Reckless

Reckless
DRAMA



Cloud mendorong pintu unit apartemennya, dan mengedarkan pandangannya untuk menelaah setiap sudut ruangan. Ruangan yang di dominasi abu-abu itu, membawa Cloud ke dalam ingatan tentang kehidupan buruknya. Mejadi saksi kelam, bagaimana dahulu ia menghabiskan waktu kesendiriannya dengan menikmati barang haram yang membuat ia sampai mengalami gangguan mental karena dampak negatif dari kecanduannya yang berkepanjangan.


Kemewahan yang di dapatkannya dari Chalk membuat Cloud meninggalkan Ibunya. Upaya demi upaya yang dilakukan Ariana untuk membuat Cloud sadar tidak membuahkan hasil. Sampai akhinya, wanita yang melahirkannya memilih untuk meninggalkannya karena menyerah.


Cloud membuang napasnya yang berat. Kemudian, ia menutup pintu dan masuk ke dalam unitnya. Ia meletakkan tasnya diatas meja dan menepati diri untuk duduk di sofa. Cloud bersandar, kemudian ia memejamkan kedua matanya.


Bak.. Buk.. Bak.. Buk.. Suara dentuman pukulan yang keras, di dalam sel yang berukuran 3x3 meter. Dengan tangan yang digantung, serta wajah yang tertutup, Cloud menunduk menahan rasa nyeri di sekitar tubuhnya yang terdapat banyak luka memar akibat dari pukulan.


"Hentikan!" salah satu polisi berteriak, lalu mendekat ke arah Cloud. Menggerakkan tangannya, polisi itu menarik penutup yang menutupi wajah Cloud. "Hey pecundang! Banguunlah." Polisi itu mengguyur Cloud dengan air mineral yang berada di tangannya. Cloud bergerak, membuka kedua matanya yang berat dengan perlahan. "Kau dibebaskan." ucap polisi itu kemudian.


Cloud membuka matanya, dengan rahangnya mengetat. Kejadian penangkapan pada dirinya yang terjadi waktu itu adalah ulah Chalk. Karena kecanduannya yang berkepanjangan terhadap narkobaa, Chalk membuangnya.


Cloud dijadikan umpan oleh pria itu dengan memberinya tugas membawakan Charlie ke markas gangster Oliver. Cloud menerima tugas itu tanpa rasa curiga kepada sang ketua. Seperti biasa Chalk memberi iming-iming yang membuat Cloud tergiur, termaksud memberikan Charlie yang membuatnya candu. Chalk menjebaknya, pria itu memasukkan Charlie palsu untuk Cloud bawa yang berujung pada perkelahian dan membawanya ke dalam jeruji besi.


Hingga datang seseorang yang membebaskannya.


"Mengapa kau menyelematkanku??" Cloud berdiri dibelakang punggung sosok pria yang membebaskannya.


Pria itu berdiam, dan membalikkan tubuhnya untuk menatap pria yang di sukai adiknya. "Kau tidak perlu menanyakan prihal, mengapa aku membebaskanmu, Cloud. Kau fikirkanlah jalan hidup mu dengan baik. Berhentilah sebelum semuanya terlambat meskipun kedepannya kau akan merasa kesulitan."


Sosok pria itu adalah Ayden. Ya, Ayden yang telah membebaskan Cloud setelah ia mengetahui jika Cloud tertangkap. Ayden mencari tau tentang sosok yang disukai adiknya sebelumnya.


Setelah berbaur dengan ingatannya, Cloud bangkit guna memindahkan pakaiannya ke dalam lemari dan segera ia bersiap untuk datang ke hotel milik Chalk.


🍂🍂🍂


Ditempat yang berbeda. Petter menunggu Alana di depan butiknya. Alana pun keluar untuk menemui teman sekelasnya. "Ada urusan apa kau kesini Petter." Alana melipat kedua tangan, di depan pinggangnya.


"Hai Alana," Petter melambaikan satu tangannya, menyapa ramah. "Aku dengar Cloud mempunyai seorang kekasih." Katanya seraya menegakkan tubuhnya dari posisinya tadi, bersandar di mobil.


"Lalu, kenapa?" Alana berbalik bertanya, seolah tidak mengerti tujuan ucapan dari teman sekelasnya itu.


"Kau berbalik bertanya? Oh ayolah Alana kau jangan melupakan taruhan kita. Apa perlu aku menceritakan lagi, apa taruhan yang kau ucapkan."


"Aku membatalkan taruhannya." Singkat Alana. Ia mengetahui sosok pria yang di depannya. Playboy kelas kakap. Bibirnya terlalu manis, untuk meluluhkan lawan jenisnya. Bahkan Paula pernah berkencan dengannya.


Petter menautkan kedua alisnya. Ia tidak menerima pembatalan Alana yang sepihak. "Tidak semudah itu Rosalinda."


"Alana, namaku Alana. Bukan Rosalinda." Meskipun ia menyukai telenovela yang sempat booming itu, Alana tidak mau disamakan dengan Rosalinda yang memiliki kisah cinta yang sangat rumit. Bisa-bisanya si ibu tiri dari Fernando memisahkan sejoli itu. Lupakan... Itu hanya telenovela.


"Tepati janjimu Alana untuk berkencan denganku semalaman."


"Sudah aku katakan, Aku membatalkannya. Aku sudah mempunyai seorang kekasih, Petter." Elak Alana dengan kebohongan. Kekasih? kekasih darimana. Ck.


"Kau jangan berbohong Alana."


"Aku mengatakan yang sesungguhnya Petter. Aku mempunyai kekasih." Lagi-lagi Alana berkata bohong.


Alana terdiam, dan diamnya membuat Petter tersenyum kemenangan.


"Sayang... Kau sudah datang rupanya." Alana melebarkan senyumannya, seraya memeluk tangan kekar pria yang baru saja turun dari mobil. Ayden Pastone.


Ya pria itu sudah kembali dari Atlanta. Setibanya di airport tadi, Ayden cuss langsung meluncur ke butik setelah mendapatkan kabar keberadaan Alana. Beruntung, Ayden datang tepat waktu. Alana bisa meminta bantuannya, meskipun ia pasti tau jika Ayden tidak akan menolongnya dengan cuma-cuma.


Ayden mengerutkan dahinya seraya menatap Alana, tidak mengerti. Dia cukup terkejut, kedatangannya disambut Alana suka cita, dan di awali kata sayang. Satu kata membuat jantungnya jedag-jedug tidak karuan.


Alana berulang-ulang mengedipkan kedua matanya memberi kode. Pria itu melirik ke arah Petter, lalu ia tersenyum penuh maksud. Drama... Aku akan mengambil kesempatan.


"Ya.. Seperti yang kau lihat. Begitu aku sampai, aku langsung kesini untuk menemuimu. Kau tidak merindukanku, sayang?" Ayden berkelakar hingga menunjukkan gigi putihnya. Alana membulatkan matanya menatap Ayden, dengan senyuman yang dibuat-buat.


"Ya.. Aku merindukanmu." Jawab Alana. Ia terpaksa menjawab pertanyaan Ayden agar Petter mempercayainya.


"Kau tidak ingin memelukku?" Ujar Ayden lagi. Ia semakin menarik kedua sudut bibirnya, seraya merentangkan kedua tanganya.


Asyeeem, dia mengambil keuntungan dariku. Lihat saja nanti...


Alana segera masuk kedalam pelukan Ayden, berpura-pura mencurahkan rasa rindunya. Padahal di dalam dekapan Ayden ia berkali-kali mengumpat pelan. Ayden bisa mendengar suara Alana meski suaranya sangat pelan.


Ayden masih tersenyum. Lalu di kecuplah puncak kepala Alana, dan menghirup wangi mawar dari rambut legam gadis itu. Sontak tindakannya, membuat Alana mengeram kesal.


Lima menit kemudian Ayden melepaskan pelukannya, dan membalikkan tubuhnya mengarah ke hadapan Petter. "Ah sorry, membuatmu menunggu lama. Alana tidak ingin melepaskan pelukannya." Tutur Ayden. Alana yang mendengar semakin geram.


"Kau pasti putra tuan Parker? Benarkan?" Ayden mengulur tangannya dan disambut baik oleh Petter.


"Ya kau benar... " Kedua pria itu saling berjabat tangan. "Namaku Ayden."


"Petter," singkatnya. "Senang bisa berkenalan denganmu." ucapnya.


"Sebaiknya aku pergi Alana, sampai berjumpa lagi di kampus."


Kepergian Petter tidak bisa membuat Alana bernapas lega. Ia harus dihadapkan pria yang ia anggap kekasihnya tadi. Kekasih sementara. "Lepaskan tanganmu yang mesum itu dari pinggangku."


"Jika aku tidak mau bagaimana?"


Alana mengerjapkan matanya berulang-ulang sukses membuat Ayden terpaku dengan bulu mata lentik milik Alana.


Gadis itu berhasil melepaskan diri, kemudian ia memundurkan langkahnya, menjaga jarak aman.


Ayden pun terseyum tipis. "Jangan menjauh dari ku, sayang."


"Menggelikan. Dramanya sudah selesai."


"Bagaimana jika kita melanjutkannya dengan serius?"