
"Cloud," Hana mendengar suara seseorang yang memanggil Cloud dengan tidak memindahkan pandangannya, masih menatap nanar kekasihnya.
"Eliza, " hingga Cloud membuka suara membalas sapaan itu membuat Hana mengernyitkan keningnya. Ia melihat senyuman Cloud tiba-tiba hadir, menyambut kedatangan gadis itu, dan mengabaikan pertanyaannya barusan.
Rasa penasaran mengisi kegelisahannya. Hana pun berbalik, menatap sosok gadis itu yang lihai melangkah semakin mendekat ke arah mereka.
"Kau sudah menunggu lama?" suara gadis itu mengalun lagi, terdengar jelas di indra pendengarannya. Kini Hana memahami jika Cloud membuat janji tidak hanya kepadanya saja, tetapi dengan gadis lain. Siapa? Hana masih bertanya-tanya.
"Tidak sayang, " jawaban Cloud membuatnya tersentak lagi. Hana membulatkan matanya nampak bergetar. Ia tidak percaya ini. Hatinya bagaikan tersayat dengan sadis. Namun, yang ia lihat ini adalah nyata, dan kalimat Cloud layaknya garam yang dibubuhi di atas lukanya.
Berhari-hari lamanya ia menunggu kabar Cloud dalam kegelisahan, selama itu juga rasa rindunya semakin terasa dengan selalu berharap Cloud segera menghubunginya. Malam tadi ketika ia sudah terlelap, Tuhan mengabulkan harapannya. Cloud membalas pesannya, dan memintanya untuk bertemu. Pertemuan yang selalu Hana tunggu.
Sebuah pertemuan untuk meluapkan rasa rindu harusnya menjadi momentum yang sangat bahagia untuknya. Lantas, apa yang terjadi sekarang?
Napas sesak dibebaskan dari mulutnya. Hana menggerakkan jemarinya, meremas dress yang dipakainya.
Cloud membuktikan jika dia benar-benar mempermainkannya. Membuktikan jika dia seorang breengsek yang mengelabuinya dengan berpura-pura mencintainya.
Oh God... Apakah selama ini hanya dia yang merindukan Cloud, hampir setengah gila.
Hek.. Hana melepaskan napasnya lagi. Tubuhnya membeku menyaksikan gadis itu mencium pipi Cloud dengan mesraah, tanpa adanya penolakan dari Cloud. Bahkan kekasihnya itu memamerkan senyumannya tidak memperdulikan keberadaannya di sana.
Dimana perasaannya, hah?
Apakah benar, tidak ada cinta dari Cloud untuknya??
Hana tidak menyukai apa yang dilihatnya. Ia tidak terima disakiti seperti ini "Kau brengseek Cloud!! " ucapnya seraya melayangkan tamparan keras, mengenai pipi Cloud.
Plak...
"Aku membencimu!!" ucapnya lagi dengan suara parau. Hana tidak dapat menahan lagi rasa sesak di dadaanya, air matanya pun kembali mengalir, membasahi pipinya. Hana tertunduk melipat bibir bawahnya, bahunya bergerak narik turun mengikuti tempo isak tangisannya.
Melihat kesedihan dari wajah Hana, hampir saja pertahanannya melemah. Langkahnya sudah sejauh ini, dengan melawan keinginannya untuk membawa Hana ke dalam dekapannya, dan mengatakan bukan ini yang ia inginkan. Bukan.. Cloud menggelengkan kepalanya, bahkan ia sempat menengadahkan wajahnya menahan air matanya agar tidak jatuh.
Perpisahan, hal yang tidak Cloud inginkan. Tidak, tidak sama sekali. Keadaan yang telah membuat Cloud mengambil jalan seperti ini, agar Hana membencinya. Karena, ia mengetahui sedalam apa gadis itu mencintainya. Sampai saat ini Cloud masih bisa merasakannya meskipun kini Hana menatapnya dengan kekecewaan.
"Maaf... Maafkan aku Hana, " lirih Cloud yang tidak terdengar oleh Hana.
Eliza melihat kedua insan di dekatnya, ikut serta merasakan bagaimana perasaan cinta mereka sangat kuat. Apa-apaan ini...
"Oh sayang," Eliza membuka suara memulai dramanya lagi, gadis itu mengusap pipi Cloud yang memerah. Dia ingin segera menyelesaikan dramanya.
Hana pun mengusap air matanya. Lalu ia pun berbalik, menyeret kakinya, dengan air matanya yang mengalir tidak mereda. Ini sangat sakit...Keluh Hana seraya memegangi dadaanya. Ia mempercepat pergerakan kedua kakinya untuk keluar dari tempat yang menjadi saksi kesedihannya. Meninggalkan pria yang dicintainya yang telah menorehkan luka.
Cloud masih berdiri ditempatnya, menatap Hana yang semakin menjauh dari pandangannya. Cairan bening pun akhirnya mencair, melintasi pipi, dan terjatuh sampai ke pijakannya. Selamat tinggal Hana... Bisiknya, seraya tertunduk lalu ia mengusap cairan bening itu.
Kisah cinta mereka telah selesai...
"Oh ya Tuhan, ini pasti sangat menyakitkan untuk kalian berdua." Lirih Eliza yang ternyata teman satu sekolah Cloud. Satu jam yang lalu, Cloud mendatanginya, dan meminta tolong untuk membantunya setelah Cloud membagikan kisah cintanya yang terhalangb restu. Pria itu memelas, membuat Eliza menyanggupi permintaannya.
Cloud hanya bergeming, tidak merespon ucapan Eliza. Ia pun mengeluarkan uang dari dalam dompetnya, dan berniat memberikan kepada temannya itu. "Ini untukmu."
"Ambilah untuk tambahan biaya perawatan adikmu. Tolong jangan kau tolak." Cloud bersikeras memberikan uang itu. "Terimalah, " paksanya lagi.
Pada akhirnya, Eliza menerima bantuan dari Cloud. "Terimakasih Cloud. "
Cloud pun mengangguk. "Kau bisa pergi sekarang Eliza."
"Astaga, kau mengusirku." Keluh Eliza. "Baiklah, semoga kebahagiaan menyertaimu kepadamu Cloud. Dan berhati-hatilah."
Setelah kepergian Eliza, Cloud menemui Aldric, Romy, dan juga Samuel. Tiga anggota DEA yang ditugaskan Richard untuk menjaganya.
"Komandan sudah menunggumu di airport, bung. Sebaiknya kita jalan sekarang. " Ucap Aldric seraya merangkul pundak Cloud. Hari ini Cloud akan meninggalkan Philadelphiam Richard, pria yang menjabat posisi tertinggi di DEA sudah mengurus semua keberangkatan Cloud ke negara Itali dengan cepat.
Philadelphia international airport.
Tidak lama kemudian, Cloud beserta tiga anggota DEA sampai di airport, tepatnya di lapangan penerbangan. Cloud, dan juga ibunya akan menaiki pesawat pribadi milik DEA.
"Ibu, " Cloud berlari menghampiri ibunya yang sejak tadi menunggu di sana. "Cloud, Ibu sangat merindukanmu." Ibu, dan anak itu saling berpelukan melepas rindu diantara mereka disaksikan anggota DEA.
"Komandan, pesawat sudah siap landas. "
Cloud mendengar pun melepaskan pelukannya. Lalu beralih menatap ke arah ketua. "Sampai berjumpa lagi, son. Berhati-hatilah." Richard memeluk Cloud. "Terimakasih atas bantuanmu selama ini. Jika ada apa-apa kabari aku. "
Cloud mengiyakan ucapan ketua DEA itu, keduanya pun melepaskan pelukan diantara mereka. Cloud berpamitan kepada anggota DEA, kemudian ia meraih, dan menggenggam tangan ibunya.
Keduanya pun melangkah bersama menaiki anak tangga. Tepat tangga paling atas, Cloud berbalik menatap satu persatu anggota DEA. Tatapannya berakhir, pada sang Komandan. Pria itu tersenyum, memberi hormat kepadanya.
Pesawat yang di tumpangi Cloud akhirnya lepas landas. Aldric berlari melangkah mendekati atasannya. "Komandan, Abigail ingin berbicara kepada anda."
Richard mengambil alih alat komunikasi dari tangan Aldric. Lalu...
"Halo, Abigail ada apa? "
"Apa??"
.
.
.
.
Nah loh, 🤣 Kira-kira informasi apa yang di sampaikan Abigail...
Gantong dulu ya... Wkwkwkwk