Reckless

Reckless
CLOUD & CHALK (1)



"Selamat menikmati makan malam kalian, dan selamat anniversary." Tutur Cloud kepada sepasang suami istri yang menjadi pelanggan tetap. Sikap ramahnya membuat sepasang suami istri pun turut tersenyum.


Memandang sepasang suami istri itu, Cloud memimpikan hubungannya dengan Hana seperti mereka. Hidup bersama, dan menua bersama. Tentunya, dengan sebuah ikatan sakral yang semakin mempererat hubungannya bersama Hana, dan menjadikan Hana satu-satunya teman hidupnya.


Lagi, Cloud melebarkan senyuman tanpa menyadari jika ada dua sosok pria baru saja masuk ke dalam restoran dan salah satu dari mereka melirik ke arahnya. Chalk. Pria itu mewujudkan niatannya untuk merekrut Cloud menjadi anggota kartel yang di usungnya bersama sahabatnya. Rekam jejak dari putra Justine, begitu menarik perhatiannya.


Cloud pun berlalu, dan berencana untuk mengambil pesanan yang ia akan antar berikutnya.


"Biar aku saja Cloud," Andrew tiba-tiba muncul dari belakang, mengambil alih tugas Cloud. "Kau dipanggil Tuan Barnes," ucapnya melakukan perintah atasnya ketika ia mengambil tepung di gudang penyimpanan.


Cloud tediam, otaknya memperoses ingatan yang pernah di laluinya. Pada saat itu, aku menemui Tuan Barnes berada di gudang penyimpanan bahan makanan, dan sesampainya aku disana Tuan Barnes menerima sambungan dari Tuan Parker yang memintaku untuk menemuinya.


"Beliau berada digudang penyimpanan bahan makanan Cloud, segera temuilah." Lanjut Andrew.


Cloud pun menemui Tuan Barnes. Seperti dalam ingatannya, Tuan Barnes berada di gudang penyimpanan dan nampak pria itu sedang berbicara melalui ponsel selulernya. Cloud termangu, masih berdiri di depan pintu yang terbuka.


"Cloud... Kau sudah datang rupanya." Ucap Barnes setelah menyadari sosok pemuda yang ia panggil sudah berada disana. Pria itu mengakhiri panggilan tersebut."Masuklah."


Cloud mendatangi Tuan Barnes, dan berhenti di depan pria yang kerap memberikannya bantuan. "Ada apa Tuan, anda mencari saya?" kalimat tanya yang pernah ia ucap terdahulu, Cloud ulangi lagi.


"Aku ingin memberitahu jika pria yang membantu melunasi hutangmu sedang makan malam disini. Baru saja ia menghubungiku, memintamu untuk mendatanginya."


Cloud menarik napas dalam. "Baik Tuan..."


Cloud akhirnya beranjak dari sana setelah mengetahui dimana keberadaan Chalk dari Barnes dan berpamitan. Cloud menggiring kakinya penuh kesiapan untuk menghadapi pimpinan kartel tersebut. Tekadnya tidak ingin terjerumus dalam lingkaran hitam yang pasti akan membuatnya hancur, dan ia tidak bisa menghindar, karena Cloud mengetahui jika pria yang akan ia hadapi seorang yang ambisius. Bukan seseorang yang begitu mudah menyerah jika keinginannya tidak terpenuhi. Pria itu akan melakukan segala cara untuk memenuhi keinginannya.


Cloud sudah berada di ruangan khusus yang memang di reservasi pria itu. Maniknya langsung tertuju dengan dua orang pria yang telah menunggunya.


"Selamat malam Tuan," nada suara Cloud begitu tegas, ia sedikit membungkuk untuk memberi penghormatan.


Chalk menarik kedua sudut bibirnya. Pemuda yang di harapkan kedatangannya, sudah berada di dekatnya. Dia mirip sekali dengan Justine.


"Malam Nak," Chalk berdiri, dan mengulurkan tangannya yang dibalas Cloud. "Duduklah... "


Cloud pun duduk di antara Chalk, dan yaa Ace. Cloud begitu mengenal pria yang memakai jaket kulit ini. Dahulu, awal Cloud bergabung dengan kartel Black Eagle, Ace adalah seseorang yang menawarkan diri untuk melatihnya cara menggunakan pistol dan dia juga pernah membantu membersihkan luka pada tubuhnya akibat penyerangan yang dilakukan oleh Red dragon.


Cloud mengingat pria itu pernah berkata, jika Cloud mengingatkannya pada adik satu-satunya yang tewas saat adiknya mengorbankan diri untuk menggantikan posisi Ace yang ketahuan merampok di sebuah masion milik orang terpenting di kota Mexico. Adik Ace mendapatkan luka tembak bagian jantungnya, sehingga membuat dia mati di tempat.


Benarkah demikian?? Sedangkan saat itu Justine sudah mengetahui jika Chalk memanfaatkannya untuk meminta Justine membeli tanah yang dijadikan sebuah mansion. Setelah bangunan mansion itu berdiri yang ternyata berfungsi sebagai pabrik pembuatan kokain, Chalk dengan sengaja mengatasnamakan kepemilikan masion atas nama Justine. Tentunya tanpa sepengetahuan Justine. Chalk merekayasa tanda tangan pria malang itu.


Megetahui semua perbuatan buruk sahabatnya, Justine berpura-pura menjadi bagian dari kartel Black Eagle. Ia membuat misi untuk menghancurkan sahabatnya dan juga bisnis yang akan merusak manusia. Namun, keberuntungan tidak memihak pada dirinya setelah ia menuntaskan misinya. Pria bernama Aisley yang menjebaknya. (Part judul Black Eagle)


Cloud memperhatikan cara Chalk yang pandai berkata-kata, dan ia sangat ragu. Cloud berjanji setelah ini, ia akan menanyakan perihal tentang Chalk kepada ibunya. Ibunya, wanita yang bersikeras menahan Cloud untuk tidak dekat dengan Chalk. Pasti ibu mengetahui tentang Tuan Parker.


"Oh ya, perkenalkan ini adalah kaki tanganku, Ace."


"Archer, kau bisa memanggilku dengan Ace." Ace pun juga mengulurkan tangannya.


"Cloud... " Kata Cloud, seraya membalas jabatan tangan pria yang duduk berhadapan dengannya.


Ace tersenyum ramah. "Senang bisa berkenalan denganmu anak muda." Cloud hanya mengangguk seraya tersenyum.


"Tuan, aku ingin mengucapkan banyak terimakasih, atas bantuan anda. Sesegera mungkin aku akan menggantinya."


"Tidak perlu, Nak. Kau adalah putra dari sahabatku. Jadi hal yang wajar jika aku membantumu. Lagipula, mendiang Ayahmu telah banyak membantuku."


"Terimakasih, Tuan. Aku tidak akan melupakan kebaikanmu." Ucap Cloud lagi.


Nampak para pelayan datang membawa baki berisi makanan. "Ah syukurlah, pesanan sudah datang, sebaiknya kita makan, aku sangat lapar."


Pelayan yang berjumlah 2 orang itu meletakkan berbagai menu pilihan Chalk diatas meja. Pesanan itu tidak hanya untuk berdua, Chalk juga memesan makanan untuk Cloud. Benar-benar dia telah mempersiapkan semua.


"Mari kita makan," seruanya. Chalk maupun Ace menikmati makan malam. Sedangkan Cloud sebaliknya, ia terbelenggu dalam ingatan- ingatan yang pernah dialaminya.


"Permisi Tuan, aku ingin pergi ke toilet. " Cloud bergegas meninggalkan meja. Setelah berbelok, Cloud memberhentikan langkahnya. Ia merasakan firasat yang buruk akan terjadi pada dirinya. Cloud pun bersembunyi, lalu ia mengintip dari balik dinding.


Chalk nampak berbicara dengan Ace. Tidak lama kemudian, Ace mengeluarkan sebuah bungkusan kecil dari dalam saku jaketnya.


Bungkusan apa itu??


Dalam sekejap, Cloud membuka matanya lebar. Ace memasukan serbuk berwarna putih ke dalam minumannya.