. "Kenapa kau tertawa, hah?" nafas Ayden memburu. Dia baru bangun, dan belum sepenuhnya sadar.


Hana tidak bisa menahan rasa geli di area perutnya, ia semakin cekikikan. Seandainya ponselnya tidak kehabisan daya, sudah pasti ia akan merekam kekonyolan saudaranya itu. Lihatlah, dia memakai boxer bercorak loreng-loreng dengan warna kuning. Oh astaga.


"Kau mengerjaiku??" tanya Ayden, sorot matanya menajam, rahangnya pun ikut mengeras. Di dapatinya wajan dan sepatula yang masih berada di genggaman Hana.


Hana tidak takut dengan sorot mata Ayden yang nyaris keluar itu. Gadis itu, berusaha menahan tawa namun tawanya tidak mereda sama sekali.


"Kau... " Ayden menyentil kening adiknya.


"Auw.. " Hana meringis, mengusap keningnya. "Sakit."


"Apa yang kau lakukan di kamar ku?" tanya Hana.


"Kau tidak lihat aku sedang apa? T-I-D-U-R. " Ayden kembali menaiki tempat tidur adiknya, kemudian ia merebahkan tubuhnya dengan kedua tangan yang menjadi bantalannya.


"Hey, bangunlah...Kau punya kamar sendiri!!" protes Hana, semakin geram dengan saudaranya itu.


Ayden tidak menggubris ocehan Hana, justru ia memejamkan kembali matanya untuk melanjutkan tidurnya.


"Menyebalkan... " gerutu Hana, seraya meletakkan dua perabotan dapur serta tas diatas sofa kamarnya. Hana pun duduk, menyilangkan kakinya di atas tempat tidur, setelah ia mengisi daya pada ponselnya.


"Ada apa denganmu, hah? Kau terlihat sangat frustasi. Apa karena Alana?"


"Hmm... " gumam Ayden, dengan matanya yang masih terpejam. Bayangan saat di mobil kemarin, meliputi fikirannya. Semua, semua yang terjadi diantara mereka, bagaimana Alana membalas setiap panguutan bibirnya, bahkan Ayden merasakan sentuhan jemari Alana mengcengkram kuat rambutnya, masih terasa membekas.


Kejadian kemarin tidak mudah untuk di lupakan olehnya. Namun, gadis itu begitu mudah meminta melupakan semua yang telah terjadi dan meminta untuk tidak menemuinya lagi. Yang benar saja.


Sampai saat ini, Ayden tidak bisa menerima kalimat yang keluar dari mulut Alana. Tidak sama sekali. Hatinya terasa sakit, namun ada satu pertanyaan yang menggelayut di benaknya. Apa alasan dari ucapan gadis itu? Ayden tidak tau sama sekali.


Benar dengan komentar netizen yang memesona sejagad halu, perjuangannya tidak boleh berakhir sampai disini. Dia tidak boleh menyerah untuk mendapatkan hati Alana, terlebih ia sudah mengetahui jika status Alana masih singel.


Ayden segera bangun dari posisinya. "Aku harus menemuinya," ucapnya tiba-tiba. Tanpa pertimbangan lagi, Ayden memutuskan untuk menemui Alana dan meminta sebuah penjelasan mengapa dia harus menjauhinya.


"Menemui siapa?" tanya Hana yang dibuat bingung oleh Ayden. Bukannya tadi, saudaranya itu seperti pria frustasi, dan dalam sekejap dia bersemangat dan berenergi.


Nah kitu....🤭


🍂🍂🍂🍂



Alana menarik gagang pintu, dan melesat keluar dari kamar mandi menuju walk in closet. Gadis itu melangkah memakai badrobe, rambutnya yang basah terbungkus dengan handuk.


"Kau sudah selesai mandi?"


Alana menoleh ke arah sumber suara yang tidak asing di pendengarannya. Alana tersentak, saat matanya bertemu langsung dengan sosok yang memiliki tatto memenuhi di lengan kokohnya.


"Kenapa kau bisa berada di kamarku?" tanya Alana gusar.


Pria itu berdiri. Menatap Alana, sambil mengunci tatapannya pada Alana. Lalu ia pun melangkah pelan. "Dengan memanjat tangga yang berada di taman," jawabnya santai, namun tatapan pria itu membuat Alana terintimidasi.


"Aku berusaha menemuimu Alana dengan mendatangimu, namun kau meminta pelayan untuk berbohong mengatakan jika kau tidak berada di rumah."


Ya, sebelumnya Ayden memang datang untuk menemui Alana. Setelah pelayan mengatakan jika Alana tidak berada di rumah, Ayden berniat pulang. Namun, ia urungkan. Ia memutuskan untuk menunggu Alana di luar pagar. Satu jam lamanya ia menunggu, membuahkan hasil. Ia melihat bayangan Alana tengah menutup tirai.


"Lalu, untuk apa kau menemuiku??" tanya Alana semakin gusar.


"Aku berada disini untuk meminta penjelasan, kenapa kau melarang ku untuk menemuimu? Apa kesalahanku, Alana? Apa karena aku menciuummu, hmm?"


Glek... Alana menelan salivanya, membasahi kerongkongannya yang mendadak terasa kering. Alana mengingat moment kemarin dan Ia mengakui jika apa yang dilakukan Ayden begitu manis. Ya, ciiumaan itu berhasil membuat dirinya tidak sadar karena ia benar-benar menikmati sampai terlena.


"Sebaiknya kau keluar dari sini, sebelum aku berteriak bahwa ada penyusup yang masuk ke dalam kamarku!" ancam Alana, ia terpaksa harus memundurkan langkahnya.


"Lakukanlah Alana, yang pasti aku tidak akan beranjak dari sini sebelum kau menjelaskan alasannya. " Suara bariton berat itu terdengar lantang, menantang serta menuntut. Mulutnya terkatup membentuk garis lurus membuat rahangnya mengerat. Sialnya, membuat wajahnya semakin tampan.


Jantung Alana semakin berdetak penuh kewaspadaan. Pria itu tidak menghentikan langkahnya. "Berhentilah Ayden!" reflek, tangan Alana bergerak menarik kerah badrobenya, menutupi garis yang sedikit nampak diatara sisi baju mandi yang ia pakai.


Ayden semakin menyudutkan Alana dengan terus bergerak. Mengikis jarak yang tersisa, sampai langkah Alana berhenti saat punggungnya membentur dinding. "Jangan mendekat lagi, Ayden!!" perintah Alana tanpa menatap mata legam milik Ayden. Alana benar-benar tersudut, dan tidak bisa bergerak.


Ayden mencondongkan wajahnya ke samping. Napasnya yang berembus dari hidungnya, memburu, menyapu kulit wajah Alana. Sehingga, membuat Alana memejamkan matanya merasakan sentuhan di pipi kanannya.


"Jawablah Alana?" Ayden berbisik dengan suara nyaris tidak terdengar. "Mengapa kau tidak mengizinkanku untuk menemuimu?" tanyanya lagi.


Alana memberanikan dirinya untuk kembali menatap pria yang berada di depannya dengan kedua maniknya bergetar dan nanar. "Karena aku menyukai pria yang menjadi kekasih adikmu, Ayden."


Eng Eing Eng...🤣 gantong dulu selama seminggu... byeee


🏃‍♀️🏃‍♀️🏃‍♀️🏃‍♀️🏃‍♀️ kaburr sebelum digrebek masaaa...