Reckless

Reckless
KITA SAMA



Masih ada yang menunggu?? 😅 maap atas keterlambatan updatenya, lagi mode sibuk. Tinggalkan like and jejak kalian. Terimakasih


"Te-terima kasih, dan bangunlah Ayden." Ayden membasahi bibirnya, ia tersenyum. Senyuman samar, sangat tulus. Berbeda dengan senyum sebelum-sebelumnya yang cenderung nakal, dan menggoda.


Reflek Alana membalas senyuman pria itu dengan senyumannya yang berhasil membuat seorang Ayden terkesima lagi. Tanpa berkedip sekalipun, Ayden menikmati pancaran wajah cantik Alana dari bawah.


Ayden pun menghela napasnya. "Senyumanmu bagaikan embun pagi yang sangat menyejukkan, Alana." Puji Ayden tiba-tiba. Berharap, Alana akan berbunga-bunga dan tersipu malu.


"Ck, " Alana berdecak. "Dasar pria perayu. Sudah berapa korban wanita yang termakan rayuanmu yang menggelikan itu?" nyatanya kalimat Ayden tidak mempengaruhi Alana sama sakali. Usahanya sia-sia untuk membuat Alana tersipu.


Ayden terkekeh. "Tidak terhitung, Alana. Tapi hal itu aku lakukan sebelum bertemu denganmu." Ayden menjawab sebenar-benarnya. Ia masih di posisinya, menyentuh pipi Alana kini.


"Aku berkata yang sesungguhnya, dan kau harus percaya." Ucapnya sekali lagi seraya membelai pipi Alana yang kini membalas tatapannya antara percaya atau tidak percaya. Ia bersikeras meyakini Alana dengan sorot matanya.


Ayden memang membuktikan keseriusannya terhadap Alana. Setelah pertemuan pertama dengan gadis itu, Ayden tidak pernah lagi menggoda wanita untuk hiburannya. Hiburan dalam arti hanya menggoda, tidak ada permainan diatas ranjang. Terakhir ia melakukannya bersama wanita pertamanya, Laurent. Namun kandasnya hubungannya dengan Laurent membuatnya membatasi diri.


Bukan hanya itu saja, Ayden juga meninggalkan kesenangannya, seperti menghabiskan kesehariannya berkumpul dengan dua sahabatnya di bar. Sekarang tidak lagi. Setelah pulang bekerja Ayden memilih menghabiskan waktu di rumah. Saat di Atlanta pun demikian terlebih dia sudah berkomunikasi dengan Alana. Dunianya sudah di ambil alih oleh Alana. Si gadis pertama yang membuat Ayden terpukau. Jauh dari seleranya terdahulu, menyukai wanita yang berpenampilan seksi menggoda.


Perubahan pada Ayden membuat kedua sahabatnya kerap menggodanya sebagai pria bucyiin, semua karena perasaannya kepada Alana yang membuat ia berubah semaksimal mungkin. Perubahan yang sangat baik, meskipun kerap dia menunjukkan sisi nakalnya kepada Alana.


"Baiklah... Aku mempercayaimu. Tapi hanya 5 persen." Alana mengerling jenaka.


"Kenapa hanya 5 persen?" Ayden menukik kedua alisnya, memprotes.


"Aku mengetahui tentang dirimu, Ayden. "


Ayden menarik satu sudut kanan bibirnya. "Kau mencari tentangku, rupanya."


"Eiiuuhh, tidak pernah sama sekali. Aku mengetahui dari kedua temanku yang kerap membicarakanmu, stalking akun media sosial mu, dan aku harus menulikan kedua telingaku saat mereka memujimu secara berlebih-lebihan."


"Lihatlah dia begitu rupawan bukan. Bisepnya... ouhh rasanya aku ingin merebahkan kepalaku disana, dan meraba ukiran yang ada di lengan kokohnya. Ulala, roti sobeknya menggiurkan." Alana mengikuti ucapan kedua temannya, membuat Ayden tergelak.


"Kau jadi fantasi mereka, astaga." Alana menepuk keningnya mengingat kelakuan kedua temannya. "Omong-omong kau tidak merasa sakit saat membuat tatto sebanyak itu lenganmu?" Alana melirik ke arah lengan Ayden yang nampak, ia meneguk salivanya. Lengan kokoh Ayden sangat kekar.


"Tidak sesakit rasanya ditolak dirimu Alana."


Alana mendesis. "Penolakan tidak sesakit ditinggal sedang sayang-sayangnya, Ayden."


"Kau menyindirku?" tanya Ayden.


"Tidak, aku pernah mengalaminya." Jujur Alana. Ini kali pertama Alana membahas privasinya kepada Ayden.


"So, kau pernah mempunyai seorang kekasih?"


"Berarti kita punya masa lalu yang nyaris sama. Kau ditinggalkan mantan kekasihmu, dan aku meninggalkan mantan kekasihku karena berselingkuh dengan temanku. Bagaimana jika kita bersatu?"


"Jangan memulai lagi Ayden. Bangunlah, kau tidak lelah duduk dibawah."


"Tidak... Justru memandang wajahmu membuat rasa lelahku hilang." Goda Ayden, dengan senyuman khasnya. Lalu, kembali ia memainkan jemarinya kali ini di bibir bawah Alana dan kemudian ia menyatukan bibirnya disana, bergerak dengan tempo yang sangat pelan, seraya merasakan rasa manis dari bibir Alana. Ini sangat luar biasa sangat nikmat.


Ayden menaikan temponya. Ia bahagia, Alana membalas pangutannya. Bahkan jemari lentik Alana, mencengkram rambutnya dari belakang. Ayden maupun Alana sama-sama menikmati dengan mata yang terpejam.


Tok... Tok... Tok.... "Nona Alana... "


Keduanya sontak melepas pangutan diantara mereka bersamaan dengan pintu ruangan terbuka. "Ma-af Nona," ucap gadis yang berkerja sebagai karyawan di butik Alana. Gadis itu tertunduk ikut tersipu melihat apa yang terjadi antara atasannya dengan seorang Ayden Pastone.


"Masuklah Mya," Alana membuang rasa malunya. Gadis itu bisa mengendalikan diri, bersikap profesional ditengah jantungnya berdebar hebat, dan napasnya masih memburu karena ciuuman Ayden yang nyatanya sudah candu untuknya. Pria itu selalu menang banyak , dan Alana selalu kalah karena tidak bisa menolak serangan nikmat yang membuat keseluruhan tubuhnya ikut meremang luar biasa. Adrenalinnya terpacu. Sungguh Ayden paling pandai mendominasi, meluluhkan pertahanan Alana.


Mya atas persetujuan Alana, masuk dengan membawa sampel dress yang siap dipasarkan dalam waktu dekat. Gadis itu tersenyum kikuk, memandang dua orang itu dengan rasa bersalah karena telah menganggu keintiman mereka.


Ayden kembali duduk diatas sofa, dan memperhatikan Alana yang sedang memberikan penjelasan kepada karyawannya. Pria itu lagi-lagi tersenyum, menganggumi sosok Alana dari sorot maniknya. Benar kata dua sahabatnya, Ayden menjadi sosok "pria bucyiiin" mengagumi satu-satunya putri Harry Blade. Ayden sudah benar-benar jatuh sampai ke dasar pada pesona gadis berusia 23 tahun itu.


"Sorry telah membuatmu menunggu lama," tutur Alana tidak enak hati.


"Tidak apa Alana."


"Sebaiknya kita jalan sekarang Ayden." Usul Alana setelah Mya keluar dari ruangannya. Gadis itu mengambil tas diatas meja.


"Oke! Adakah tempat yang ingin kau datangi sebelum kita ke Magic Gardens? ini masih pukul dua siang," tutur Ayden setelah ia memeriksa jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


Alana nampak berfikir. "Eghm, sebenarnya aku ingin membeli bahan di kawasan fashion district."


"Ayo, kita akan kesana terlebih dahulu." Ayden meraih tangan Alana, dan menggenggam erat.


"kau sungguh tidak keberatan??"


"Tidak sama sekali Alana, dengan senang hati aku akan mengantarmu."


"Thank you, Ayden." Ucap Alana. Ia menyematkan tali tas di bahunya. Lalu, keduanya pun keluar dari ruangan secara bergantian.


"Ini sangat cocok untukku, pasti Arthur menyukainya." Kata seorang wanita yang sedang meneliti dress yang berada digenggamannya. "Aku ingin mem.... "


Ucapanya terhenti saat maniknya melihat Ayden sedang menggandeng seseorang. "Ayden.... "