Reckless

Reckless
CEMBURU



"Jangan menjauh dariku, sayang." kekeh Ayden melihat Alana bersungut kesal.


"Menggelikan, dramanya sudah selesai!" seru Alana meninggikan suaranya. Maniknya yang hitam menajam, dengan dagunya sedikit terangkat.


Ayden terkekeh. Ia melangkah, kembali dekat dengan Alana. "Bagaimana jika kita melanjutkannya dengan serius?" bisiknya. Ia tersenyum penuh pesona untuk membuat lawan bicaranya jatuh pada pesona yang terletak di senyumannya. Berharap, Alana kepincut seperti wanita-wanita yang mengangguminya.


"Jangan berharap," hardik Alana dengan gusar. "Aku tidak mau. " Tolak Alana tanpa melepas tatapan tajam yang jelas menampilkan kemarahannya.


Melihat kemarahan gadis incaranya, Ayden tidak memudarkan senyumannya. Tidak patah hati dengan penolakan Alana dengan terang-terangan, Ayden justru semakin bersemangat untuk merebut hati gadis yang terpaut usia lima tahun darinya. Jiwanya tertantang.


"Kau sungguh menolak pria sepertiku?" tanya Ayden begitu percaya diri.


Pria sepertiku...Heh. Alana berdecih. "Sudah ditolak, masih bisa-bisanya dia narsis." Ia mencibir dengan nada suara pelan.


"Kau berbicara apa? aku tidak mendengar."


Alana mendongakkan wajahnya. "Baguslah, kau tidak mendengarkannya." Kemudian, Alana mengalihkan tatapannya untuk menghindari tatapan mata Ayden yang intens. Terlebih bibir pria itu yang nampak ranum, mengusiknya.


Ayden semakin mempersempit jaraknya dengan Alana. "Kau belum menjawab pertanyaan pertamaku Alana," kepalanya di miringkan untuk meninjau raut wajah Alana."Kau sungguh menolak pria sepertiku?" ulangnya lagi.


Alana mendorong wajah Ayden dari hadapannya. Kedua kakinya menghentak, lalu ia berbalik menaiki dua anak tangga, untuk kembali masuk ke dalam butiknya. Ayden membuang napasnya, seraya tersenyum. Ia pun mengikuti Alana.


Bertepatan mereka masuk, pelanggan Alana melihat kearah keduanya dengan berbagai tatapan. Tatapan kagum, cemburu, iri seperti itulah. Tapi Alana mana peduli. Ayden pun demikian, ia tersenyum lebar berbanding terbalik dengan Alana yang tersenyum masam.


Keduanya membawa kaki mereka masuk ke ruangan Alana. Alana langsung duduk di belakang meja kerjanya sedangkan Ayden masih berdiri memandang ke suluruhan ruangan kerja Alana. Tampak rapi, bersih, dan juga wangi. Ayden melihat disisi kiri ada tiga patung manekin yang berjejer disudut ruangan, satu mesin jahit, dan di sebelah kanan ada satu lemari rak yang terdapat beberapa piala perlombaan, yang menjadi atensinya kini.


Ayden mendekati lemari yang berwarna hitam, melihat-lihat hasil prestasi dari pujaan hatinya. Satu hal yang Ayden mengerti, Alana kerap mengikuti perlombaan fashion. Membanggakan. Ayden melihat satu persatu piala tersebut.


"Kau sering mengikuti perlombaan rupanya." Alana melirik sekilas ke pria yang sibuk memperhatikan piala miliknya.


"Ya," jawab Alana singkat, seraya melanjutkan pekerjaannya yang tadi sempat tertunda karena kedatangan Petter.


Ayden masih di depan rak, maniknya berhenti pada potret Alana yang terlihat anggun menggunakan gaun hitam tengah dirangkul seorang pria. Desainer rupawan Jonathan Simkhai, foto itu diambil saat Alana mengikuti perlombaan di New York.


Tiba-tiba suasana hati Ayden memanas melihat foto tersebut. Dia cemburu.


"Kau ingin minum apa Ayden?" tanya Alana memandang Ayden. Ayden pun menoleh. "Jangan meminta wine, karena minuman itu tidak ada. Aku hanya mempunyai soft drink dengan aneka rasa."


"Soft drink dengan batu es yang banyak untuk memadamkan api yang membakar hatiku."


Ayden terburu-buru membuka frame. Ia mengambil foto Alana dengan si disainer yang seenaknya merangkul Alana, dan menyelipkan foto tersebut ke dalam saku celananya. Secepat kilat, Ayden meletakkan frame yang sudah kosong ke tempat semula, dan ia duduk di atas sofa dengan bersandar santai sambil bernyanyi. Bahkan ia menganggukkan kepalanya mengikuti nyanyiannya. Benar-benar 🙄


Alana membawakan dua kaleng soft drink, serta gelas kaca yang sudah terdapat batu es, dan menaruhnya diatas meja. "Thanks baby."


Mulai lagi. Alana hanya memutar bola matanya, ia tidak ingin menjawab atau sekedar protes. Lebih baik ia menyelasaikan pekerjaannya. Sore nanti, keduanya sepakat untuk pergi ke Philadelphia's Magic Gardens atau yang disebut taman ajaib yang terletak Sount Street.


Ayden, dan Alana sudah menciptakan hubungan pertemanan. Mereka kerap bertukar kabar meski Ayden yang always menghubungi Alana terlebih dahulu. Alana masih tetap bersikap seperti biasa, namun Alana pernah menunjukkan perhatian kecilnya kepada Ayden saat asam lambung pria itu kumat. Suatu kemajuan, bukan.


Ayden membuka penutup kaleng soft drink, dan menuangkannya di gelas miliknya. "Apakah masih banyak pekerjaanmu, Alana? " ia pun menyesap soft drinknya.


Alana melirik Ayden sekilas. "Tidak, tinggal satu disain lagi." Alana memfokuskan lagi dirinya pada kertas, dan pensilnya. Tidak menghiraukan Ayden yang kembali bernyanyi. Justru ia terseyum kecil mendengar suara pria bertatto itu, suaranya cukup bagus. Serak- serak macho, kelaki-lakian.


"Suaramu cukup bagus, kenapa kau tidak menjadi seorang penyanyi Ayden?" Alana menutup buku sketsanya, ia sudah menyelasaikan pekerjaanya.


"Kau barusan memuji ku??" bukannya menjawab pertanyaan Alana, justru Ayden memberi pertanyaan.


"Memuji suaramu," jelas Alana sembari merapikan meja kerjanya.


Ayden tersenyum lagi. "Tidak berminat, aku menyanyi hanya karena hobi."


Alana mengangguk paham. "Kau bisa bermain musik?" tanya Alana lagi seraya mengeluarkan lipgloss, dan cermin kecil dari dalam tasnya.


"Tentu, aku bisa bermain gitar, piano, dan... " kalimatnya begitu saja terhenti, ketika netranya melihat pergerakan Alana yang sedang mengaplikasikan lipgloss di bibir. "Bibirmu.. " lanjutnya.


"Dasaar meesum!" Alana melepaskan satu sepatu flatnya, lalu melepar alas kakinya itu ke arah Ayden. "Oh astaga, " Ayden mengelus dadaa bidangnya karena selamat dari petaka. Lalu, ia memijat pelipisnya, dan suara tawanya begitu saja mengudara.


Diambilah sepatu flat berwarna gading itu yang jatuh dekat kakinya. Ayden pun berdiri, dan mendatangi Alana yang masih duduk dengan wajah yang merengut.


Ayden meluruhkan tubuhnya dengan satu kakinya di tekuk. Pria itu mengangkat satu kaki Alana, dan meletakkan diatas kakiinya.


Apa yang dilakukan Ayden, sukses membuat Alana terperanjat. "Ka-Kau mau apa?" maniknya tidak lepas memandang Ayden yang kini memasangkan kembali sepatunya. Kemudian Ayden mendongakkan wajahnya, membalas tatapan Alana.


Alana melipat bibirnya. Dirasakan kini, jantungannya berdetak-detak dengan kencang. Tatapan pria itu bagaikan sihir, Alana sama sekali tidak berkutik. Terlebih apa yang tadi pria itu lakukan terhadapnya. Sangat..Sangat romantis. Alana menyukai tindakan spontanitas pria berkemeja navy itu.


Alana menurunkan kakinya. "Te-terima kasih, dan bangunlah Ayden." Ayden membasahi bibirnya, ia tersenyum.


Hayooo yang ikutan tersenyum seperti mas Ayden siapa?? 😏