Reckless

Reckless
EILARIA



"Apa benar ini kediaman nyonya Maria?" tanya Mariana, memastikan.


"Iya benar, aku adalah Maria." Jawabnya membuat Mariana bertambah cemas dengan detak jantungnya semakin berpacu kian cepat. "Aku Mariana, perwakilan anggota dari yayasan sosial." Jelasnya sembari mengulurkan tangan kanannya.


Tebakkannya ternyata benar jika wanita itu yang pernah ia lihat di layar kaca. Nyonya Maria pun turut tersenyum selaras menyeka tangan di pakaiannya, lalu membalas uluran tangan Mariana. "Senang bisa bertemu anda, nyonya."


"Kedatangan ku kesini, atas permintaan seseorang. Dia sedikit menceritakan perihal--- maaf, keluarga anda kepada ku, nyonya. Bisakah kita berbicara sebentar nyonya, itupun jika anda tidak sibuk."


"Tentu bisa, nyonya."


Setelah perkenalan singkat tadi, Mariana sudah menduduki sofa di dalam rumah sederhana milik nyonya Maria.


"Maaf telah membuat anda menunggu lama, nyonya." Kata Nyonya Maria sungkan. Ia memindahkan, dan meletakkan cangkir berkeramik putih dari baki ke atas meja kecil yang terletak diantara sofa. Lalu, ia pun duduk di sofa tepat di samping Mariana.


Mariana mempertemukan, dan menggesek kedua tanganya diatas pangkuan untuk menghapus kegelisahannya. "Aku mendapat informasi jika anda mempunyai seorang cucu perempuan berusia 9 tahun, apakah itu benar nyonya?"


"Iya nyonya, itu benar. Aku mempunyai seorang cucu perempuan."


"Apakah nyonya hanya tinggal berdua disini?" nyonya Maria pun mengangguk. "Lalu dimana anak anda?"


Nyonya Maria tersenyum getir. "Putriku sudah tiada, nyonya."


Nyonya Maria membuang wajahnya ke bawah, dan mengusap air matanya. Ia mengingat putri satu-satunya, Eilaria.


"Kenapa Eilaria belum pulang?" Maria membuka tirai, dan melihat luar dari jendela rumahnya. Sudah lewat dua jam dari pulang jam kerja, Eilaria tidak menunjukkan batang hidungnya.


Ia melangkah untuk mencoba menghubungi putrinya. Hingga terdengar ketukan pintu, Maria bernapas lega. Ia yakin jika yang datang adalah putrinya.


Sesegera Maria memutar arah. Ia membuka kunci, dan pintu rumahnya. "Apa terjadi denganmu nak??" tanya Maria begitu terkejut mendapati Eilaria berdiri di depan rumah dengan penampilan berantakan. Kemeja, dan rok yang dipakai Eilaria terdapat sobekan. Bahkan bibir ranumnya terdapat memar.


Maria dalam keadaan cemas, ia merangkul tubuh putrinya yang bergetar, mengajaknya ke dalam kamar. "Duduklah, nak." Gadis malang itu duduk terdiam, tatapannya sayu, dan kosong.


Maria memperhatikan lagi kesulurahan penampilan putrinya. Ia pun meneteskan air matanya, hatinya terasa sangat sakit. "Siapa yang telah melakukannya, nak?"


Eilaria menatap ibunya, air matanya pun bergulir. "I-ibu... " bibir pucat Eilaria bergetar.


Tidak bertanya lagi, Maria mengerti jika putrinya baru saja mengalami pelecehaan. Ia membawa putrinya masuk ke dalam dekapannya. Eilaira pun terisak. "Maafkan aku ibuu, aku tidak bisa menjaga diriku. Pria itu---Pria itu telah menodai ku, ibu."


Nyonya Maria terdiam sebab kenangan pahit tersebut melintas dikepala.


"Maaf aku tidak bermaksud membuka... "


"Tidak apa-apa, nyonya."


"Bisakah anda menceritakan apa yang terjadi dengan putri anda?"


Mariana menghembuskan napas, dan menatap dengan sendu. Ia turut masuk ke dalam kesedihan yang dirasakan nyonya Maria. Ia pun merapat, dan merangkul pundak nyonya Maria.


"Aku melaporkan pelecehan yang dialami oleh Eilaria ke pihak kepolisian. Namun, kasus putriku tidak ditanggapi serius. Hingga satu bulan berikutnya, Eilaria dinyatakan positif hamil. Aku memintanya untuk meminta pertanggungjawaban kepada pria itu, Eilaria menolak karena ia tidak ingin terjadi apa-apa dengan janinnya. Lalu, saat kandungannya memasuki 32 minggu, bayi itu pun lahir. Dan--- dan kami harus dihadapi sebuah kenyataan, jika Jessy, cucu ku mengalami kebutaan permanen."


"Oh Ya Tuhan," llirih Mariana. Mariana menyeka air matanya, setelah ia menelaah setiap kalimat dari bibir nyonya Maria yang bergetar.


"Sejak itu, putriku memutuskan kembali bekerja untuk membiayai Jessy. Namun musibah kembali menimpanya, Eilaria--- Eilaira mendapatkan pelecehan lagi untuk ke dua kalinya." Isak tangis nyonya Maria memecah suasana ruangan yang tenang. Mariana pun turut serta.


"Setelah kejadian itu, Eilaria mengalami depresi. Dia nyaris membunuh putrinya. Sebab itu, dengan berat hati, aku memisahkannya dengan putrinya. Aku membawanya ke rumah sakit, dan tidak lama kemudian Eilaria mengakhiri hidupnya disana." Nyonya Maria kembali terisak, begitu juga Mariana. Maria mengusap tubuh nyonya Maria yang bergetar hebat.


Lantas bagaimana laporan kasus pelecehan yang dialami Eilaria? Selama sembilan tahun lama kasus pelecehan itu tidak mendapatkan kejelasan. Bahkan aparat penegak hukum menutup mata dengan kasus tersebut.


"Chalk Palker...Ya pria itu, dan ketua kepolisian Aisley harus mempertanggungjawab atas kematian putriku."


Chalk.. Mata hijaunya terbelalak. Mengkristal dengan air mata. Ya Tuhan... Napas sesak terlepas dari mulut Mariana. Kelopak matanya pun bergetar, dadaanya terhimpit dengan kenyataan pahit yang ia harus terima.


"Nyonya Mariana, bisakah aku meminta bantuan mu?"


Mariana pun mengangguk samar. "Te--Tentu, nyonya... " tanganya bergetar merangkup tangan nyonya Maria.


"Aku ingin kasus putriku bisa diusut, nyonya. Apakah kau bisa membantuku?"


Mariana terdiam beberapa detik. "A-aku akan..."


Ucapannya terhenti, saat didapati siluet gadis kecil yang baru saja datang memakai seragam sekolah.


"Nenek, aku pulang." pekik gadis itu seraya berlari mendekati neneknya, nyonya Maria. "Aku mendapatkan nilai sempurna nenek, lihatlah." tutur Jessy, sambil menunjukan kertas yang dibawanya.


Mariana tidak melepas pandangnya. Melihat wajah Jessy secara dekat, membuat napasnya semakin terasa sesak dan kedua matanya berkunang. Wajah gadis itu sangat mirip dengan Chalk.


Mariana tertuduk, bersamaan itu cairan yang mengkristal di matanya pun turun menelusuri pipinya. Mariana, menutup mulutnya dengan satu tangannya.


"Nenek, apa bibi ini teman nenek?"


Suara gadis itu terdengar. Mariana mengusap air matanya lalu kembali ia menatap Jessy. "Ya kau benar, aku teman dari nenek mu nak. Boleh aku mengetahui siapa namamu, hum?"


"Jessylia Grecy, bibi. " Jessy mengulum senyumannya.


Bukan hanya wajahnya yang mirip Chalk, bahkan senyuman gadis ini.... Oh ya Tuhan...


Yang lupa -lupa ingat tentang Eilaria, bisa di cek lagi bab broken dan kartel black eagle. Aku pernah bahas dikit-dikit di kedua bab itu. 😅


Jangan lupa tinggalkan like n koment kalian ya .. Terimakasih 😘